Yakin Masih Ingin Poligami?

Ilustrasi

Oleh : Agus Salim

"Bapak tunggu saja di luar". Perintah ibu bidan yayan padaku.
"Tidak bu, saya mau mendampingi istri saya melahirkan". Jawabku meyakinkan.
"Kasus yang sudah-sudah banyak suami setelah menyaksikan istrinya proses melahirkan mereka trauma, tidak mau lagi menggauli istrinya, bahkan tidak sedikit menjadi lemah syahwat pada istrinya sendiri karena trauma melihat proses lahiran istrinya, mungkin karena ngeri melihat banyak darah salah satunya". Kata bidan lagi menjelaskan.
"Ah, tidak apa-apa bu, saya akan baik-baik saja, saya sudah biasa berdarah-darah dan menyaksikan banyak darah". Kataku meyakinkannya lagi.
"Ya sudah kalau begitu, ikuti intruksi saya selama istrimu proses melahirkan".

Ibu bidan yayan menyuruh pembantunya untuk menyiapkan teh hangat, konon perempuan yang tengah proses melahirkan akan merasa rileks jika sambil minum teh hangat, teh hangat itu sudah di siapkan di meja samping tempat pembaringan istriku, sambil menunggu ibu bidan menyiapkan segala sesuatunya, aku dudukkan istriku, aku sandarkan tubuhnya padaku, perlahan aku bantu minumkan teh hangat itu padanya
"Nok takut kang". Suaranya lirih mengadu padaku
"Takut kenapa?". Tanyaku
"Takut gagal menjadi seorang ibu".
"Husssstt... ga boleh ngomong gitu, putus asa itu bukan ciri umat kanjeng nabi, sudah berdoa saja, di niati ibadah, pasrahkan pada Allah segalanya". Nasehatku

Ibu bidan sudah menyiapkan segalanya, istriku di baringkan sedikit menyandar padaku, Tarik nafas, hembuskan, mengejan, kira-kira seperti itu perintah ibu bidan pada istriku, sementara saya hanya di perintah mengelap keringat di dahi istriku dan meminumkan teh hangat saat istriku kelelahan, satu jam kemudian kepala anak pertamaku sudan tampak keluar separoh sebesar bola kasti, namun istriku kehabisan tenaga, nafasnya tersengal, ia tak sanggup lagi meneruskan jihadnya, aku terus menyemangatinya, istriku hanya menggelengkan kepalanya
"Dorong lagi bu, kepalanya sudah keluar separoh, kasihan dedenya kejepit". Seru ibu bidan pada istriku, istriku hanya menggeleng kepala tak mampu lagi berkata
"Pakaikan masker oksigen". Perintahnya padaku, segera aku pakaikan, ibu bidan mengambil gunting kecil, aku melihat dengan jelas ketika gunting silver itu merobek kewanitaan istriku untuk melebarkan jalan keluar bagi anakku, istriku menjerit kesakitan, darahnya mengucur dengan derasnya, oh tuhan, aku fikir sakitnya 10 kali lipat saat aku di khitan masa kecil dulu.

"Ayo dorong, mengejan lagi". Seru ibu bidan pada istriku, entah sudah berapa kali suntikan istriku menerimanya, sedikitnya mungkin 3 kali suntikan, kata bidan suntikan-suntikan itu untuk memudahkan proses melahirkan.
"Saya tidak mau pasien saya sesar, selagi masih memungkinkan normal saya usahakan meskipun lama". Kata bidan yayan pada kami.
Setelah dua jam lebih, akhirnya anak pertamaku lahir, namun pucat pasi, tidak menangis, tidak bergerak, bayi mungil itu tergeletak, ibu bidan kemudian menghandukinya, di goyang-goyangkan anakku, di tepuk-tepuk punggungnya, sesaat kemudian anakku menangis, aku menyaksikan perlahan bayi pucat itu memerah, bayi mungil itu di serahkan pada ibunya untuk di dekapkan di dada dan di susui, sesaat kemudian bayiku di bersihkan, di selimuti dan di taruh di ranjang khusus.

"Bapak adzani dan iqomatkan dulu anak bapak, baru kemudian bantu saya lagi".
"Astaghfirullah, saya sampai kelupaan bu".
Usai meng-adzani anak, saya membantu membersih bercak-bercak darah wiladah, ada yang menggumpal, ada yang cair, ada yang pekat.
"Siapkan kantong keresek". Perintah ibu bidan, kemudian aku menyaksikan tangan ibu bidan masuk ke dalam bagian kewanitaan istriku dan 
mengeluarkan sebongkah daging seukuran bola sepak, aku masukkan "ari-ari" itu dalam kantong plastik untuk kemudian di ritualkan sesuai adat setempat.

Duh, setelah menyaksikan perjuangan dan pengorbanannya melahirkan anakku membuatku tak sempat berfikir untuk melukai perasaanya dengan poligami.

Sumber : Status Facebook Agus Salim

Friday, October 27, 2017 - 19:00
Kategori Rubrik: