Wong Jowo Ilang Jowone

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Seorang siswi dari sebuah sekolah di Sragen, Jateng, ke sekolah ndak pakai jilbab. Oleh pengurus 'rohis' di bully. Agaknya para 'rohisin' merasa punya peran sebagai 'pembela ngèslam'.

Persis seperti kata Kepala Sekolahnya, mereka, rohis, bertugas sesuai visi sekolah. Membikin seluruh warga sekolah menjadi 'mahluk' yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia . . .

Jadi si Siswi itu, dianggap tidak berakhlak, alih2 beriman dan bertakwa. Maka perlu di'bully'. Ini memang 'SOP' para pembela agama ngèslam.

Kepala sekolahnya juga dawuh begitu. Anak ini 'cuma' 1 dari 945 siswanya yang ndak pakai jilbab. Mungkin sengaja ndak nyebut jumlah itu ber-jenis kelamin, laki atau perempuan, agar lebih dramatis.

"Suatu saat anak ini akan dapat hidayah," ini komen tambahan bapak Kepala Sekolah. Doa memang, tapi nyinyir dan kêmlinthi . . .

Bupati Demak, ini juga di Jawa Tengah, beri hadiah taun baru. Surat Edaran nomer 450/1 Tahun 2020.

Isinya, imbauan agar tak menerima tamu saat waktu maghrib sampai isyak. Itu pukul 17.00 WIB - 19.00 WIB. Kenapa ?

Agar para keluarga bisa manfaatkan waktu tersebut untuk mengaji atau belajar agama dan pengetahuan umum.

Dikira para tamu itu datang tiap hari, dan dianggap seperti 'setan' yang ganggu orang ngaji . . .

Itulah kebiasaan wong 'ngèslam' terbiasa lihat dan treatment yang cuma ada di permukaan. Padahal semua ilmu bisa mencapai inti dan peroleh kebenaran dan kemajuan, jika terbiasa berpikir tentang 'isi'. Apa yang ada dibalik satu dan atau suatu 'materi'. Baik 'bendawi' atau 'non-bendawi'.

Einsten temukan 'energi' yang begitu dahsyat karena bisa 'mengintip' isi sebuah benda. Bukan cuma sampai dikupas kulit tampak isi, namun dipecah lagi jadi ber-atom2 . . .

Wright bersaudara bisa terbangkan rangkaian logam yang disebut pesawat terbang, karena bisa 'lihat' kekuatan daya tarik bumi. Yang tak nampak tapi kuat. Maka dibuat mesin yang kuat menahan tarikan bumi, dipasang 'sayap' seperti burung. Terbanglah 'rangkaian' logam itu. Dan orang 'ngèslam' pun kalau berangkat haji ke Mekah, ndak perlu naik onta lagi . . .

Padahal Yang Punya alam semesta sudah peringatkan jauh2 hari, 'Apakah gunung2 itu kau anggap diam ?'

Akibatnya ya seperti ini. Tak ada negeri Islam di dunia yang menonjol dalam kemakmuran dan pengetahuan.

Di Asia, dipimpin Jepang, Korea, India, dan China. Eropa, Turki yang 'ngèslam' dianggap londo 'kartu mati'. Negeri yang namanya ber-akhiran 'tan atau an', Uzbekkistan dipandang sebagai Eropa 'pinggiran'.

Benua Amerika, Afrika, Austalia, apalagi . . .

Apakah negeri Islam ndak pernah berjaya ?

Ooo . . . Pernah. Meski ndak begitu lama jika dihitung dalam tahun 'sejarah'.

Mengapa ? Silakan pelajari. Tentu saja tidak dengan cara belajar dan cara hidup yang 'kêmlinthi', tapi 'humble'. Kepala yang tunduk takzim mudah-kan serapan ilmu. Tidak dengan 'bengak-bengak', tapi 'ber-sepi'. Dalam diam, hati dan pikiran cenderung lebih jeli dan teliti.

Saya bersaudara dulu memang diajari, jika maghrib datang harus ada dalam rumah. Setelah itu memang waktu ngaji atau belajar. Tapi Bapak-Ibu ndak pernah katakan dengan kata2 yang 'tegas' dan 'sarngi'. Terselubung dan halus santun.

Memang ndak perlu keras dan kasar. Meski orang Surabaya, keluarga kami tetap Wong Jowo. Cukup dengan istilah 'surub' atau kadang 'candik ala'. Katakan dalam rumah, dengan suara pelan di sela cerita dan dongeng.

Sementara ada teman main yang setiap waktu sembahyang, bapaknya selalu memanggil dengan teriakan. Sak kampung mendengar. 'Sembayang, sembayang ! Mole ! Pulang !' Sambil mengurai ikat pinggang. Teman saya lari 'sipat-kuping', tunggang-langgang pulang.

Hasilnya ? Wwk wk wk . . .

Nama kedua anak kami pun, dulu sempat oleh guru Sekolah Dasarnya, dikomentari. Ndak 'Islami', kata para mereka. Cuma karena ndak pakai kata Zubaedah, Jusuf, Abdullah, . . .

Nama mereka, Narendra Ning Ampeldenta, dan Trang Sotya Ning Glagahwangi. Ndak Islami ? Silakan baca sejarah . . .

Jasmerah, kata Bung Karno. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Supaya bisa belajar dari 'kesalahan' sekaligus 'kebenaran' masa lalu. Agar tahu dan ingat 'sumber' dari mana kita berasal. Dengan begitu kita bisa jadi pinter, ber-ilmu, dan ber-adab . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Saturday, January 11, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: