Wesi Towo, Londo, Syirik dan Penjaga Tradisi

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Jumat kemarin, saya, Gus Jabbar, Gus Yayak, dan Mbah Isban setelah dari KH Qolyubi, menuju pendekar sepuh Nganjuk, KH Amir Marwah bin KH Dahlan Amir bin Kiai Dollah Amir.

Beliau lahir tahun 1934 dan mondok di Mojosari mulai tahun 1945. Teman beliau dari Jombang adalah Gus Malik (KH Malik bin Hamid). Beliau bilang, "Gus Malik disik mbetik." Tentu di masa muda dan rata rata santri Mojosari memang begitu. Tapi setelah sepuh bijak. Sisi menarik dari beliau antara lain.

Beliau masih ingat bagaiamana zaman dulu di seputar Nganjuk terjadi efek pembelahan akibat terbelahnya keraton Jogja dengan munculnya keraton Solo. Menurut beliau, saat itu para kiai pro Jogja dan para priyayi pro Solo.

Beliau berkata bahwa santri berasal dari satria. Adapun ndoro adalah singkatan dari londo ora ketoro, yakni orang Jawa yang kooperatif dengan Belanda. Saat itu contohnya adalah penghulu dan naib.

Beliau tipe penjaga warisan leluhur. Semisal sumur buatan leluhurnya yang dulu dibuat tempat orang ambil air sebagai lantaran penyembuhan tetap beliau pertahankan. Demikain pula, dulu leluhurnya adalah pemelihara burung yang kalau manggung bunyinya kukgeru kok (maaf saya tidak tahu nama burungnya) tetap beliau pelihara.

Di antara kisah menarik dari kesetiaan beliau memelihara tradisi adalah terkait dengan wesi towo. Wesi towo adalah bahan yang terbuat dari besi dan di kalangan tertentu dianggap mempunyai kekuatan yang bisa menyerap berbagai macam racun, baik racun ular, kalajengking dan lain sebagainya.

Wesi towo ini peninggalan dari kakek beliau (Mbah Dollah Amir). Syahdan, di Nganjuk ada orang Belanda yang disebut Londo Brang Wot.

Entah bagaimana suatu saat anaknya ikut pembantu (diksi yang digunakan oleh Kiai Amir Marwah adalah jongos) manyirami bunga di halaman.

Ternyata di daun-daun yang ada di taman terdapat ular hijau yang kemudian menggigit anak si belanda Brang Wot itu.

Gegerlah keluarga Belanda itu, kemudian anaknya dibawa ke seorang dokter di Ganung Kidul Nganjuk. Si dokter tidak sanggup dan hanya bisa memperban tangan atas agar racun tidak menyebar. Lalu dokter menyarankan agar dibawa ke hospital di Surabaya.

Untuk bisa ke Surabaya harus naik sepur dan spurnya baru besok, itupun tidak berhenti di Nganjuk. Tentu si Belanda kalang kabut karena melihat kondisi anak yang demikian,
Maka si jongos itu menyarankan agar dibawa saja ke Kiai Dollah Amir.

Dengan naik dokar dari Nganjuk menuju rumah Mbah Dollah Amir sampailah pada malam hari. Rumah Mbah Dollah Amir diketuk dan menyampaikan apa yang terjadi. Mbah Dollah Amir mengambil wesi towo dan ditempelkan ke luka gigitan ular sambil berdoa. Alhamdulillah racun keluar dan saat perban mau dilepas oleh Mbah Dollah, si Belanda akan melarang kawatir racun naik. Tapi Mbah Dollah bilang tidak apa apa karena racun sudah hilang. Benar, saat dilepas tidak terjadi apa apa dan sembuh.

Berkat hal itu, si Belanda berucap terima kasih, di hari yang lain mengirimi beras dan lain-lain. Dan.......si Belanda tidak menuduh syirik kepada Mbah Dollah hehe...
***

Yang saya pegang adalah wesi towo peninggalan Mbah Dollah Amir.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Monday, December 9, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: