Waspadai Intoleransi di Sekitar Kita

Ilustrasi
Oleh : Sudarto Toto
 
Meminjam kategorisasi yang digunakan oleh BNPT, transformasi menjadi teroris itu prosesnya sebagai berikut:
 
1. Intoleransi = sikap benci dan menolak kelompok lain atau kelompok yang berbeda dengan kelompoknya (agama, etnis, suku, dll). Tahap ini baru sampai takfiri (mengkafirkan), ta'bid (membid'ahkan) dab tabsit (menganggap sesat).
 
2. Intoleran aktif = radikalisme ketidaksukaan atau penolakan tersebut diekpresikan dalam bentuk aksi penolakan ketika kelompok yang dianggap lain dan berbeda itu menuntut hak konstitusinya. 
 
Misalnya, menyegel kelompok agama atau keyakinan lain mendirikan rumah ibadah yang sudah sesuai dengan ketentuan. Menolak non Muslim menjadi gubernur, bupati, camat, lurah dan bahkan ketua OSIS dan ketua kelas. Termasuk dalam kelompok ini menginginkan perubahan total sebuah dasar negara.
3. Terorisme = mengintimidasi, mengancam dan melakukan tindakan pengeboman atau pembunuhan serta tindak kekerasan terhadap mereka yang dianggap musuh, tidak peduli tidak sekelompok agama atau bahkan sekelompok agamanya.
 
Beberapa kali diskusi soal teroris yang di dalamnya melibatkan tokoh agama, seperti MUI, DDII bahkan Muhammadiyah serta sebagian NU (NU Garis lurus) justru menganggap tahap intoleran masih bisa ditolelir. Sekeretaris MUI Depok, misalnya, bilang bahwa mengatakan orang non Islam kafir dan menganggap Ahmadiyah, Syi'ah sesat itu biasa, sebab mereka yang disesatkan juga menganggap Muslim mainstream sesat.
 
Saya tentu berbeda pendapat dengan mereka. Radikalisme hanya akan terkendali dengan baik jika sikap-sikap intoleran diminimalisir sekecil mungkin. Sebab kalau sudah mensesat kafirkan liyan, itu tinggal selangkah lagi menjadi radikalis.
 
Dan, zero toleran terhadap intoleran tidak sama dengan intoleran. atau toleran terhadap intoleran sama dengan intoleran. Jadi, jangan rancu. Ini petanya
 
1. Survey terhadap Takmir Masjid di DKI Jakarta: 
Umat Islam wajib mendirikan negara Islam: 45 %
Jihad melawan kaum non-muslim/barat/sekuler: 26 %
Umat Islam wajib memperjuangkan khilafah: 32 %
Pemerintah yang tidak menerapkan syari'ah wajib diperangi: 14 %
 
2. Survey dengan sampel mahasiswa dari UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Makassar, UIN Surabaya, UIN Banjarmasin, UIN Sumatera Utara, IAIN Imam Bonjol Padang tentang jihad menggunakan kekerasan: 26,7% mengatakan setuju, 68,4% tidak setuju dan 4,9% tidak punya sikap.
 
Artinya apa? Silahkan maknai sendiri, ada apa dengan umat mayoritas.
 
Sumber : Group WA
Thursday, November 30, 2017 - 14:15
Kategori Rubrik: