Wat De Pak, AAG!

Oleh: De Fatah
 

AAG sangat ahli melihat peluang, beliau yang mengaku ilmu agamanya yang dapat langsung dari Tuhan seharusnya Al mukarram bisa melihat permasalahan Ahok seperti burung elang yang memutar disetiap sudut pandang supaya mendapat keseluruhan alur cerita, tapi yang dia lakukan seperti rubah yang mengendap-ngendap mencari kesempatan

Anas meriwayatkan:
"Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu, jauhilah mereka.." (HR al-Hakim).

 

Dibalik kesantunan kata katanya dia menggiring opini untuk membenturkan NU dan Ahok pasca kesaksian persidangan K.H Ma'ruf Amin. Ketidakmampuan AAG melakukan tabayun terhadap dirinya karena sudah menilai dirinya sempurna adalah bukti bahwa akalnya sudah melemah dan kebanggaan dirinya meninggi, secara tidak langsung dia menarik ulama kedalam proxy war media sosial, media sosial adalah rimba belantara setiap orang bisa mencaci dan memaki segila-gilanya dan AA Jin mencoba mematiknya

Gelar Kiai pada AA Jin lebih terkait dengan kebudayaan Jawa dibanding dengan nilai-nilai Islam. Sejatinya jika seseorang disebut Kiai ada beberapa dimensi yang dikandungnya, kesalehan, kepandaian, kealiman, kepribadian bahkan kepemimpinan tapi jika tidak memiliki kandungan nilai tersebut maka gelar Kiai nya sama seperti gelar Kiai pada kerbau legendaris kraton solo yang digelari Kiai Slamet, Kiai juga tapi sekelas kerbau Kiai nya disandangkan dengan pakaian apa saja tetapi kerbau tetaplah kerbau

Ulama itu sejatinya sudah selesai dengan kehidupan dunia beserta kemegahannya. Seluruh apa yang dilakukannya semua bernafaskan kebaikan, karena nafsunya sudah berhasil ia kendalikan. Tapi yang dilakukan AA Jin malah sebaliknya bukannya merangkul yang dianggapnya sesat tapi malah mengajak orang membencinya

Sampai sekarang saya tidak pernah mendengar satupun dari mereka yang menyebut dirinya ulama GMPF mendatangi Ahok untuk menasehatinya, yang ada hanya orang yang mengaku ulama menjamin bebas bersyaratnya penghina bendera NKRI dan disebut Pahlawan

Seharusnya dari awal mengeluarkan fatwa sampai menuntut penegakan hukum akan kasus penistaan sudah dipikirkan dampak dampaknya, karena di persidangan semua orang didudukan dalam derajat yang sama, dilucuti gelar dan jabatannya, diuji semua kebenaran tuduhannya berikut kebenaran kesaksian dan pembuktiannya, jika tidak mempercayai pengadilan untuk apa kemarin menuntut proses hukumnya

Ulama juga manusia, ulama bukan Nabi, ulama bukan Tuhan, mengkritisi kesaksian mereka didalam persidangan adalah hak terdakwa, apalagi jika terdakwa memiliki bukti kuat akan ketidakcocokan kesaksiannya. Terdakwa manusia ciptaan tuhan juga, Tuhan saja masih memberi ruang terhadap kaum yang mau ingkar atau yang saleh, mengapa kita manusia melebihi kewenangan Tuhan

Kata guru saya, ke-Kiai-an seseorang itu bergantung pada sejauh mana kasih sayangnya kepada sesama manusia. Semakin tinggi rasa kasih sayang kita kepada hambanya maka semakin tinggi pula derajat kita di hadapan Tuhan. Semakin rajin kita menebar kebencian kepada sesama, semakin rendah pula kedudukan kita di hadapan Tuhan

Nb: gambar tidak ada hubungan dengan status ini.

 

(Sumber: Status Facebook De Fatah)

Thursday, February 2, 2017 - 10:30
Kategori Rubrik: