Yang Kita Hadapi Adalah Kejahatan

Oleh: Mohammad Monib

 

Beberapa minggu sy memperhatikan isi media sosial yang berisi para pendukung 02. Sy cermati pula aneka komentar mereka kepada tokoh yang pro 01.

Saya sempatkan mengikuti lebih dari 7 grup WA milik pendukung 02.

 

 

Sungguh, sy setuju dengan hasil pengamatan kawan2 yang menyimpulkan, bahwa saat ini yang terjadi bukanlah tentang persaingan dua kandidat presiden. Bukan lagi kontestasi dua calon untuk dipilih dalam Pemilu yang demokratis. Tidak.

Sungguh, yang terjadi adalah KEJAHATAN yang menebar angkara murka. Tak ada kedamaian, tak ada kesantunan. Tak ada toleransi. Mereka tak kenal kebaikan. Doktrinnya, Indonesia ini ini wilaya perang (darul harbi). Jadi, segala tipu daya dibolehkan. Segala kebengisan dipersilakan. Segala keculasan dan kelicikan dibebaskan. Segala fitnah dikemukakan.

Jangan pernah mencoba memberi nasehat kepada mereka. Itu perbuatan sia-sia. Jangan pernah memberi penjelasan tentang kebaikan dan perlunya menjaga kesopanan. Itu sungguh percuma.

Logika mereka adalah logika perang. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada tenggang rasa. Dalam perang, yang harus dilakukan adalah membuat kerusakan sebesar-besarnya di pihak musuk. Dalam pikiran mereka, bagaimana agar membuat kerugian sehancur-hancurnya pihak musuh.

Menyerang, menyerbu dan membunuh. Menghancurkan, melenyapkan, membinasakan. Membumihanguskan, meniadakan.

Jangan coba-coba engkau ingatkan pada Pancasila. Jangan coba-coba mengajak bersaing sehat atau saling menghagai. Hahahaa. Anda hanya akan ditertawakan.

Mereka sudah mengisi benaknya dengan satu pemikiran: Bahwa Jokowi harus dilenyapkan!. 2019 harus ganti presiden!!!. Tidak ada kebaikan di sisi KH Ma'ruf Amin. Kyai ini menurut mereka, adalah penjual agama yang memalukan.

Saya tidak tega menulis apa saja caci maki mereka kepada Jokowi maupun Kiai Ma'ruf Amin. Cukup Anda ingat saja sejarah, bagaimana kejinya gerombolan Khawarij yg menuding-nuding Sayyidina Ali Karramallahu wajhahu rodliyaallhu anhu. Cukup engkau rasakan bagaimana ganasnya Ibnu Muljam membunuh menantu, keponakan, dan sahabat Rasulullah SAW itu.

Kekejian yang dilandasi doktrin agama, dilandasi kebencian yang mengatasnamakan ajaran agama, tak akan bisa Anda pahami dengan teori-teori ilmu Psikologi. Bayangkan saja, orang macam itu membantai Sayyidina Husein dan keluarganya yang terdiri atas wanita dan anak-anak.

Tak ada rasa kasihan, tak ada rasa penyesalan. Tak ada rasa bersalah, apalagi merasa dosa. Tidak!. Mereka merasa telah menggenggam kebenaran. Merekalah pihak yang MUTLAK BENAR.

Sedangkan Sayyidina Ali, Sayyidina Husein, atau dlm konteks sekarang adalah Jokowi, Kiai Ma'aruf Amin, adalah orang yang salah, buruk, nista. Musuh agama. Musuh Islam. Maka Harus dihancurkan. Harus dihabisi atas nama Islam!. 
Sekali lagi. Atas Nama Islam!.

Bila mereka menang, maka leher Anda harus siap ditebas. Kepala Anda harus siap digelindingkan. Tubuh Anda akan dicabik-cabik atau digantung. Istri-istri Anda atau saudara perempuan Anda akan diperkosa atau dijadikan budak sex sesuka-suka. Anak-anak Anda akan dilarang sekolah dan dijadikan prajurit mereka atau disuruh kerja paksa.

Ulama Anda, guru Anda, akan ditembak mati di majlis, atau dibom ketika ngimami shalat. Atau diberondong senapan ketika khotbah.

Suriah sudah nyata begitu keadaannya. Target berikutnya adalah Indonesia.

 

(Sumber: Facebook Mohammad Monib)

Tuesday, February 12, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: