Yang Sunah itu Monogami bukan Poligami

Ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Kiranya khalayak perlu membaca buku karya Dr. KH. Faqihuddin Abdul Kodir, MA yang berjudul 'Sunnah Monogami: Mengaji Al-Qur'an dan Hadits.' Buku ini memang istimewa dan tepat hadir di tengah maraknya budaya poligami. Jika dahulu praktik poligami dianggap tabu, tetapi kini justru dibuka secara terang-terangan tanpa malu.

Konyolnya, dewasa ini poligami dijadikan--semacam--ajang lomba, menjadi kebanggaan bagi para suami. Cara melakukan poligami pun kini diseminarkan dan diminati banyak orang. Padahal kalau saja mau membaca buku karya Pak Faqih tersebut, akan sampai pada pemahaman bahwa yang sunah itu monogami bukan poligami.

Maraknya praktik poligami ini harus dijadikan pembelajaran bagi para perempuan untuk berhati-hati ketika hendak menikah. Perempuan boleh meminta calon suaminya untuk kelak tidak melakukan poligami. Selain komitmen untuk saling memuliakan dan tidak mudah melarang-larang istrinya.

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS. An-Nisa [4] : 3). Kalau kita mau jujur memahami ayat ini, sebagaimana dipahami (ditafsirkan) oleh para ulama yang ramah perempuan, termasuk Pak Faqih di dalamnya, maka spirit dari ayat ini justru menganjurkan sunah monogami, ketimbang poligami.

Ayat di ataslah yang selalu dijadikan dalil poligami. Bahwa poligami--katanya-- syariat Islam yang digariskan Al-Qur'an. Poligami adalah sunah Rasul karena Rasul berpoligami. Lebih ekstrem lagi bahwa suami yang hendak berpoligami tidak perlu izin dari istri pertamanya. Jauh lebih parah dari itu kini justru para perempuan Muslimah sendiri yang meminta dirinya dipoligami.

Rasulullah saw., memang poligami tetapi tidak sejalan dengan berbagai praktik poligami yang sekarang marak terjadi. Praktik poligami yang tanpa izin istri, poligami tidak adil, poligami karena menikah dengan perempuan yang lebih cantik, lebih muda, lebih kaya daripada perempuan yang menjadi istri pertamanya. Spirit poligami yang jauh dari spirit poligami Rasulullah.

Kalau benar poligami murni 'sunah Rasul', tidak mungkin Nabi saw., 'mengancam' supaya menantunya sahabat Ali bin Abi Thalib tidak mempoligami putri tercintanya Siti Fatimah Az-Zahra. Itu artinya kita tidak boleh sembarangan menganggap poligami Nabi saw., dengan poligami orang-orang awam sebagaimana kita.

Lagipula mestinya kita harus selalu ingat bahwa pernikahan itu perjanjian berat. Akad persaksian kita bukan hanya kepada masing-masing pasangan, orang tua, mertua, sabak keluarga dan masyarakat, tetapi yang lebih utama kepada Allah Swt. Poligami sesungguhnya praktik yang awalnya dekat dengan selingkuh yang kemudian dilegalkan. Poligami sesungguhnya mencederai janji setia pernikahan.

Saya ingin menutup catatan ini dengan maqalah indah berikut ini: laisa fii qalbi hubbaani kamaa laisa fil wujuud Rabbaani; tak ada dalam satu hati dua cinta, sebagaimana tak ada dalam satu wujud dua Tuhan.

Sumber ; Status facebook Mamang Haerudin

Saturday, October 7, 2017 - 22:15
Kategori Rubrik: