Wis Banter-Kleru, Ora Idep-Isin, Rai Gedhek

Oleh: Dimas Supriyanto

 

Warga Jogya punya kearifan lokal - dengan budaya Jawa halus sebagai induknya - namun juga sebaliknya, bisa mencemo’oh dengan telak. Langsung menghujam jantung. 

Sebagai orang Banyumas, Jawa Tengah, yang banyak berteman dengan warga Jogya, dan punya Pakde orang Jogya, saya intens mengamatinya

 

Misalnya, terhadap mereka yang asal ‘mbengok’ dan ternyata salah. Mereka menyebut, “Wis banter kleru” – artinya, sudah teriak kenceng tapi salah. ‘Banter’ punya tiga makna, keras, kencang dan bising. 

Radio yang diputar maksimal volumenye sampai kedengaran bising, disebut ‘banter’, tapi laju sepeda motor yang digas kencang juga ‘banter’ . Dua duanya berkonotasi negatif. 

Bayangkan di tengah konser band ‘Padi’, ada penonton yang teriak “Sephia!” padahal itu lagunya ‘Sheila on 7’. Di tengah konser ‘Dewa 19’, ada yang nyeletuk, “Balikin oh, balikin” padahal itu lagunya ‘Slank’. Atau nonton Isyana Saraswati tapi minta lagu “Mantan Terindah”, dengan teriak. Padahal itu lagunya Raisa. 

Orang Jogya akan mengolok dengan kalimat telak itu, “Wis banter, kleru !!”

HANUM RAIS, yang orang Jogya, anak Amien Rais, kini menjadi sosok yang layak diteriaki dan dicemooh dengan kata kata itu: “Wis banter ..kleru..!” Sudah terlanjur nge-‘gas’, mendramatisir ada penganiayaan Ratna Sarumpaet, ternyata hoax. Mengaku diri dokter, sok tahu membedakan mana luka penganiayaan dan luka operasi, belakangan kena dibohongi juga. Dokter ‘abal abal’, ternyata. 

Orang seperti Hanum Rais, seharusnya malu, ngumpet, ngilang, dan tak berani ketemu siapa pun. Tapi nampaknya dia seorang politisi yang sudah ‘sempurna’ mewakili kebebalan ayahnya, Prof. DR. Amien Rais. Tetap tak sedikit pun menunjukkan ekspresi rasa bersalah. 

Lagi lagi orang Jogya punya istilah untuk itu: “Ora Idep Isin”. Artinya, tidak tahu malu. 

Jika dia menuntut balik kepada orang yang mengolok olok dirinya, dia punya tambahan kelas baru untuknya: “Rai Gedeg”. ‘Rai’ adalah muka, sedangkan ‘gedeg’ adalah anyaman bambu yang dipakai untuk dinding rumah di desa. Di Jakarta berubah menjadi “Muka Tembok”. 

Orang Betawi lama malah menyebutnya “Muka Badak” karena badak terkenal akan ketebalan kulitnya. Nggak bisa merasa blass.

Barang tentu bukan Hanum Rais sendiri, yang “wis banter kleru”, “ora idep isin” dan “rai gedek”. Semua teman Ratna Sarumpaet dan pendukung 02 di kubunya, melakukan hal yang sama . Jangan sebut lagi Fahri Hamzah, Fadli Zon dan lainnya. Juga Nanik S Deyang, wartawan yang pertama mengedarkannya. Bahkan diduga menyusun ceritanya. 

Nampaknya mereka memang terlahir dan besar dengan itu : “ora idep isin” dan “rai gedek”. Karena ikut ikutan ‘mbengok’ dan salah : “wis banter, kleru”.

Tuesday, October 16, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: