Waspada Anak Keletihan Saat Ujian!

Oleh: Handrini

Putri pertama saya saat ini berada di kelas 9  alias 3 SMP. Mendadak kemarin putri saya mengeluh panjang lebar tentang jadwal ujian yang susul menyusul. “Bayangin aja Ma, abis UCUN (Uji Coba Ujian Nasional), UAS (Ujian Akhir Semester), Ujian Praktek, sekarang Ujian Sekolah dan 9 sampai 12 Mei nanti UN (Ujian Nasional), “ keluhnya. “Emangnya tidak bisa ya Ma, diatur satu kali saja ujian. Capek banget deh Ma, ujian, ujian dan ujian lagi. Bisa ga Ma, Mama bilang ke Menterinya atau ke DPR gitu?” pintanya.

“Hmm.. Mama coba bikin tulisan saja ya Kak.. siapa tahu dibaca Pak Anies Baswedan,” kata saya seraya meneguhkan janji dalam hati. Saya tercenung. Tersadar. Apa yang dikeluhkan putri saya ada benarnya. Di atas kertas – tepatnya di Kalender Akademik SMP 2016 memang tidak nampak padat merayapnya jadwal ujian demi ujian tersebut. Namun bagi anak-anak yang mengalaminya akan sangat  terasa.

Dampak keletihan yang luar biasa sempat menyambangi putri pertama saya. Tyhphus kambuh.  Alhasil, selama satu minggu jadwal off ujian, putri saya terpaksa tidak masuk sekolah. Padahal sebagai orang tua, saya sudah berupaya menjaga gizi dan ketercukupan makan putri saya. Bahkan saya senantiasa menyempatkan diri untuk menyuapi mereka sebelum berangkat sekolah. Bukan karena memanjakan mereka, melainkan mepetnya waktu sekolah – harus sampai jam 06.30 WIB di sekolah. Meskipun mereka sudah menyiapkan buku, pakaian tetap saja prosesi pagi hari – bangun tidur, sholat, dan mandi masih membuat mereka bisa dengan mudah meninggalkan sarapan jika tidak saya suapin.

Kami sempat memperbincangkan secara ringan tentang ujian yang dijadwalkan berturut-turut itu. Menurut putri saya, ujian itu diadakan berbeda-beda karena untuk mengisi nilai yang berbeda-beda. UN untuk NEM yang berguna untuk mencari sekolah, UAS dan yang lainnya untuk nilai rapor. Kurang lebih begitu penjelasan yang saya ingat. Namun setidaknya, ada hal yang disyukuri putri saya.

“Untungnya aku ga perlu ikut les ini itu..” kata putri saya. Lantas putri saya bercerita  aktivitas teman-teman sekelasnya yang ikut berbagai macam les mulai dari NF (salah satu bimbingan belajar) hingga les lainnya. Saya sendiri karena waktu dulu SMP dan SMA hampir tidak pernah ikut les macam-macam – hanya ikut les sesekali dan hanya seminggu – saya memutuskan hanya “menawarkan” dan tidak mewajibkan anak untuk ikut les.

Disamping karena biaya les juga cukup lumayan. Hasilnya seperti dugaan saya, putri saya menolak. Keletihan. Hanya itu yang tertangkap oleh kedua bola mata saya dan mata batin saya sebagai seorang ibu. Karenanya saya tidak menolak ketika putri pertama saya meminta saya dan suami untuk mengajak jalan-jalan ke Blok M dan Pameran Wisata di hari Sabtu meski hari Seninnya dia harus ujian. Namun itupun masih bersyukur saat mengetahui beberapa teman putri saya pulang pukul 9 malam dari les mereka.

Tak hanya keletihan yang saya khawatirkan. Beberapa kali saya terpaksa menegur dan mengetuk kamar putri saya karena tidak keluar juga untuk makan. “Jangan terlalu stres belajarnya Kak, sempatkan keluar kamar sesekali selain untuk sholat dan makan,” tegur saya.  Tak hanya pola makan yang harus diperhatikan orang tua. Pola tidur anak saat ujian juga harus diperhatikan. Hal lainnya adalah jangan sampai persoalan gizi terabaikan.

Asupan gizi yang berimbang salah satu unsur pendukung daya tahan tubuh. Forsir tenaga dan pikiran saat menghadapi ujian oleh anak membutuhkan tambahan vitamin dan asupan gizi yang cukup. Faktor lain untuk menghindarkan keletihan yang berlebihan bagi anak jelang UN adalah mengajak mereka untuk rileks dan meredakan stress sebelum menghadapi ujian.

Karenanya tidak ada salahnya mengusulkan kepada anak ataupun mengijinkan mereka untuk pergi menonton bersama teman-temannya sebagai salah satu alternatif cara.  Di usia ABG seperti mereka, mau tidak mau, orang tua menerima kenyataan bagi ABG pergi bersama dengan teman-teman mereka jauh lebih menyenangkan daripada pergi dengan orang tua mereka. Rasanya beda, bisa lepas dan bebas – meski tentu tetap dalam aturan yang tetap harus diindahkan.

Namun untuk jajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, perlu kiranya dipertimbangkan manajemen pelaksanaan evaluasi pendidikan yang lebih manusiawi untuk anak didik. Jangan sampai anak didik kita harus mengalami keletihan yang berlebihan. Selain hasilnya menjadi kurang optimal, khawatirnya keletihan yang berlebihan dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan psikis mereka.

(Sumber: Kompasiana)

Thursday, March 31, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: