Wisata Prostitusi “Halal” di Puncak

Ini sebuah ironi, karena kedua daerah tersebut (Kabupaten Bogor dan Cianjur) telah memproklamirkan diri sebagai daerah bernuansa Islami yang kuat. Saya tidak tahu dimana aparat pemda di kedua daerah tersebut menyembunyikan otak dan akal sehatnya. Semua bentuk kejahatan bermuara ke selangkangan ini dibiarkan puluhan tahun tanpa tersentuh. Jadi kalo kemudian TV Perancis membuat acara investigasi kegiatan pelacuran di sana saya tidak kaget. Hanya sebagai anak bangsa, saya malu.

Menurut pengakuan beberapa orang yang saya tanya sering terjadi gesekan sosial antara penduduk lokal dan para turis Timur Tengah tersebut karena mereka sering mabuk dan membuat keonaran. Tapi semua diselesaikan oleh aparat desa dan keamanan setempat dengan tumpuan amplop di bawah meja mereka. Akhirnya pada penduduk apatis dan membiarkan kondisi ini berlarut-larut.

Secara psikologi sudah pasti fenomena mesum ini banyak merusak anak-anak dan generasi muda di daerah itu. Budaya kesantunan lokal hilang tertelan budaya Timur Tengah yang dibawa para turis maksiat tersebut. Masalah ikutan yang terjadi adalah status anak yang dilahirkan dari kawin kontrak tersebut. Mereka rata- rata tidak punya akte lahir. Dan yang terjadi supaya mereka bisa sekolah, terjadilah manipulasi dokumen legal mereka. Jadi jangan kaget kalau anak berhidung mancung putih khas indo-arab bernama Maman Suparman, Jajang Suranjang atau nama khas Sunda lainnya.

Sampai kapan hal ini akan dibiarkan ? Entahlah. Sistem pemerintahan yang korup membuat keberadaan wisata prostitusi “halal” semakin marak dan beranak pinak. Jadi jangan tersinggung kalau dalam tangan video di bawah sedikit melecehkan rasa kebanggaan kita sebagai sebuah entitas bangsa. Miris 

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *