Yaman Menangis di Bulan Muharam

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Selepas jemaah haji kembali ke tanah air masing-masing dan pulang membawa kenangan manis bertamu ke rumah Allah. Selepas orang membalas panggilan Tuhannya, Labbaik Allahuma Labaik, lalu tersungkur di depan Kabah. Selepas para jamaah berpamitan kepada Nabinya, dengan meneteskan air mata di bawah kubah makam. Selepas doa-doa peziarah dipanjatkan untuk penghuni pemakaman Baqi.

Pesawat tempur Saudi Arabia, membawa ratusan kilo bom, ikut berlepaslandas dari pangkalan militernya. Pesawat-pesawat itu bergerak ke arah selatan, menuju sebuah negara kecil, Yaman. Negara dengan kekayaan alam yang masih belum dieksplorasi dan cadangan minyak yang segudang.

Mereka terbang rendah lantas menjatuhkan ratusan bom ke arah masyarakat di bawahnya. Saudi meniru AS yang hanya berani menggunakan drone untuk menyerang Libya, Irak dan Suriah. Setelah Yaman luluh lantak, pasukan darat yang terdiri dari kaum ekstrimis Al Qaedah menunggu giliran untuk masuk.

Ini adalah Muharram, bulan yang diharamkan untuk berperang. Ini adalah Muharram, salah satu bulan suci umat Islam, agama yang diyakini orang Saudi maupun Yaman. Tapi rezim Saudi menghiasi bulan ini dengan darah. Persis seperti pasukan Abu Ziyad yang membasahi tanah Karbala dengan darah kekuarga Nabi, ratusan tahun lalu.

Minggu lalu bom dijatuhkan tepat di tengah berkumpulnya ribuan orang yang sedang menghadiri uoacara doa. Mayat bergelimpangan. Sebagian hangus terbakar. Bau sangit meruap ke udara yang kering. Anak-anak menjerit menahan perih. Bongkahan daging berhamburan bersama bunyi tulang yang patah.

Musim haji ini, tidak ada rakyat Yaman yang berkesempatan menziarahi makam Rasulullah. Rezim Saudi melarangnya masuk ke negara kerajaan itu. Bukan hanya dinistakan dengan invasi militer, rakyat Yaman juga dihalangi mengadukan nasibnya ke makam Nabinya. Dilarang bertamu ke rumah Allah untuk melaksanakan rukun Islam.

Sejak delapan bulan invasi militer Saudi, yang disokong AS dan Israel, puluhan ribu rakyat Yaman tewas. Sebagian adalah anak-anak dan perempuan. Seluruh infrastruktur negeri itu hancur. Menyisakan kesengsaraan warganya.

Tragedi kemanusiaan ini terjadi dari perang yang --tanpa disadari-- ikut dibiayai oleh para jemaah haji dan umroh, dengan devisa yang mereka bawa ke Saudi Arabia. Tentu saja ini ironi yang menyakitkan. Imperium Saudi seperti memperalat umat Islam untuk ambisi politiknya.

Tapi rakyat Yaman, yang terkenal gagah berani itu, tidak akan bungkam. Mereka melawan. Mereka tahu, ini soal keadilan. Ini soal harga dirinya sebagai bangsa dan sebagai manusia.

Rakyat Yaman tahu, mereka sedang menghadapi kebengisan yang dibungkus jubah agama...

 

(Sumber: www.ekokuntadhi.com)

 

 

Tuesday, October 11, 2016 - 10:15
Kategori Rubrik: