Yang Kalah Tetap Dihormati

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
 
Meski faktanya Mekkah menyerah tanpa syarat, namun Nabi SAW tetap menghargai dan menjaga nama baik Abu Sufyan.
 
Cara penghormatannya menarik, yaitu dalam pengumuman saat menjelang pasukan muslimin masuk kota MEkkah dalam peristiwa Fathu Mekkah. 
 
Siapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, maka dia aman.
 
Minimal nama Abu Sufyan tetap disebut-sebut dalam pengumuman itu. Dan diakui sebagai orang yang dihormati lewat pengumuman bahwa rumah Abu Sufyan adalah rumah yang aman untuk berlindung.
 
Padahal, lengkapnya pengumuman itu asalkan tidak keluar rumah, dia aman. Di rumah saja sudah dijamin aman, ngapain juga harus repot-repot ngungsi dan berlidung di rumah Abu Sufyan segala?
 
Itu logika kita dan sebagian orang. 
Tapi Rasulullah SAW tetap mengumumkan siapa yang berlindung di rumah Abu Sufyan dia dijamin keamanannya. Buat apa?
 
Biar bagaimana pun Abu Sufyan adalah orang terpandang, terhormat dan juga orang pintar. Kalah di dalam Fathu Mekkah pastinya bikin mentalnya jatuh, sedih, dan terguncang jiwanya.
 
Kalau sampai dihina, dimaki, dicaci, dibuli, dihinakan gara-gara kalah, tentu amat kasihan. Dan Islam tidak mengajarkan hal-hal yang tidak manusiawi seperti itu. Tujuan dakwah Islam itu bukan untuk pelimpahan uneg-uneg kekesalan.
 
Maka alih-alih mencaci-maki, justru Rasulullah SAW menjaga nama baik Abu Sufyan, menangkat namanya, menjaga citranya, melindungi marwahnya. Biar bagaimana pun juga, Abu Sufyan adalah mertua Rasulullah SAW.
 
Ini adalah jejak kecil bagaimana Islam adalah agama yang sangat humanis, musuh yang kalah pun tetap dijaga nama baiknya.
 
Bagaimana dengan kita? Sudah kah kita jaga nama baik saudara kita sendiri? Atau justru sebaliknya, saudara muslim kita sendiri malah kita korek-korek terus kelemahannya, kita telusuri semua cacatnya, kita pantau terus kapan dia keseleo lidah, semua itu untuk bahan bakar utama dan diumbar ke publik dan jadi tema buli-bulian yang viral?
 
Apakah sudah kita perlakukan saudara muslim kita sebaik Nabi SAw memperlakukan musuh yang kalah?
 
Hanya nurani kita yang bisa jujur menjawabnya. Tanyakan pada nurani, dia bening dan jujur. Tapi berani kah kita bertanya kepada nurani? Tidak usah dijawab.
 
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.,MA
Friday, June 14, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: