Wiranto ditusuk (Senjata) NInja

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Sudah biasa ? Iya memang. Bukan sekali dua kelompok 'radikal' semacam ini menebar teror di dalam negeri. Bom Kampung Melayu dan Thamrin, sekedar contoh . . .

Sudah biasa juga karena banyak sekali rekam jejak kekerasannya di seantero dunia . . .

Malam menjelang, dua gadis cantik berambut pirang itu sedang mencari tempat untuk berkemah. Pegunungan Atlas merupakan tujuan wisata 'hiking' andalan negeri Maroko. Pegunungan itu seakan jadi pembatas sisi laut Atlantik dan gurun Sahara. Membentang sejauh 2500 km, lewati juga Tunisia dan Aljazair.

Tak dinyana bagi Louisa Vesterager Jespersen (24 tahun) dari Denmark dan Maren Ueland (28 tahun) dari Norwegia, malam itu jadi malam terakhir mereka. Di negeri 'Matahari Terbenam' ini, ternyata hari terakhir mereka memandang sang mentari.

Pagi hari tanggal 17 Desember 2018, keduanya ditemukan tewas mengenaskan. Leher mereka nyaris putus digorok . . .

Apa salah mereka ? Bagi keempat orang, asal kota Marakesh, mungkin tak perlu tahu. Satu diantara mereka ber-baiat pada pemimpin ISIS.

Dari sebuah video nampak seorang perempuan berteriak saat nyawanya jelang tercabut. Sebuah pisau dapur mengiris putus batang lehernya.

'Ini adalah balas dendam atas saudara kami di Hajine Suriah. Ini kepala kalian. Musuh Tuhan !' Teriak salah satu diantara mereka.

Apakah mereka mengerti kedua gadis itu bukan siapa2 bagi mereka ? Apakah mereka tahu, keduanya berasal negeri Skandinavia. Negeri yang tak ikut apa2 dalam pertempuran melawan 'kelompok' mereka ?

Mereka memang begitu. Selalu 'tak tahu' dan selalu 'tak mau tahu'. Yang bukan 'sejenis' dengan mereka, adalah musuh dan mangsanya.

'Baju kalian tak sunnah !' Tuduh mereka, maka disingkirkanlah yang beda . . .

'Agama kalian salah !' Maka kafir lah, dan halal darahnya . . .

'Negeri kalian tak menjunjung khilafah !' Direbut dihancurkan dengan semena-mena . . .

Itulah mereka. Saat ketemu mahluk ciptaan Tuhan yang paling mulia, manusia, jika 'tak sama', akan 'dihabisi' dengan cara yang lebih hina dari binatang apapun di dunia. Sembelih ayam, domba, onta, pun mereka lakukan dengan takzim. Menghadap qiblat dan baca 'basmallah' . . .

Tak kenal kata 'dosa'. Malah dijanjikan surga. Boleh orang lain katakan mereka 'biadab' dan 'keji'. Tapi dalam benak, mereka adalah kaum 'Mujahid'. Pembela Tuhan dan agamanya . . .

Yang bikin sedih, di negeri ini, atas peristiwa penusukan Wiranto, Menko Polhukam, ada seorang 'pesohor' sekaligus 'anak pesohor', ucapkan kata dan kalimat yang tidak tahu etika sekaligus menjijikkan.

'Playing victim' katanya. Untuk muluskan 'deradikalisasi', tambahnya . . .

Pendidikan yang didapatnya, tak menambah memoles 'adab'nya. Andai si korban bukan Wiranto, tapi bapaknya, komen apa yang akan dirilisnya.

Tentu saja tak jauh beda 'nada'nya. Cuma 'belok' arahnya. 'Rezim dzalim ! Suka-suka habisi lawan politiknya. Thogut. Kaum penista agama !' Mungkin kalimat2 itu yang akan diteriakannya.

Tapi memang bikin penasaran juga sih. Apakah mungkin akan terjadi, terlaksana, Bapaknya terima 'balasan' atas semua tingkah laku dan ucapan-nya. Termasuk 'dosa' kiriman dari anak2nya ?

Jadi pengen dengar teriakan si mBak . . .
Aaaah . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, October 11, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: