When There Is One, There Is Two

ilustrasi

Oleh : Alto Luger

Kalau melihat video ledakan di Beirut, terlihat sudah ada kebakaran kecil baru kemudian disusul oleh ledakan besar.

Bagi yang pernah ikut pelatihan Hostile Environment Awareness Training pasti sangat ingat prinsip: When there is one, there is two. Artinya kalau ada sebuah ledakan atau serangan, kita harus berasumsi bahwa akan ada ledakan kedua yang sama atau lebih besar lagi.

Kenapa prinsip ini ada? Karena kelompok-kelompok yang memakai taktik perang asimetrik dengan menggunakan teror, baik itu kelompok teroris maupun kelompok-kelompok bersenjata sudah menggunakan taktik ini untuk menimbulkan korban yang luar biasa.

Biasanya mereka akan melakukan serangan kecil, misalnya dengan memakai bom dengan daya ledak kecil untuk melukai. Saat orang sudah berkerumun, tenaga medis sudah datang untuk melakukan evakuasi dan masyarakat sudah mendekati area ledakan, barulah serangan kedua yang lebih dasyat dilancarkan. Ini akan menciptakan korban yang jauh lebih banyak.

Taktik ini dipakai di luar negeri, misalnya saat perang Bosnia di mana sniper akan menembak orang untuk melukai, dan saat tim medis datang barulah dibombardir dengan serangan mortir, atau kelompok teror seperti Al-Qaida atau ISIS yang memakai taktik yang disebut dengan 'Complex Attack di mana serangan bom bunuh diri memakai rompi, akan diikuti dengan serangan bom mobil yang jauh lebih besar daya ledakannya.

Di Poso pun taktik ini pernah dipakai di daerah Patangolemba saat ada bom kecil terjadi dan tak lama kemudian bom yang lebih besar meledak mentargetkan konvoi kendaraan polisi ke lokasi bom pertama. Syukur, bom kedua meledak lebih awal dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Jadi ingat, kalau ada serangan teror bom atau penembakkan, kamu gak punya urusan untuk berada di situ. Segeralah menjauh tempat tersebut, karena: When there is one, there is two.

#sivispacemparabellum

Sumber : Status Facebook Alto Luger

Thursday, August 6, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: