Warga Menolak Aksi dan Akan Melawan

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Apa jadinya jika peserta demo yang mengaku rakyat akan dihadapi oleh warga yang mulai kesal dengan ulah mereka berkerumun dan menyebarkan virus? Jangan dikira seluruh rakyat itu satu suara dengan pendemo. Lha terus rakyat yang tidak setuju demo itu mau dianggap apa? Kaleng2? Maka kita pun terheran jika peserta demo selalu bicara atas nama rakyat dan UUCK tidak mensejahterakan rakyat.

Saat ini, warga di semua daerah sudah mulai muak dan akan melakukan perlawanan balik kepada peserta demo yang berpotensi menimbulkan kerusuhan. Bagaimana pun warga sekitar yang paling merasakan jika wilayahnya diporak-porandakan peserta demo dan menjadi sumber penyebaran virus. Merekalah yang paling merugi. Sementara bisa dipastikan peserta demo tidak ada yang berasal dari daerah lokasi demo.

Sehingga mereka gak peduli lingkungan itu menjadi rusak dan menjadi sarang virus. Mau rusuh? Hadapi dulu rakyat warga sekitar. Rakyat akan melawan rakyat? Sempat beredar issue itu, seperti yang terjadi di Jakarta Barat. Warga akan melakukan perlawanan terhadap perusuh demonstrasi. Menanggapi kabar tersebut, pihak Polri-TNI meminta warga untuk tetap di rumah dan menjaga rumahnya masing-masing, sementara keamanan lingkungan akan dijaga oleh TNI-Polri.

Hal tersebut dinyatakan oleh Kapolres Jakarta Barat Audie S Latuheru dan Kolonel Inf Dadang Ismail Marzuki, pada Senin (19/10/2020) pagi. Polri-TNI mengumpulkan ketua RT dan Camat se-Jakarta Barat untuk menyampaikan imbauan tersebut, "Kita samakan persepsi dengan Pak Dandim, jangan sampai ada bentrok antar warga. Sudah, warga jaga rumahnya masing-masing aja nanti kami TNI Polri yang jaga diluar. Kami yang jaga di luar," kata Audie.

Senada dengan imbauan Audie, Kolonel Inf Dadang Ismail Marzuki juga meminta warga untuk tinggal di rumah saja. Hal ini disebabkan pihaknya malah sempat kesulitan membedakan antara masyarakat sekitar dan massa aksi, 'Kami kemarin repot mau membedakan mana masyarakat sekitar dan mana peserta aksi pendemo susah sekali. Artinya untuk jaga keamanan kita bersama," ujarnya.

Polri-TNI turut merangkul RT RW setempat untuk mengingatkan warga supaya tidak turun ke jalan, dan agar pelajar tidak ikut demonstrasi, "Masyarakat yang kita libatkan RT RW untuk mampu mengimbau warganya supaya tidak usah turun ke jalan, dan mengingatkan siswa untuk di rumah saja, tidak ikut aksi sehingga kita lebih bisa membedakan," tambahnya.

Meski demikian, pihaknya tetap mengingatkan warga untuk mengantisipasi perusuh yang masuk ke lingkungan warga ketika demo berujung rusuh. Untuk itu, warga diingatkan bisa membedakan mana perusuh dan mana pengunjuk rasa, "Juga kita sampaikan kepada warga mana pengunjuk rasa dan mana perusuh. Tadi saya sampaikan kepada mereka, apa yang dibawa mereka itu mengidentifikasi mereka. Kalau yang dibawa itu spanduk, toa dan bendera itu pengunjuk rasa. Kalau yang dibawa bom molotov ya perusuh," ucap Audie.

Jadi sekali, kepada warga sekitar lokasi demo tidak perlu khawatir. Guna mengurangi resiko 'salah tangkap' dan berpotensi tertular virus, maka sebaiknya di rumah saja serta menjaga lingkungannya masing-masing. Tandai jika ada oknum-oknum perusuh yang masuk ke kompleks karena lari dikejar aparat. Jaga juga anak-anak muda agar jangan sampai mudah terprovokasi ikut-ikutan berlaku anarkis. Biarkan saja mereka yang berbuat mereka pula yang harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Thursday, October 22, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: