When Theres's No Trade, There's War

ilustrasi

Oleh : Arum Kusumaningtyas

Melihat data BPS ini, risiko ekonomi kita memang tinggi. Tetapi peluang di depan mata itu juga nyata. FYI, perdagangan kita bulan Januari-Mei 2020, mengalami surplus US$ 4,31 miliar. Berita bagus bukan?

Dan yang lebih menggembirakan adalah surplus perdagangan kita, 93,81 % nya ditopang oleh ekspor dari sektor non migas. Wajar kan dalam paparan Bu Menkeu tentang APBN Kita Mei 2020 kemarin, pendapatan negara ditopang utamanya oleh CUKAI. Nah, ini juga sekaligus berita tidak baik. Karena apa? Ada kemungkinan besar, ekspor kita di dominasi barang mentah dan barang semi industri yang susah ditarik pajak penambahan nilai. Padahal, ekonomi terbesar saat ini ya ada di sektor nilai tambah ini, alias manufaktur/ industri, proses pasca panen untuk pertanian misalnya. Itu masuk industri dengan pertambahan nilai. Masak dari 1945 sampai 2020, level kita hanya Gabah Kering Giling saja sih? Sedangkan Thailand sudah melaju hingga industri turunan berupa sereal beras misalnya.

Jika mengamati dinamika perdagangan kita, disini hanya saya capture untuk yg Ekspor ya. Ekosistem logistik nasional saja tidak cukup untuk dipersiapkan. Sekali lagi, Market Intelligent Unit menjadi keharusan. Bandingkan saja rekam data BPS terkait komoditas dan negara tujuan. Berbeda sekali data 15 juni ini dengan data sebelumnya, untuk mitra negara tujuan dan komoditas kita yang banyak permintaan ekspornya. Jika kita tidak mampu menangkap dinamika itu, adanya ya pengembangan pasar kita rerata TETUKO. Sing Tuku Ora Teko, Sing Teko Ora Tuku...Barang mentah lagi lah yang laku. Gak ada cipta kerja optimal, demo lagiii.

Nah, yg namanya Pajak Nilai Tambah itu sangat terkait dengan kemampuan inovasi dan ketrampilan membuat inovasi itu menjadi bukan sekedar prototype. Tapi bisa dieksekusi sesuai dengan perkembangan pasar. Demand driven! Dan, sektor pajak kita saat ini tidak optimalkan?

Faktanya? Indonesia ada diperingkat 85/129 di Global Innovation Index 2019. Di ASEAN? Indonesia jelas di peringkat terbawah sekarang. Kita jauh dibawah Filiphina dan Brunei Darussalam sekarang. Gak usah bandingkan dengan negara jiran terdekat kita ya....sakit ati. Padahal, komoditas-komoditas ASEAN dan Asia Selatan itu 11-12. Tanpa adanya industri penambahan nilai, ya jangan marah-marah kalau kita cenderung defisit terus.

Capek kan dengar perdagangan internasional kita defisit terus? Dan ketika kita tidak memiliki konsep perdagangan yg jelas, hanya ngejar persenan belaka via perijininan dan dokumen ini-itu, maka daya tawar dan daya saing kita pun akan semakin lemah. Pelabuhan-pelabuhan kita pun akan semakin ditinggalkan karena riweh administrasinya.

When there's no trade, there's war. Dan transaksi internasional terjadi, karena banyak faktor. Salah satunya kerjasama bilateral dan hal-hal terkait geopolitik yg berpengaruh pada sistem keuangan internasional. Jadi ketika ada yang nyinyir tentang apa hubungan BoE dengan potensi Indonesia dan menganggap hal itu hanya teori konspirasi....mungkin masnya kebanyakan nonton film detektif. Padahal semua tercatat dengan jelas dalam alur perdagangan kita.

Sumber : Status Facebook Arum Kusumaningtyas

Saturday, June 27, 2020 - 19:45
Kategori Rubrik: