Waspadai Intoleransi di Sekitar Kita

3. Terorisme = mengintimidasi, mengancam dan melakukan tindakan pengeboman atau pembunuhan serta tindak kekerasan terhadap mereka yang dianggap musuh, tidak peduli tidak sekelompok agama atau bahkan sekelompok agamanya.
 
Beberapa kali diskusi soal teroris yang di dalamnya melibatkan tokoh agama, seperti MUI, DDII bahkan Muhammadiyah serta sebagian NU (NU Garis lurus) justru menganggap tahap intoleran masih bisa ditolelir. Sekeretaris MUI Depok, misalnya, bilang bahwa mengatakan orang non Islam kafir dan menganggap Ahmadiyah, Syi’ah sesat itu biasa, sebab mereka yang disesatkan juga menganggap Muslim mainstream sesat.
 
Saya tentu berbeda pendapat dengan mereka. Radikalisme hanya akan terkendali dengan baik jika sikap-sikap intoleran diminimalisir sekecil mungkin. Sebab kalau sudah mensesat kafirkan liyan, itu tinggal selangkah lagi menjadi radikalis.
 
Dan, zero toleran terhadap intoleran tidak sama dengan intoleran. atau toleran terhadap intoleran sama dengan intoleran. Jadi, jangan rancu. Ini petanya
 
1. Survey terhadap Takmir Masjid di DKI Jakarta: 
Umat Islam wajib mendirikan negara Islam: 45 %
Jihad melawan kaum non-muslim/barat/sekuler: 26 %
Umat Islam wajib memperjuangkan khilafah: 32 %
Pemerintah yang tidak menerapkan syari’ah wajib diperangi: 14 %
 
2. Survey dengan sampel mahasiswa dari UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Makassar, UIN Surabaya, UIN Banjarmasin, UIN Sumatera Utara, IAIN Imam Bonjol Padang tentang jihad menggunakan kekerasan: 26,7% mengatakan setuju, 68,4% tidak setuju dan 4,9% tidak punya sikap.
 
Artinya apa? Silahkan maknai sendiri, ada apa dengan umat mayoritas.
 
Sumber : Group WA

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *