Yang Tersisa dari Jamuan Presiden untuk Netizen

Ilustrasi
 
Pasca pertemuan para netizen yang pro Jokowi (27 Januari lalu), syak wasangka terus saja digulirkan para haters presiden. Namun tuduhan mereka (haters) banyak yang ngasal daripada iktikad baik. Artinya tuduhan itu membabi buta. Beberapa tuduhan sempat dijawab oleh salah satu netizen di status facebooknya pagi ini. Beliau adalah Muhammad Jawy. Berikut kami cuplikkan sebagian "catatan" yang sempat diunggahnya...
 
Tapi nanti dulu. Kawan-kawan yang ingin dapat oleh-oleh dari Pak Jokowi segera mengantri di belakang beliau. Mas Sunandi minta ditandatangi komik KOPPIG-nya. Ada yang minta tandatangan di buku, ada juga (Erwin Hartono) yang minta supaya anaknya dibuatkan tulisan untuk selalu belajar oleh Presiden seperti yang di gambar ini. Saya kebetulan memang nggak minta apa-apa, karena lebih memikirkan supaya sepatu saya bisa survive hingga acara selesai.

Acara dilanjutkan dengan foto bersama, dan salaman. Ada yang memberi oleh-oleh ke Presiden berupa buku. Kemudian kita terus bubar, Presiden lanjut ke tempat lain, Menuju ke tempat penyimpanan barang, karena HP dan tas tidak boleh dibawa masuk, kami sempat ngobrol sebentar dengan Pak Johan Budi. Beliau mengetahui bahwa dunia medsos Indonesia sangat terkotori dengan pemberitaan hoax, fitnah, kebencian. Pak Johan akan berusaha untuk mencarikan sumber informasi yang dibutuhkan dari kementrian dan lembaga terkait, supaya lebih banyak berita berbasis fakta akurat daripada hoax dan kebencian di medsos. Terimakasih Pak Jo!

Malam sampai di Batam, saya mendapat banyak notifikasi di Facebook, ada kawan-kawan yang menyelamati karena bisa berdialog langsung dengan Pakdhe Koppig. Namun banyak sekali juga yang menyebarkan berita ini untuk kemudian kami dicaci-maki, dan dituduh berbagai macam hal. Ya saya sampaikan kepada kawan-kawan ini memang resiko. Namun saya belajar dari Pakdhe Koppig, untuk membiarkan saja, mereka mau berbuat apapun, tidak perlu ditanggapi dengan serius.

Yang pasti, kami dihujat karena makan-makan dengan anggaran negara, uang rakyat. Ya memang ini anggaran negara. Kami juga rakyat. Kemarin juga diundang rekan kompasiana, supir dan tukang ojek, pak Kusrin, mereka semua juga rakyat. Saya pribadi juga kadang diundang oleh kantor pemerintah lain untuk dialog, memberi konsultansi, pendampingan, dan juga pasti dijamu. Silakan tanya kepada Ahok, Aher, Rano Karno, M Ridwan Kamil, dkk mereka pun pasti mengundang rakyat ke kantornya untuk dialog dan dijamu. Yang saya tahu, menjamu rakyat itu bisa pakai dana operasional kepala negara/daerah, ataupun dari pos rutin di Setneg/Rumah Tangga.

Dan istana tidak hanya menjamu makan, tapi juga bagi undangan yang jauh, tiket kereta/pesawat bisa di-reimburse. Namun saya pribadi memang minta supaya tidak perlu di-reimburse, baik tiket pesawat PP Batam, tiket kapal dua kali, dan penginapan dua malam. Buat saya, yang saya keluarkan tidak sebanding dengan pengalaman saya untuk bisa menyaksikan ketulusan dan kerja keras pemimpin negeri ini.

Ada juga yang menghujat kami sebagai pasukan bayaran, pulang diamplopin, dan mencari posisi di tempat empuk. Demi Allah, kami sama sekali tidak menerima amplop, dan memang tidak berharap diamplopin. Dan juga tidak ada niatan untuk mencari posisi, dan memang tidak ada urusan dengan posisi di sana. Jadi menyitir perkataan pak Tomi Lebang, banyak orang yang mengukur baju orang lain tapi pakai badan sendiri. Menganggap orang lain akan berperilaku seperti dirinya sendiri.

Kami membantu menyukseskan program pemerintah juga tanpa pamrih, tidak pernah kami menerima dan berharap sepeserpun dari kepemimpinan sekarang. Saya sebagai orang Islam, hanya ingin melaksanakan ajaran untuk menaati ulil amri, mendoakannya, dan mengkritiknya dengan cara yang baik, sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama muktabar.

Mungkin cara pandang kami yang berbeda dengan para penghujat. Kami menganggap bahwa yang diharapkan dari periode ini adalah progress, bukan kesempurnaan. Jika kemarin kita punya skor 60, maka kita tidak perlu muluk2 di akhir periode skor jadi 90 atau 100. 70 atau 75 pun sudah bisa dibilang ada progress, sehingga tidak semua kekurangan harus menjadi ajang hujatan dan caci maki. Karena kami menyadari, problem itu tidak hanya di lapisan elite politik, tapi juga di birokrasi yang masih banyak bermasalah. Dan butuh proses tidak sebentar untuk mereformasi birokrasi yang sudah terlanjur rusak.

Nah demikian catatan petualangan dari saya, mungkin ada banyak detail yang terlewat, karena memang acara sangat singkat, dan pikiran sempat terpecah antara was-was sepatu jebol di tengah dialog, dan menahan godaan untuk tidak mengambil nasi tambah.

Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan dari catatan petualangan ini. Semoga ada manfaatnya.

 
 
Saturday, January 30, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: