Widodo Visits Natuna dan Ide Brilian Sang Jenderal

Oleh : Mawalu

Tadi malam aku nonton Headlines News disebuah stasiun Televisi Luar Negeri melalui jaringan TV kabel dengan Text Line berita, "Widodo Visits Natuna".

Budaya di Barat biasanya menyebut seseorang selalu nama belakangnya saja. Contohnya, Junimart Girsang Makan Pisang di Pasar, maka orang barat akan menyebut, Girsang Makan Pisang di Pasar. Itu sudah umum dan lazim disana.

Itulah sebabnya mereka tak menyebut nama Presiden kita dengan sebutan Joko Widodo Visits Natuna atau Jokowi Visits Natuna, melainkan hanya menyebutkan Widodo Visits Natuna saja. Padahal nama Widodo di negeri ini ada jutaan orang.

 Budaya dan kebiasaan kita memang tak elok memangil nama orang hanya nama belakangnya saja, tapi kalau orang Barat justru merasa lebih nyaman dan sopan kalau memanggil nama orang hanya nama belakangnya saja. Itulah sebabnya Barrack Obama lebih dikenal dengan Obama saja daripada Barrack-nya itu. Yo wis lah, nggak penting bahas yang begituan. Yang paling penting itu memaknai kunjungan Presiden Jokowi ke Natuna pasca perang dingin China yang tak terima para nelayan mereka yang mencuri ikan di perairan kita dihajar sampai babak belur oleh Angkatan Laut kita.

Sebagai negara raksasa yang ditakuti Amerika dan Rusia dan telah menjadi ikon macan Asia, China seolah-olah ingin unjuk gigi menggertak dan mengintimidasi secara halus bangsa kita yang menurut mereka adalah bangsa kambing siap kurban.

 Ini masalah kedaulatan bangsa kita yang tak dapat diganggu gugat oleh bangsa manapun dibelahan dunia ini. Harga diri bangsa ini diatas segala-galanya. Jangankan China, Allien dari planet Neptunus pun kalau datang menyerang bangsa kita dengan agresi militer pesawat piring terbang mereka, wajib hukumnya dilawan sampai titik darah penghabisan.

Jokowi berencana mengembangkan potensi ekonomi di kepulauan Natuna secara serius untuk menghindari ekspansi bangsa Cina secara kasat mata dan terang-terangan itu, khususnya dibidang Migas dan Perikanan. Jokowi minta pembangunan dua sektor ini dipercepat, mengingat potensi Migas dan perikanan Natuna luar biasa besar.

Saat ini perairan Natuna ada 16 blok migas. Dari jumlah itu, baru 5 blok yang sudah berproduksi, sementara 11 blok lainnya masih dalam proses tahap eksplorasi. Potensi sumbet daya alam yang sebegitu besarnya itu sayang banget disia-siakan selama ini.

 Cadangan gas untuk Blok D-Alpha saja mencapai 222 trillion cubic feet (TCF) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCF, menjadikan blok ini salah satu sumber terbesar di Asia. Itu belum blok lainnya.

Aku ingat dulu ketika debat capres 2014 yang lalu, Jokowi pernah bilang, kalau masalah kedaulatan bangsa, Jokowi akan bikin ramai sekalian. Apakah makna kunjungan Jokowi ke Natuna untuk bikin ramai sekalian dengan unjuk gigi kepada China bahwa ia tak gentar dan tak main-main dengan masalah kedaulatan negara? We hope so.

Tentunya sebagai warga negara yang baik, kita mesti mengapresiasi upaya Jokowi bahwa ia tak gentar dengan intimidasi China secara halus itu, namun jujur saja kalau mau dibilang, semua ini salah bangsa kita juga sejak dulu sehingga bangsa lain seenak jidat mereka datang menjarah kekayaan laut di perairan kita. Kita terlalu lemah dan menganggap remeh dengan kepulauan ring luar sebagai basis pertahanan NKRI.

Dulu pernah ada wacana dan usulan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang punya ide brilian menjadikan pulau-pulau terluar menjadi kapal induk sebagai basis pertahanan militer. Ini ide yang cemerlang dari seorang Panglima TNI yang sudah banyak makan asam garam tentang strategi pertahanan negara.

Pulau-pulau ring luar seperti kepulauan Natuna dibagian barat, Biak di daerah timur, Morotai di Utara, dan Saumlaki di wilayah Selatan bisa dijadikan kapal induk sebagai markas militer kapal perang, pesawat tempur, gudang peluru, logistik, serta pasukan tempur untuk memperkuat basis pertahanan wilayah ring luar NKRI.

Karena kita tak bisa tahu pasti atau bisa memprediksi siapa musuh kita dan darimana saja mereka. Sudah saatnya Jokowi merealisasikan ide brilian sang Jenderal untuk bikin rame sekalian supaya harga diri bangsa kita tak diinjak-injak lagi sama bangsa lain dan menganggap bangsa kita sebagai bangsa kambing siap kurban. Ya sudah itu saja. NKRI harga mati.** (ak)

Sumber : kompasiana.com

 

Friday, June 24, 2016 - 10:15
Kategori Rubrik: