Wartawan Harus Beringas

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Entah apa yg ada dibenak Pak Prabowo, sll mengatakan kita ini kaya jangan membeli orang kaya, Belanda yg datang bukan kita yg kesana, karena kita kaya, hasil bumi dan segalanya, apa konotasinya kpd pemerintahan Pak Jokowi, apa sebenarnya yg dibuat Pak Jokowi terhadap orang kaya. Namun dalam waktu yg sama dia lupa, memberi pernyataan bhw wartawan gak bisa ke mall karena gajinya pas-pasan dan bisa dilihat dari raut wajah wartawan seolah dia mau berkata bhw wartawan kurang makan.

Patut disayangkan sekaligus tak mengherankan, karena itulah aslinya kelakuan, orang mengatakan IQ bisa tinggi tapi kalau EQnya rendah, maka yg keluar adalah sampah, bayangkan seorang yg 80% hidupnya dibentuk oleh lingkungan berpendidikan, mantan jendral, dan banyak pengalaman, tapi sekali lagi itu bukan jaminan bhw dia mengerti adab dan kesantunan. Dalam dialog diatas dapat disimak bhw dia mau menunjukkan peduli dgn orang kecil, tapi karena hatinya dibentuk oleh kesombongan maka cemooh kpd insan pers tak terhindarkan, pelecehan profesi telah dia lakukan, wartawan dianggap kekurangan, gak bisa ngemall, dia pakai ukuran mall sbg dedikasi profesi, bagaimana dia tau rekan2 wartawan kadang tak perduli keluarga selama mereka mengejar berita, pewarta ini begitu punya integritas, bukan cuma menyandang profesi yg bisa dibeli, apakah itu dengan gaji, atau janji2 yg datang dari mulut orang dimana memahami profesi dan jual beli saja dia tak mengerti.

 

 

Baru saja dia memberi pidato yg berapi2 walau kita tak megerti dia baru ngomong apa tadi, eh wartawan bisa kena sasaran jadi landasan sekaligus mengumpan agar beritanya dikedepankan bahwa dia yg bisa membereskan negeri yg 32 thn plus 10 thn diporak porandakan oleh manusia yg tdk berintegritas, sesak nafas kita melihatnya. Saat pembetulan sedang dijalankan oleh Jokowi sbg orang yg militan, sopan dan tidak pernah mencari lawan, caci maki dan gempuran terus dilakukan, bukan membantu penyelesaian yg ada malah membuat kondisi tidak nyaman.

Orang bijak mengatakan, politisi bila kelasnya naik maka dia akan jadi negarawan, namun bila negarawan kelasnya turun maka dia akan jadi politisi dan ini mengenaskan. Fenomena ini sedang terjadi saat ini, kelas negarawan jadi pendemo dipinggir jalan, atau pura2 diam tapi merayap bak buaya pemangsa mengintai dari mana dia memakan musuhnya. Tak perlu pakai etika karna memang buaya tak punya indra perasa.

Rekan2 pejuang mengangkat pena dalam kebenaran, tanpa berita dari kalian dunia akan mati tenggelam, tidak perlu kalian risaukan suara dari mulut penista karena kelak dia akan merasakan bahwa tulisan bisa lebih cepat menjerembabkan apa saja, dan lebih tajam dari senjata, khususnya yg menentang arus kebaikan. Selamat bertugas, kiranya melawan buaya perlu lebih butuh tenaga dan mengangkat kepala, tegas, dan bila perlu lebih beringas.

# Indonesia tanpa berita ibarat suara tanpa kepala, suaranya kemana2, ditanya darimana semua menjawab lupa. Amnesia.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Friday, August 18, 2017 - 22:00
Kategori Rubrik: