Yang Tukang Ngomong, Itulah Tukangnya

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Metpagikamis para sanak-kadang penggiat dan pejuang sidang dewan majelis takelim Jemaah Fesbukiyah yang memuliakan kemuliaan sejati doang dan bukannya yang loyang peyang bergoyang-goyang. (1) Mungkin hari-hari ini kita telah sampai pada perenungan yang ke-tiga, yang paling mutakhir. Bahwa, kehidupan harus berjalan dengan kesadaran baru. Meski sudah didengungkan lama oleh para filsuf; Bahwa yang abadi hanya perubahan. Tak ayal kita harus selalu siap dengan perubahan. Jadilah bagian dari perubahan, ujar Mahatma Gandhi nan kurus kering. Ketidaksiapan menghadapi perubahan, akan membuahkan penderitaan terus-menerus. Karena itu, manusia adaptif, manusia fleksibel, lebih bisa mengatasi dan menghadapi masalah. Bukan manusia fleksibel dalam arti ela-elu, ngentir kali, atau tak punya kepribadian. Melainkan manusia terbuka, tidak puritan, tidak phobia terhadap apapun, walhal mengaku dirinya lebih baik dan unggul dari orang lain. Manusia terbuka ialah manusia yang independen, mandiri, tidak mengalami kemelekatan apalagi tergantung pada ustadz dan kya kanjeng abal-abal, apalagi kemelakatan pada Cendana. Manusia merdeka ialah manusia yang proporsional, tidak kepo dan curiganation. Eling lan waspada justeru karena kehidupan adalah hidup, bukan mati. Kalau mati, berarti tidak hidup. Semua orang juga tahu! 

 

(2) Bagi yang ingin meributkan istilah Presiden Jokowi, apakah ini new normal atau new armada? Apakah ini berdamai dengan corona atau lawan corona? Nggak penting di sini. Nggak penting segala macam istilah itu. Presiden punya produk kebijakan politik sebagaimana orangtua mempunyai anak. Ia menamai sesuai kesukaan dan keyakinan. Urusan dia. Seperti seniman Pardiman Djojonegoro, ketika anak pertamanya lahir, ingin dinamainya Unggul Sukses Selalu. Namun karena rekan produksinya tak setuju, padal yang mengandung selama 9 bulan, Pardiman akhirnya menamai anak lelakinya agak sedikit berbudaya; Jagad Mellian Tejo Ndaru. Tapi Pardiman tetap memanggilnya ‘Unggul’. Baru jadi persoalan bagi kita, kalau kita peduli, apakah anak itu untuk tujuan baik atau buruk, diurus dengan benar atau tidak. Pada kenyataannya, Indonesia termasuk negara di dunia yang penanganan covid-19 dinilai masih lebih baik daripada Italia, India, Amerika Serikat, meski masih kalah dengan Singapura, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru. Tapi jangan lupa, ada kabar bagus yang tak bakal disampaikan Refly Kadrun maupun Kata Didu dan sebangsatnya, bahwa Kejagung berhasil menyita harta senilai Rp 17 trilyun dari kasus korupsi Asuransi Jiwasraya, sementara nilai utang premi ke nasabah sebesar Rp 13 trilyun. Artinya para peserta asuransi boleh nyicil ayem. 

(3) Berita terbaru, ketika AS rusuh secara nasional, rupiah kita menguat. Bahkan menguat dari berbagai mata uang negara lain seperti poundsterling, yen, yuan, dollar AS, Singapura dan Australia. Meleset dari hitungan para ahli ekonomi termasuk Faisal Basri dan apalagi Rizal Ramli. Bagaimana bisa? Ada baiknya ikuti perdebatan Goenawan Mohamad dengan kanca-kancanya, meski agak berat. Tapi, bukan hanya GM; skeptisisme soal ‘kepastian’ sudah lama disodorkan Mbah Kyai Albert Einstein. Bahkan katanya, tidak ada kepastian dalam segala yang pasti. Semakin pasti, justeru semakin tidak pasti. GM cs telah mewarnai medsos dengan wacana yang berbeda. Rasanya jauh lebih bermutu dibanding seminar maupun webinar yang selalu ‘ngotot’ dengan istilah kebebasan akademik atau kebebasan demokrasi. Padal kualitas materi dan pematerinya jauh dari ilmu dan pengetahuan. Coba saja renungkan, kenapa orang kota nan modern justeru menjadi korban utama pandemic viruscorona? Apakah mereka tidak mengetahui informasi hidup sehat? Tidak well-informed tentang iptek? Bahkan dari sejak anak raja, Perdana Menteri, Menteri, Bupati, Walikota terkena Covid-19. Juga dokter yang doktor, paramedic, tak sedikit yang gugur di medan tugas karena virus yang sedang ditanganinya itu. Sementara, sebelum Najwa Shihab bingung soal perbedaan ‘pulang kampung’ dan ‘mudik’, orang gunung dan desa lebih sehat-sentausa tak terkena coronavirus. 

(4) Kenapa manusia gunung dan desa jauh lebih sehat, jauh lebih punya antibody yang ampuh dalam membentengi dari serangan virus? Karena mereka tak banyak mengkonsumsi racun buatan peradaban dan industry modern. Udara gunung dan desa lebih kaya dengan ion negative yang positif bagi tubuh manusia. Sementara peradaban modern dipenuhi ion positif yang banyak negatifnya untuk tubuh manusia. Eksploitasi teknologi atas nama hedonisme, telah membuat manusia modern lebih rentan terhadap berbagai racun dan berbagai jenis yang kita namai bakteri, jamur, atau virus. Masih ingat apa yang dikatakan Bill Gates, bahwa vaksin anti corona baru bisa diproduksi massal 2021? Sekarang saja bisa, tanpa vaksin. Yakni dengan mengubah gaya hidup dan pola konsumsi kita. Mau new normal atau new abnormal, tergantung sudut pandang dan kata keterangan berikutnya. Juga, jangan percaya ajakan social distancing, karena kita lebih bisa berbahagia sebagai makhluk sosial. 

(5) Kita boleh mengistilahkan berubah ke norma baru, yakni meninggalkan kebiasaan buruk kemarin menuju ke kebiasaan (yang sebetulnya bukan baru) lebih sehat. Kita juga boleh mengistilahkan berubah dari pola baru ke pola lama. Yakni hidup biasa saja, sak-madya, sederhana, prasaja. Tidak termakan tipuan gaya hidup modern, yang eksploitatif, yang menyebabkan kita sering menjadi tidak realistis. Gegedhen empyak kurang cagak. Nafsu gedhe tenaga kurang. Seperti bulan merindukan pungguk (ini lebih tidak realistis daripada Cuma pungguk merindukan bulan, apa paklan nggak cemburu?). Kayak mau jadi presiden tapi cuma modal sentimen agama dan rasis. Tidak usah ngotot. Woles aja kali. Jangan kayak kadrun dalam tempurung. Bikin bendera PKI, dibakar sendiri, terus teriak PKI sendiri. Kalau tukang roti selalu teriak roti, tukang gas selalu teriak gas, tukang minyak selalu teriak minyak, maka tukang PKI tentu juga teriaknya PKI mulu. Kayak orang bikin seminar sendiri, dibatalin sendiri, eh, ngomong mereka diteror atau diancam mau dibunuh. Tapi mereka tidak tahu, siapa yang mengancam. Hambok kalau berani kayak Socrates. Meski bakal dibebaskan, asal mau mencabut tesisnya, Socrates tetap memilih hukuman minum racun demi kebebasan akademik. Sementara yang selalu ngomong kebebasan akademik, tak bisa membuktikan benarkah mereka bebas? Jangan-jangan mereka tahanan dari pribadi comberannya? Apalagi yang suka ngarep uang receh, dengan jualan agama dan kebebasan akademik. If money is your hope for independence you will never have it, ujar Henry Ford. Karena mereka yang memiliki dunia ini ialah yang mempunyai cadangan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan, untuk berubah. Untuk yang ulangtahun hari ini, metultah! 

 

(Sumber: FB @sunardianwirodono)

 

 

Thursday, June 4, 2020 - 15:15
Kategori Rubrik: