Yakin Mau Kasihani Sandiaga?

ilustrasi

Oleh : Rahmatika

Gara-gara beredar cerita Sandiaga Uno diusir dari Kertanegara karena nggak mau ikutan ulah Prabowo, banyak yang jatuh kasihan dan bersimpati padanya. Begitu juga saat kemarin akhirnya Sandiaga muncul mendampingi Prabowo Subianto yang (lagi-lagi) deklarasi kemenangan dengan muka melas seolah terpaksa dan tampak kurang nyaman hadir di sana. Banyak sekali orang jatuh iba.

Nggak guys, KITA NGGAK PERLU KASIHAN pada SANDIAGA UNO ini.

Kita ini jangan naif-naif amat jadi orang. Iya, baiknya kita tak mendendam, tapi jangan pernah lupa dengan pattern kelakuan seseorang. Pola perilaku itu sebenarnya jauh lebih bisa mendefinisikan apakah orang tersebut layak kita pahami, maklumi, kasihani, beri simpati, atau tidak. Bukan hanya dengan satu-dua kejadian saja.

Sandiaga Uno bagaimanapun adalah orang yang ikut ambil bagian, diuntungkan, dan menikmati hasil dari politisasi agama di DKI Jakarta pada Pilkada 2017 lalu. Saya akan selalu mengingat bagaimana kubu Anies Baswedan-Sandiaga Uno menggunakan politisasi mayat dan ayat di Pilkada itu untuk menang. Saya nggak akan lupa Anies yang katanya menenun kebangsaan malah muncul di Petamburan. Menggadaikan ideologi menjadi pelacur politik dengan menjual SARA buat saya dosa tak termaafkan. Karena efeknya sampai sekarang masih sangat terasa.

Bukannya insyaf, saat sudah resmi jadi Gubernur dan Wakil Gubernur pun, baik Anies maupun Sandi juga banyak menunjukkan keberpihakan pada kelompok yang mendukung mereka.

Kemudian Sandi naik jadi Cawapres mendampingi Prabowo. Adakah dia bertaubat dari cara politiknya yang lama? Nggak. Dia tetap membiarkan kelompok Islam radikalis menitipkan narasi SARA pada kampanye Prabowo-Sandi. Mereka tetap saja jualan agama. Nggak berubah.

Padahal kabarnya Sandi adalah salah satu sumber pendanaan kampanye. Artinya, dia sebetulnya bisa meminta dan memaksa supaya narasi SARA itu diubah. Tapi dia sepertinya menikmati sematan sebagai santri post modernisme yang diberikan oleh PKS. Lihat siapa yang akhirnya menikmati keuntungan ini, PKS suaranya 8 persen sementara Gerindra gagal memenuhi target.

Sandi membiarkan dirinya menjadi badut politik. Dengan menaruh pete di atas kepala, dengan mengatakan tempe setipis ATM, dengan mengusung nama orang-orang yang kita bahkan nggak tahu mereka ini nyata atau fiktif, dan masih banyak lagi yang sudah dia lakukan.

Jadi buat saya lucu kalau kemudian kita naif mengatakan "Kasihan ya Sandi..". Lha buat apa dia dikasihani?

Dalam Pilpres 2019 ini kandidat terkaya itu Sandiaga Uno. Saya baca di berita Liputan6, hartanya menurut laporan ke KPK Agustus 2018 sebesar triliun. Sahamnya saja naik 1 triliun dari 3,7T ke 4,7T selama 10 bulan jadi Wakil Gubernur. Andaikan benar berita yang dulu sempat dicelotehkan Andi Arief soal kardus-kardus itu, hitungannya Sandiaga ini nggak rugi. Ia cuma kehilangan 1 triliun yang dia dulang dalam 10 bulan jadi Wagub. Lha Anda kira-kira butuh waktu berapa lama bisa mengumpulkan 1 triliun itu?

Sandi akan tetap kaya. Besar kans dia bisa jadi Wakil Gubernur kembali. Posisi seseorang di politik akan berdampak pada saham perusahaan yang berkaitan dengannya. Nggak jadi Wagub pun, Sandi akan balik jadi pengusaha. Membeli perusahaan, 'mempercantiknya', dan menjualnya lagi. Dengan mudah dia akan mengembalikan uang yang sudah Ia keluarkan dalam kampanye sembari mungkin menciptakan momentum untuk 2024.

Tapi, sampah yang ditinggalkan akibat ulah politik Sandi baik saat bersama Anies Baswedan maupun Prabowo Subianto sulit sekali diurai. Mirip-mirip sampah plastik yang susah didaur ulang dan bahkan masih berbentuk meski sudah puluhan tahun dibuang.

Kondisinya sekarang polarisasi SARA makin kuat. Kelompok radikalis yang menunggangi mereka punya panggung. Elektabilitas PKS meningkat karena kaum konservatif dan radikalis memilih mempercayakan ke sana. Kita semua tahu bagaimana cara PKS berpoliitik. Belum lagi aksi gila Prabowo yang terus menerus mengaku dirinya yang jadi pemenang Pilpres. Di bawah sana, banyak yang menelan mentah-mentah hal ini dan mengimaninya.

Sandi itu sebetulnya punya pilihan. Dia tahu betul Prabowo seperti apa. Tahu orang-orang yang sekoalisi dengannya seperti apa. Tapi dia memilih tetap bersama dan ambil bagian sesuai plot yang mereka susun. Itu yang tidak akan kami lupa meski foto muramnya membuat banyak orang jatuh iba.

Sumber : Status Facebook Kinanti Arayu

Saturday, April 20, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: