Warisan SBY Banyak, Tetapi Sayang Kalah Banyak

Oleh : M. Jaya Nasti

Siapa bilang mantan Presiden SBY selama sepuluh tahun berkuasa tidak punya warisan dan jasa bagi bangsanya? Banyak sekali warisan yang ditinggalkannya yang masih digunakan dan masih kita nikmati sampai saat ini. Bagi para pelancong ke Bali misalnya, ada jalan tol di atas laut yang membentang dari Denpasar sampai Nusa Dua sepanjang 12 km. Jalan tol di atas laut itu dibangun pada masa pemerintahan SBY, dan ditongkrongi setiap minggu oleh Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN supaya cepat selesai. Sekarang jalan tol di atas laut itu menjadi salah satu ikon dan kebanggaan Bali.

Di Sumatera Utara ada bandara internasional Kuala Namu, yang juga dibangun pada masa pemerintahan SBY. Sekarang Bandara Internasional Kuala Namu menjadi bandara kebanggaan masyarakat Sumut. Konon fasilitasnya tidak kalah dari Bandara Kuala Lumpur di Malaysia. Supaya lebih komplit, sekarang sedang dibangun fasilitas jalan kereta api cepat ke Medan

Demikian juga jembatan Suramadu yang menghubungkan pulau Jawa dengan Madura, dibangun para era dan diresmikan oleh Presiden SBY. Pelabuhan Teluk Bayur di Padang dan Teluk Bay di Bengkulu juga telah disulap menjadi pelabuhan peti kemas, menjadikannya pelabuhan-pelabuhan utama di pantai Barat Sumatera. Tentu saja masih sangat banyak warisan SBY lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Jadi mantan Presiden SBY tidak perlu gundah gulana melihat pembangunan infrastuktur ekonomi oleh penggantinya, Presiden Jokowi yang terkesan lebih cepat, lebih banyak dan tersebar luas dari Aceh sampai ke Papua, pada hal Jokowi baru 1,5 tahun memerintah.

Ada situasi yang berbeda pada zaman SBY dan Jokowi yang menyebabkan banyak sedikitnya warisan dibangun kedua presiden. Pada masa SBY, APBN terkuras oleh subsidi BBM yang sangat besar, yang mencapai hampir Rp 250 setiap tahun. Presiden SBY terkesan ragu dan takut untuk menghapus subsidi BBM, karena konsekwesinya ia akan berhadapan dengan DPR yang sok membela rakyat dan rakyat lapisan menengah-bawah. Akhirnya SBY memutuskan tidak menghapus subsidi BBM. Akibatnya Negara tidak mempunyai banyak dana untuk melakukan pembangunan infrastruktur ekonomi dan program kesejahteraan sosial.

Pada saat pemerintahan berganti, Presiden Jokowi dengan berani menghapus subsidi BBM, khususnya jenis premium. Hasilnya, pemerintahan Jokowi mempunyai cukup banyak dana untuk melancarkan program pembangunan kesejahteraan sosial dan pembangunan infrastruktur ekonomi.

Presiden Jokowi ternyata mau menanggung resiko menjadi sasaran kemarahan DPR dan rakyat golongan ekonomi menengah. DPR marah dan tercengang tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Rakyat yang selama ini mendapat subsidi BBM paling banyak tentunya langsung menjadi pembenci Presien Jokowi.

 Akan tetapi Presiden Jokowi menyebut subsidi BBM yang telah berlangsung lama sebenarnya salah sasaran. Yang menikmatinya adalah rakyat yang tergolong mampu membeli mobil yang mengkonsumsi BBM paling banyak. Sedangkan rakyat miskin golongan bawah tidak memerlukan BBM. Yang mereka perlukan adalah ketersediaan gas elpiji yang memang masih diberi subsidi. Presiden Jokowi yakin, kemarahan rakyat itu akan menyusut dan hilang berganti rasa syukur, setelah melihat infrastruktur ekonomi selesai dibangun.

 Jadi hambatan mantan Presiden SBY dalam membangun warisan adiluhung yang banyak dan berguna rakyatnya serta menjadi amal salehnya, adalah ketakutan dalam dirinya. Ada masalah sikap mental kepemimpinan, yaitu penakut dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Ia lebih mementingkan citra sebagai pemimpin yang baik hati. Seharusnya citra itu tidak lagi terlalu penting sejak ia terpilih untuk periode kedua, sejak 2009. SBY seharusnya pada 5 tahun terakhir masa pemerintahannya ngebut membangun warisan yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Subsidi BBM seharusnya sudah dihapus pada akhir 2009 itu juga. Minimal dari APBN selama lima tahun akan tersedia Rp 1000 triliun untuk membangun infrasturuktur ekonomi, sebagaimana yang dilakukan PresidenJokowi saat ini.

 Itulah penghambat utama SBY dalam menciptakan banyak warisan bagi bangsa dan negaranya. Tentu saja masih banyak penghambat yang lain. Misalnya ia terkesan sangat santai. Ia mengurus Negara bak pilot pesawat terbang yang memencet tombol “auto pilot”. Ia diejek sebagai Presiden yang mengurus Negara sambil menciptakan lagu dan membuat album.

Pada masa awal pemerintahan SBY periode pertama terjadi bencana tsunami di Aceh yang menyebabkan 200 ribu orang meninggal dunia. Selanjutnya pada masa awal pemerintahan SBY periode kedua terjadi pula kekacauan politik karena skandal Bank Century yang merugikan Negara sampai Rp 6,7 Triliun. Ada kecurigaan sebagian dana untuk Bank Century itu mengalir keluar, untuk keperluan Kongres Partai Demokrat. Skandal itu menyebabkan Wapres Budiono menjadi tersandera untuk berfungsi secara optimal selaku wapres, karena dianggap terlibat dalam Skandal Bank Century tersebut. Bencana alam tsunami Aceh dan skandal Bank Century ini menyebabkan SBY terseok langkahnya dalam melancarkan program-program pembangunan.

Selain itu SBY juga lemah dalam mengendalikan para kadernya di Partai Demokrat yang ia pimpin sendiri. Mereka berpesta pora menikmati kemenangan pada Pemilu 2009 dengan menggasak uang Negara. Akibatnya warisan adilihung yang disiapkan pemerintahan SBY sebagian berbau korupsi dan mangkrak, seperti Proyek Hambalang. Akhirnya para kader dan orang dekat SBY, satu per satu dicokok KPK dan diseret ke pengadilan tipikor. Tercatatlah nama-nama kader SBY seperti Muhammad Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, Sutan Bhatugana dan terakhir Jero Wacik yang saat ini tengah menjalani hukuman di penjara. Sekian dulu, salam dari saya. ** (ak).

Sumber tulisan : kompasiana.com

Sumber foto :mindtalk.com

 

 

Monday, March 21, 2016 - 18:30
Kategori Rubrik: