Waspadalah, Jangan Sampai Paman Sam (Kembali) Berulah

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Hari ini sedang berlangsung KTT Perubahan Iklim di Madrid. Acara digelar sejak tanggal 2 sampai 13 Desember mendatang. Agenda intinya adalah untuk memperkuat dan membuat aturan-aturan baku terkait penerapan Perjanjian Iklim Paris 2015 yang mana kesepakatan ini akan diterapkan mulai tahun depan.

Menariknya, KTT Madrid ini disambut aksi demo di berbagai belahan bumi yang mendukung kegiatan ini. Berbeda dengan saat Perjanjian Iklim Paris ditandatangani pada November 2015. Kota Paris dilanda berbagai rentetan aksi teror untuk menggagalkan agenda ini. Karena disinyalir bahwa kesepakatan ini akan mengancam eksistensi minyak yang akan digantikan oleh energi yang lebih ramah lingkungan (energi hijau). Dan bisa ditebak negara mana yang terancam jika minyak tak lagi menjadi komoditas primadona global. Tidak lain adalah Amerika sebagai kontraktor dan Saudi sebagai penghasil minyak terbesar. Tidaklah heran jika kemudian Trump menyatakan mundur dari kesepakatan ini. Pun Saudi juga harus merubah paradigma menjadi negara jasa.

Kini, KTT Madrid berlangsung dan didukung oleh 200 negara. Dan salah satu yang hadir adalah delegasi dari Amerika yang diwakili Nancy Pelocy. Bahkan mereka juga menjanjikan akan menganulir keputusan Trump jika kubu oposisi (Demokrat) terpilih pada 2020 nanti.

Kita semua melihat bahwa ini seperti sebuah "Wind of Change" bagi dunia. Bahkan dalam beberapa tulisan sebelumnya, saya sering menulis bahwa perubahan paradigma energi ini bisa menggerus Dominasi Barat. Dan China akan menjadi negara yang unggul karena mampu memenuhi kebutuhan separuh energi global melalui produksi Battery Lithiumnya. Termasuk Indonesia juga akan menjadi kiblat energi dunia karena menjadi negara penghasil Nikel terbesar di dunia. Seperti diketahui, Nikel adalah bahan pokok produksi Lithium. Itulah kenapa Jokowi juga memutuskan untuk mendivestasi PT. Vale Indonesia sebagai tambang terbesar dunia yang selama ini mengantarkan Amerika sebagai "penghasil" Nikel terbanyak.

Namun yang janggal bagi saya adalah perubahan sikap Amerika. Bagi saya, negara ini paling sulit untuk dipegang komitmennya. Selain menjadi biang kegaduhan diberbagai belahan bumi, sikapnya yang berubah-ubah semakin menunjukkan bahwa mereka adalah oportunis sejati. Saya pernah memprediksi bahwa Paman Sam akan mengalami kebangkrutan pada tahun 2021. Yaitu setahun setelah Kesepakatan Iklim Paris benar-benar dijalankan. Prediksi saya bisa saja meleset jika negara-negara penghasil "energi hijau" menjadi lengah dan memberikan ruang gerak lebih kepada Paman Sam. Sebagaimana track record dominasinya terhadap OPEC. Karena notabene mereka sudah mempunyai "pintu masuk". Yaitu berhasil melengserkan Presiden Bolivia, Evo Morales melalui para proxynya. Seperti diketahui, Bolivia adalah negara penghasil Nikel terbesar kedua setelah Indonesia.

Jadi, waspadalah! Jangan sampai Paman Sam kembali berulah!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Thursday, December 5, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: