Yang Menganggap HTI di Kubu Jokowi, Kalian Sontoloyo

Oleh: Winata Ali

Merekrut Yusril bukan berarti menggandeng HTI. Yusril itu lawyer, jadi pengacaranya paslon 1 meski gratisan itu sebuah branding yang tak bisa dinilai dengan uang.

Yusril itu politikus yang biasanya opportunis. Dia bisa membaca arah angin dan peta politik, sehingga cenderung memilih bergabung dengan kubu calon pemenang ketimbang berada di kubu calon pecundang.

Yusril bukan representasinya HTI meski dia jadi pengacaranya HTI. Seorang oportunis itu ibarat peselancar yang hanya mau terjun ke laut pada saat ada ombak besar. Yusril selalu ingin eksis di kasus kasus berskala nasional yang nilai publisitasnya besar.

Hanya karena Yusril merapat ke kubu paslon no 1 lantas anda menganggap HTI ada di kubu Jokowi, dan mengabaikan kejadian beberapa hari yang lalu ketika ribuan benda padat membawa bendera bendera hitam dan meneriakkan nama Prabowo Sandi di Monas, artinya anda pengamat politik kelas ecek ecek yang analisanya sangat dangkal dan tidak bermutu.

HTI jelas jelas satu barisan dengan FPI berada di kubu paslon 2. Coba lihat semua akun FB yang PP nya hitam hitam bendera HTI, pasti benda padat itu pro paslon no 2. HTI memusuhi Jokowi yang merilis Perpu Ormas yang menjadi dasar membubarkan HTI. Mana mungkin HTI berada di kubu paslon no 1.

Yang menganggap HTI ada di kubu Jokowi, kalian sontoloyo. Lebih baik jadi pengamat perlontean saja, jangan sok jadi pengamat politik.

 

Sumber : facebook Winata Ali

Wednesday, November 7, 2018 - 20:00
Kategori Rubrik: