Yang Fahira Idris Tidak Tahu Tentang Starbucks

Oleh : Angga Widitama

Untuk pegawai kantoran, gerai kopi asal Seattle, Amerika ini adalah teman kerja, sekaligus teman melepas penat sehabis bekerja. Sebagai pegawai kantoran, segelas Americano atau segarnya Iced Machiatto sangat membantu mengembalikan motivasi bekerja. Atau, mengistirahatkan pikiran sejenak.

Di kursi-kursinya yang nyaman dan ruangan berpendingin itu, saya yakin sudah banyak keputusan-keputusan besar yang diambil, tulisan-tulisan yang telah diterbitkan, dan, mungkin, jodoh dipertemukan! Ya, itu semua dari sebatas segelas kopi. Ah, kalau soal ini pasti Uni Fahira pasti juga tahu.

Untuk kaum milenial, gerai Starbucks menjadi penanda status sosial mereka. Bayangkan, mana ada anak muda sekarang yang segan membawa sebotol es orson berkeliling di dalam mall, bahkan mengunggahnya di akun instagram mereka dengan caption 'Es Orson, mantap soul!' Patilah tidak ada. Alih-alih tahu namanya, melihat bentuk Es Orson pun saya yakin mereka tidak pernah.

Tapi, coba perlihatkan kepada mereka sebuah cup dengan logo putri duyung berwarna hijau yang nampak sedang melakukan split. Pastilah, kaum muda kita itu akan cepat mengidentifikasinya sebagai Starbucks. Pun jangan ditanya soal menu andalannya, mereka sudah menghafal menu yang terlihat instagramable. Ah, kalau soal ini pasti Uni Fahira pasti juga tahu.

Untuk para petani kopi di Simalungun, petani kopi di Takengon, petani kopi di Flores Bajawa, petani kopi di Mandailing, petani kopi di Kintamani, Starbucks lebih dari sebuah kedai kopi. Sejak awal berdiri di Pike Place Seattle hingga menjadi Starbucks Corporation dengan ratusan gerai di seluruh dunia, Starbucks telah berkomitmen mendukung para petani lokal di negara-negara penanam biji kopi.

Di awal tahun 2017, untuk pertama kali Starbucks Corporation mengenalkan Sustainable Coffee Challenge yang memiliki 60 keanggotaan yang terdiri dari: produsen, penjual retail, roasters, importir, hingga penikmat kopi dari seluruh dunia untuk melakukan pendampingan kepada petani kopi rekanannya. Tak main-main, hampir 100 juta Dollar dialirkan untuk misi ini.

Termasuk di Indonesia. Starbucks yang hak lisensinya dipegang oleh PT Sari Coffee Indonesia juga telah banyak melakukan dampak positif kepada para petani kopi lokal. Sebut saja di Simalungun, sebuah desa yang berada di dataran tinggi Danau Toba. Awalnya, penjualan green bean (kopi beras) tak pernah baik. Petani tidak bisa bergantung pada penjualan biji kopi mereka karena selalu merugi di tingkat pengepul.

Hingga di tahun 2011, Starbucks Origin Experiences datang untuk melakukan pendampingan kepada petani kopi selama dua tahun lamanya. Mereka diajarkan cara pembibitan kopi, membuat dome untuk pengeringan biji kopi mentah, hingga menyesap rasa kopi yang mereka tanam (cupping). Tujuannya sederhana, agar mereka tahu kualitas kopi mereka baik atau buruk.

Hingga di tahun 2016, produk biji kopi asal desa ini dapat menyasar pasar Amerika dan memiliki tempat di Pike Place Special Reserved Coffee  bersanding dengan kopi-kopi kenamaan asal Amerika Latin dan Afrika.  Sama halnya di Tapanuli Utara. Di Desa Hutaginjang, Starbucks Origin Experiences meneliti tentang kesalahan pembibitan kopi di sana. Dikarenakan faktor konservasi alam yang buruk, serta minimnya kualitas hidup petani di desa itu membuat kopi bukan menjadi komoditas utama. Sehingga, pembibitan kopi dilakukan ala kadarnya.

Padahal, biji kopi dari desa ini masuk dalam kategori unggulan. Selama dua tahun, Starbucks Origin Experiences membantu dalam hal konservasi alam. Dari kawasan yang terkenal tandus dan minim pohon karena kerusakan hutan, asosiasi ini berhasil mengubahnya menjadi kawasan tangkapan air.

Komitmen dan motivasi petani pun bangkit setelah mendapat bibit kopi yang unggul serta lingkungan yang mendukung. Kopi bukan lagi menjadi komoditas sampingan, kopi telah menjadi komoditas utama di desa ini. Hidup petani pun telah sepenuhnya bergantung pada biji kopi setelah ruang ekspor ke negara-negara di Amerika dan Asia dibuka.

Usaha perusahaan ini bersama petani lokal bukanlah tanpa alasan. Sejak beberapa tahun silam, dunia ekspor-impor mengenal istilah fair trade. Di bidang biji kopi, perusahaan semacam Starbucks wajib membeli minimal 90% biji kopi dari petani atau koperasi kopi lokal untuk dijual di gerai-gerainya.

Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam asosiasi Fair Trade juga mewajibkan peningkatan kualitas hidup petani di negara-negara sasarannya, baik memberikan pendidikan, mendirikan sekolah, mendirikan koperasi, hingga bantuan kesehatan. Hal ini pun berlaku juga di Inonesia. Lihatlah hasilnya pada petani-petani kopi di Flores.

Ah, Uni Fahira Idris pasti tidak tahu tentang ini. Yang beliau tahu, Starbucks adalah perusahan pendukung pernikahan sesama jenis yang pantas dan harus diboikot. Yang petani kopi tahu, perusahaan yang mendukung pernikahan sesama jenis ini telah mengangkat kualitas hidup mereka. Sementara, yang kaum LGBT tahu, sesesap kopi tidak akan merubah orientasi seksual seseorang.  **

Sumber : qureta

Tuesday, July 4, 2017 - 13:00
Kategori Rubrik: