Wisata Prostitusi "Halal" di Puncak

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Kalau anda jalan-jalan ke Puncak Bogor melintasi di daerah Cisarua anda pasti akan menjumpai toko-toko dengan label huruf Arab bertebaran di kanan kiri jalan. Entah itu money changer atau tokoh lain semuanya berbahasa Arab. Kemudian kalau ada sejenak menyempatkan diri turun di wilayah itu, anda akan menemui beberapa orang laki-laki Timur Tengah berseliweran di daerah tersebut, layaknya kampung halaman mereka sendiri.

Kemudian kalau anda masuk di perkampungan daerah tersebut jangan kaget anda akan menjumpai anak-anak kecil bertampang indo-arab berlari-lari di sekitar Anda. Siapakah anak-anak yang lucu dan imut tersebut ? Mereka adalah anak yang tidak berdosa dari hasil kawin kontrak ibu asli Sunda dan ayah asal Timur Tengah. Sejatinya kawin kontrak adalah cara "syari'ah" para pendosa itu untuk melakukan perzinahan dan bentuk prostitusi terselubung. Supaya terlihat kelakuan mereka halal, mereka akal- akalan melakukan kawin siri berjangka waktu tertentu alias kawin kontrak.

Keberadaan lokasi prostitusi bernuansa agamis di Puncak sudah terjadi puluhan tahun dan dibiarkan bebas oleh aparat pemerintah daerah dan keamanan setempat. Apakah mereka tidak tahu ? Preeettt. Semua orang waras tahu apa yang terjadi disana karena dilakukan secara terang benderang. Dan saat ini area prostitusi "bersertifikat halal" tersebut sudah merambah lebih jauh tidak hanya di Cisarua tapi sudah merambah ke arah sekitar Taman Bunga Cipanas. Di daerah tersebut kehidupan malam begitu hidup, hotel-hotel berdiri megah dan semuanya bernuansa Timur Tengah dengan label bahasa Arab.

Ini sebuah ironi, karena kedua daerah tersebut (Kabupaten Bogor dan Cianjur) telah memproklamirkan diri sebagai daerah bernuansa Islami yang kuat. Saya tidak tahu dimana aparat pemda di kedua daerah tersebut menyembunyikan otak dan akal sehatnya. Semua bentuk kejahatan bermuara ke selangkangan ini dibiarkan puluhan tahun tanpa tersentuh. Jadi kalo kemudian TV Perancis membuat acara investigasi kegiatan pelacuran di sana saya tidak kaget. Hanya sebagai anak bangsa, saya malu.

Menurut pengakuan beberapa orang yang saya tanya sering terjadi gesekan sosial antara penduduk lokal dan para turis Timur Tengah tersebut karena mereka sering mabuk dan membuat keonaran. Tapi semua diselesaikan oleh aparat desa dan keamanan setempat dengan tumpuan amplop di bawah meja mereka. Akhirnya pada penduduk apatis dan membiarkan kondisi ini berlarut-larut.

Secara psikologi sudah pasti fenomena mesum ini banyak merusak anak-anak dan generasi muda di daerah itu. Budaya kesantunan lokal hilang tertelan budaya Timur Tengah yang dibawa para turis maksiat tersebut. Masalah ikutan yang terjadi adalah status anak yang dilahirkan dari kawin kontrak tersebut. Mereka rata- rata tidak punya akte lahir. Dan yang terjadi supaya mereka bisa sekolah, terjadilah manipulasi dokumen legal mereka. Jadi jangan kaget kalau anak berhidung mancung putih khas indo-arab bernama Maman Suparman, Jajang Suranjang atau nama khas Sunda lainnya.

Sampai kapan hal ini akan dibiarkan ? Entahlah. Sistem pemerintahan yang korup membuat keberadaan wisata prostitusi "halal" semakin marak dan beranak pinak. Jadi jangan tersinggung kalau dalam tangan video di bawah sedikit melecehkan rasa kebanggaan kita sebagai sebuah entitas bangsa. Miris 

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Saturday, November 30, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: