Why "Ahok"?

Ilustrasi

Oleh : Harry Tjahjono

Ya, kenapa Ahok ? Kenapa bukan Basuki Tjahaja Purmama yang diingat orang ? Baiklah, mungkin ada yang bilang Ahok lebih mudah disebutkan dan diingat ? Tapi bukankah Ahok sendiri menuliskan BTP dalam berbagai kesempatan, misalnya 'Salam BTP' dengan tanda tangannya ? Tetap saja 'Ahok' yang menyeruak...

Bagi saya, sebutan 'Ahok' menjadi fenomenal karena ada latar belakang psikologi bawah sadar bagi rakyat Indonesia (baik lover atau haternya). Kata 'Ahok' adalah refleksi dari 'minoritas ganda' (Cina dan kebetulan Kristiani). Khususnya Cina, yang selama ini lebih banyak dilekati sentimen negatif daripada positif. 'Ahok' adalah representasi dari mahluk serba oportunistik dan egoistik selama ini.

Dan ketika sosok Ahok muncul dengan gambaran serba sebaliknya : patriot, altruis, berani, cinta bangsa, melayani rakyat, bersih - maka kerinduan bawah sadar akan 'Ahok' yang diharapkan menyeruak ke permukaan habis-habisan.

Ahok menjadi ikon sentimental bagi rakyat Indonesia. Bagi para pembencinya, 'Ahok' adalah sindiran dan penegasan : orang Cina itu juga bisa lebih patriot daripada yang non Cina dan merasa 'pribumi'. 'Ahok' itu WNI. Dan tegas, 'Ahok' itu juga 'pribumi'.

Bagi para pecintanya (baik yang Cina atau bukan), 'Ahok' adalah muara pembuktian bahwa 'minoritas' Cina itu juga bisa jadi berlian dan diandalkan oleh bangsa ini. 'Ahok' juga layak dicintai.

Bagi para 'WNI Cina' yang kebetulan termasuk golongan oportunis dan cenderung egois di negeri ini : 'Ahok' itu adalah tamparan keras pedas agar mulai berubah - lebih dulu mencintai negerinya dibanding egoisme atau tukang cari selamat.

Bagi bangsa ini, 'Ahok' itu adalah persembahan cinta : aku lahir di negeri ini, besar dan hidup di negeri ini - maka hak dan kewajiban untuk berjuang adalah sama seperti lainnya.

Bagi Ahok sendiri, 'Ahok' adalah karunia - sebab dengan nama tersebut ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi patriot dan catatan indah sejarah bangsa ini.

'Ahok' sudah keburu jadi fenomena, ikon sentimental, simbol patrotisme anak bangsa - yang selama ini dimarjinalkan secara sosial politik. Jika dulu ada 'Soe Hok Gie', kini lahir 'Ahok'...

'Ahok' itu bukan melulu sosok BTP atau Basuki Tjahaja Purmana. 'Ahok' lebih besar dari itu. Saya sendiri yang juga Cina, merasa harus terus berjuang bagi bangsa ini agar layak disebut 'Ahok'....

Damn I love Indonesia...

Sumber : Status Facebook Harry Tjahjono

Tuesday, November 7, 2017 - 00:00
Kategori Rubrik: