Xiami, Jualan HP Atau Komunisme?

Ilustrasi

Oleh : Joko Santoso

Xiaomi mulai menerapkan faham Komunis, dengan mengharamkan keuntungan diatas 5% untuk penjualan ponselnya.
---------

Ponsel Xiaomi selama ini terkenal karena harganya yg murah namun memiliki spesifikasi setara dengan ponsel merk lain yg jauh lebih mahal. Xiaomi bahkan mulai merilis Mi 6X yg cuma akan dibandrol di kisaran Rp.3,5 juta padahal speknya setara ponsel seharga 6juta ke atas.

Kebanyakan orang selalu mengira bahwa Xiaomi menjual ponselnya dengan harga lebih murah karena kualitasnya jelek.
Namun sesungguhnya harga yg murah itu disebabkan karena Xiaomi mematok profit yg sangat rendah untuk setiap penjualan ponsel mereka, yaitu cuma berkisar 3%-5% saja. Sangat berbeda dengan ponsel merk lain yang keuntungannya 25% atau bahkan 50% seperti IPhone

Hal ini tidak mengherankan karena pemilik Xiaomi, Lei Jun, adalah petinggi Partai Komunis China. Sehingga falsafah bisnisnya mengadopsi faham sosialis komunis yg tentunya mengharamkan profit margin tinggi yg biasanya dilakukan oleh kaum kapitalis.

SEJARAH NAMA XIAOMI

Bila menilik sejarahnya, Lei Jun menggunakan nama Xiaomi yg diambil dari slogan Partai Komunis China yaitu "Xiaomi Jia Buqiang” (小米加步枪) yg artinya “Beras & Senapan”.
Sehingga jelas falsafah komunis diaplikasikan pada bisnisnya.

KOMUNIS vs. KAPITALIS

Faham komunis mengharamkan pebisnis meraup keuntungan yg besar karena dianggap menyebabkan penindasan, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial.

Sementara faham kapitalisme menganggap orang yg pintar & diberkati sangat boleh & sangat berhak meraup keuntungan besar, sementara orang yg malas & bodoh layak diadzab/ditulah dengan kemiskinan.

Oleh karena itu jangan heran jika dalam dunia bisnis kapitalis, cukup banyak konsep-konsep bisnis yg menjanjikan laba yg brutal, mulai dari 50%, 100% atau bahkan 1000%, dan kadang bahkan ada konsep bisnis dengan laba yg spektakuler tanpa perlu susah payah.
Salah satu contoh bentuk kapitalisme sejati dalam bisnis ponsel adalah Apple Iphone yg laris manis sekalipun menjual produknya dengan harga tinggi dan profit margin yg selangit.
Apple yg notabene merk asal Amerika sudah pasti menganut model bisnis kaum kapitalis karena Amerika adalah biangnya negara kapitalis.

Sementara dalam faham komunis, profit brutal ala Iphone dianggap suatu "keserakahan" yg divonis haram hukumnya.
Dengan alasan "pemerataan untuk rakyat", faham komunisme mematok profit margin bisnis yg sangat rendah dan bahkan dibatasi maximum 5% seperti yg diterapkan Xiaomi.
Di artikel saya sebelumnya telah dibahas bahwa Apple mereguk keuntungan Rp.2juta per unit ponselnya, sementara Xiaomi cuma Rp.25ribu saja. Seperti itulah kontrasnya laba yg dipatok oleh pebisnis berfaham kapitalis dan komunis.

Kebijakan bisnis model Komunis yg berani jualan dengan untung tipis membuat produsen berfaham kapitalis merasa terancam. Oleh karena itu tidak mengherankan jika akhirnya ponsel Xiaomi dilarang/dipersulit di Amerika dengan alasan merk Xiaomi mengusung simbol-simbol komunisme.
Seperti kita tahu Amerika adalah salah satu negara yg hingga kini masih alergi dengan faham komunis. Dan senator-senatornya memanfaatkan UU anti komunis untuk menjegal penjualan Xiaomi di Amerika.

FALSAFAH UNTUNG TIPIS PRODUK NEGARA KOMUNIS AKAN MENGANCAM PEBISNIS KAPITALIS

Selama ini kaum pebisnis di Indonesia menganut model bisnis kapitalis. Cukup banyak pelaku bisnis di Indonesia yg mereguk keuntungan tidak hanya 50%, tapi 100%, 200%, bahkan 1000% !!
Ini tidaklah mengherankan karena semenjak berkuasanya rezim Orba puluhan tahun yg lalu, konsep bisnis Indonesia berkiblat pada Amerika, sehingga gaya bisnis kapitalis lah yg banyak digunakan di Indonesia. 
Namun kini Indonesia tidak lagi berkiblat pada Amerika, dan dengan makin banyaknya produk china dengan harga murah yg memborbardir Indonesia, membuat kaum kapitalis Indonesia terkejut dengan model bisnis Komunis yg mematok keuntungan sangat tipis.

Menjual barang dengan "cuan tipis" (profit rendah) memang merupakan gaya bisnis komunis, dan karena itulah produk dari china yg notabene merupakan negara komunis semuanya murah, bukan karena jelek, tapi memang mereka ambil untungnya tipis sesuai falsafah komunis.
Contoh nyata nya adalah Xiaomi. Pengguna Xiaomi tentu tahu bahwa Xiaomi bukan barang jelek. Tapi faktanya harganya sangat murah (dengan alasan agar terjangkau rakyat). Memang begitulah ciri ponsel komunis.

PEMERINTAH KITA JUGA DITUDUH KOMUNIS GARA-GARA JUAL MURAH

Beberapa waktu yg lalu sempat beredar isyu / hoax yg menuduh pemerintah kita berhaluan komunis.
Sebenarnya isyu ini bermula gara-gara kekesalan para kontraktor swasta yg kalah bersaing bisnis dengan BUMN yg berani ambil tender proyek dengan untung amat tipis ala komunis.

Pengusaha kontraktor swasta Indonesia yg selama ini notabene menganut faham kapitalis, sudah terbiasa berbisnis dengan profit margin yg tinggi (apalagi untuk tender besar), sehingga ketika berhadapan dengan BUMN yg semboyannya kerja-kerja-kerja dan berani untung tipis, pebisnis gaya kapitalis yg berharap laba tinggi langsung kejang-kejang kehilangan harapan.
Dan karena kesal, kaum pengusaha itu akhirnya mencap pemerintah menganut "gaya Komunis" yg membunuh pengusaha swasta (kapitalis)

MODEL BISNIS KOMUNIS AKAN MENGHANTAM PENGUSAHA BERGAYA KAPITALIS

Falsafah bisnis kaum komunis memang akan membuat resah pebisnis bergaya kapitalis.
Di Indonesia selama ini gaya bisnis yang dipakai pengusahanya adalah model kapitalis. Makanya banyak pengusaha Indonesia yg kaya raya mendadak karena bisa jualan dengan keuntungan 100%, 500% dan bahkan 1000%.
Adanya kompetitor bisnis yg menganut faham komunis dan berani jualan dengan untung tipis, jelas akan membuat resah & gelisah pengusaha kapitalis Indonesia.

Sebab bila sebelumnya bisa mematok keuntungan fantastis dimana dengan hanya jualan 1 barang saja sudah bisa membuat seluruh stok balik modal, hal semacam itu tidak dimungkinkan lagi bila ada kompetitor bisnis berfaham komunis.

GELAK TAWA YANG BERUBAH JADI KESUNYIAN

Dulu kaum kapitalis bisa tertawa-tawa sambil mereguk anggur kemenangan yg dituangkan di cawan emas.
Setiap kali ada barang laku terjual dengan harga tinggi, sayup-sayup terdengar suara gelak tawa terbahak-bahak dari dalam ruangan sang pedagang kapitalis.
Namun kini tawa mereka mendadak terhenti akibat adanya kompetitor kaum komunis yg jualan dengan harga murah & untung tipis.

KONSEKUENSI KOMUNISME

Para pebisnis kapitalis tentu akan mengeluh bila harus mengikuti profit margin ala komunis yg sangat rendah.
Sebab keuntungan cuma 5% mana cukup buat merawat koleksi mercy-nya dan membiayai 4 istrinya? Belum lagi jatah bulanan buat para gundik-gundiknya.

Sumber : Status Facebook Joko Santoso

Sunday, April 29, 2018 - 15:45
Kategori Rubrik: