Waspada Harus, Panik Jangan

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Kalau belum bisa mentaati Presiden Jokowi karena masih ada dendam Pilpres, setidaknya taatilah petugas kesehatan. Ini bukan waktu pulitik. Ini waktu untuk, semua yang ditugaskan bekerja, rakyat mendengar komando mereka, dan turut bersimpati kepada korban dan keluarga serta jerih payah petugas.

Berhenti bacot yang tak berguna. Mereka yang jika datang hari kiamat pun masih akan tak berhenti berdebat. Simpan dulu seluruh kepintaranmu, sok jagoanmu, dan miskin-etikamu karena korban dan keluarganya juga manusia sepertimu.

Kita harus waspada. Bagaimana tidak waspada, sebuah wabah telah DENGAN CEPAT menyebar ke seluruh negara. Katanya kecuali Antartika. Daya sebar yang akseleratif inilah ciri khas virus ini, walau secara patogen tingkatnya rendah dibanding penyakit mematikan lain. Kita bayangkan seperti motor RX-King, akseleratif.

Tapi panik jangan. Karena kepanikan akan membawa effek yang lain lagi. Dengar dan laksanakan saja anjuran pemerintah, jalan yang diambilnya pasti jalan terbaik. Tabiat atau klakuan Jarumsuper (jarang dirumah suka pergi) sementara hentikan dulu. Apalagi yang kepala mati berangkat (kobra) itu stop. Pulang tu cuci tangan muka kaki dengan sabun. Jangan karena sifat kurang baikmu itu keluarga dan orang lain kena jadi korban. Itu kau langsung masuk daftar ODC (orang dalam cukimai)

Bung Cebong : Saatnya kembali bersama keluarga di rumah.

Santri Kalong : Ikuti apa yang dikomando oleh pemerintah. Karena pemerintah kita adalah Ulil Amri, daruriyun bitsaukah. Wakil Tuhan di bumi.

Wan Bodrex : Ya, siapa birokrat yang korupsi makan uang korona, kita kasih makan korona biar dia habiskan sendiri.

Pace Yaklep : Kalau tidak mau dengar pemerintah mau dengar siapa lagi. Dengar dangdutan juga sepi tak ada pengunjung.

Dul Kampret : Pokoknya Lockdown

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Friday, March 27, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: