Yang Jauh Dipikirkan, Yang Dekat Dibiarkan

ilustrasi
Oleh : Johan Wahyudi
 
"Sampeyan itu lucu banget. Mosok orang-orang yang sedemikian jauh dipikirkan, tapi tetangga dekat dibiarkan. Itu namanya terbalik-balik, Mas" komentar teman suatu hari. Bagi yang tak kuat menahan emosi, mungkin bakalan adu jotos. Nggak ikut bantu, tapi malah mencaci....
Jangan. Jangan mudah marah. Entar detak jantung makin cepat dan kencang. Akibatnya fatal. Anda bisa terserang penyakit jantung. Masih beruntung kalo selamat. Iya to....
Cemoohan seperti itu sudah jadi santapan sehari-hari. Bukan hal baru. Karena apa pun yang kita lakukan pasti ada orang yang suka dan benci. Biarin aja...
Tetangga yang miskin sangat layak dibantu. Bahkan harus. Bahkan wajib. Tak boleh tidak harus dibantu. Kita nggak mungkin bisa hidup sendirian. Iya kan...
Masalahnya, membantu tetangga tentu sering kita lakukan. Saking seringnya itu, kadang malah bikin risih alias pekewuh. Dimana-mana tetangga itu cerita kemana-mana. Kepada siapapun yang dijumpai. Akibatnya fatal bagi kita yang membantu tadi. Apa itu? Yakni munculnya riya, pamer, hingga sombong.
Inilah yang sering dilupakan. Kita yang bantu jadi risih dengan tetangga yang lain. Bahkan kadang muncul iri. Si itu dibantu, tapi kok dia tidak dikasih. Akhirnya muncul benih protes dan cari kesalahan. Akibat yang paling fatal adalah hilangnya keikhlasan.
Coba kita perhatikan di keluarga kita sendiri. Sesama saudara pasti saling bantu. Itu pasti dilakukan. Entah diminta entah tidak.
Masalahnya, sering muncul orang ketiga. Ada orang yang sekali datang dan baru sekali itu membantu, tapi sering muncul fitnah. Apa fitnahnya?
"Itu sih fulan kok kebangetan banget ya. Saudaranya dibiarkan miskin. Tapi dia malah suka membantu orang lain, bukan mendahulukan saudaranya" begitu kira-kira. Dan cerita itu sering banget terdengar.
Berbeda halnya dengan membantu orang lain yang kita tidak mengenalnya. Kita datang. Kita serahkan. Kita pamit. Sudah, itu saja. Rasanya ke hati itu kayak minum es kelapa muda pas panas matahari jam 12.00 siang
Meskipun sebenarnya kita hanya membantu sekadarnya, coba dengerin doa-doanya. Orang yang kita bantu itu puluhan kali berucap terima kasih dan berdoa berkali-kali. Saking khusuknya berdoa, orang itu bisa menangis dan kita pun turut iba dan ikut menangis...
Coba perhatikan ilustrasi ini. Orang di daratan butuh perahu agar bisa menyeberang. Sebaliknya, orang yang naik perahu butuh daratan karena tersesat di tengah lautan. Coba kita mau bekerja sama dan bahu-membahu. Insya Allah kita akan selamat dunia akhirat bersama-sama. Aamiin yra..
 
Sumber : Status Facebook Johan Wahyudi
Monday, September 21, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: