Warga DKI Tak Perlu Hiraukan Fatwa MUI

Oleh : Muhammad Nurudin

Di tulisan sebelumnya saya menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa saya bukan simpatisan Ahok dan juga tak akan memilih Ahok jika saya ditakdirkan hidup di kota yang dipimpin oleh Ahok sekarang ini. 

Ahok menang atau tidak bagi saya tak berarti sama sekali. Kalau menang dan bisa mengurusi jakarta ya Alhamdulillahi, tapi kalau sekiranya dia kalah dan jakarta tetap antah-berantah bagaikan sampah dengan pemimpin yang bisanya cuma ongkang-angkang kaki, ya Na'uzubillah sekali.

Saya tak peduli dengan orang-orang yang memandang bahwa Ahok itu kafir dan tak boleh dipilih lagi meskipun dia sudah berbakti kepada DKI. Sebagaimana saya juga tak peduli dengan manusia-manusia yang suka menyapu-ratakan bahwa semua (kelakuan) Muslim itu suci meskipun dia suka korupsi dan mempolitisasi ajaran Islam yang suci. 

Baik orang Muslim maupun orang Kristiani, bagi saya semuanya adalah orang-orang suci, karena mereka semua diciptakan oleh Yang MahaSuci yang kesucian-Nya meliputi orang-orang yang suci dan tidak suci.

Menistakan orang yang suci sama saja dengan merendahkan kesucian yang MahaSuci. Dan saya tidak mau kesucian orang telah disucikan oleh Yang MahaSuci dikotori oleh orang-orang yang menganggap dirinya lebih suci dan merendahkan orang lain yang dia pandang tak suci. 

Dalam konteks pemilihan nanti, hemat saya, yang harus dipilih dengan sepenuh hati ialah orang yang memiliki kualifikasi dan bisa dipercaya untuk mengurus DKI. Tidak merugikan yang itu, dan tidak menghancurkan yang ini. Yang dipilih adalah pemimpin yang bisa mengayomi dan membenahi, terlepas apakah dia orang Islam, maupun orang Kristiani.

Kalau Ahok benar-benar merugikan umat Islam yang menjadi sebagian besar warganya kini, menistakan Agama kami, dan melarang kami untuk menyembah Tuhan Yang MahaSuci, saya dan anda wajib mengutuk perbuatan Ahok dan sebaiknya warga DKI jangan sudi memilih pemimpin semacam ini.

Tapi kalau Ahok sudah berbakti dengan baik sekali, lalu dia dizalimi dengan cara mengungkit-ngungkit kembali kesalahannya di kampung Pulau Seribu tempo hari, diperkosa hak-hak konstitusionalnya dengan butiran ayat suci, didemo dengan cara-cara yang membuat dia sakit hati, saya dan anda harus mengutuk perbuatan semacam ini, meskipun pelakunya adalah orang-orang dari kalangan kita sendiri.

Lama kelamaan setelah melihat kelakuan orang-orang Islam saya jadi empati dengan orang yang satu ini. Hanya karena ucapannnya di kampung Pulau Seribu tempo hari dia digunjing dan disudutkan setiap hari.

Hanya karena mengutip surat al-Maidah tanpa berniat melecehkan dan menistakannya dia dihakimi oleh orang-orang MUI. Dan hanya karena fatwa MUI yang menuduh Ahok telah menghina kitab suci, sebagian dari umat Islam pada akhirnya jadi alergi dan tak sudi memilih dia di pentas pemilihan Gubernur DKI nanti.

Ahok sudah terzalimi. Saya akan merasa sakit hati sekali kalau saya menjadi Ahok seperti sekarang ini. Dan saya ingat sabda Nabi yang berkata bahwa: barang siapa yang menyakiti seorang dzimmi (non-Muslim yang mendapat perlindungan dari negara), maka dia telah menyakitiku (man adza dzimmiyyan faqad adzâni). Luar biasa sekali sabda Nabi yang satu ini.  

Nah, karena saya tak berani menyamakan Ahok dengan Abu Jahal dan Abu Lahab yang sudah dipastikan nyemplung kedalam neraka nanti, maka tak keliru rasanya kalau saya memasukan Ahok kedalam kategori "kafir" yang satu ini; yang harus dilindungi dan harus dihormati, tak boleh dizalimi apalagi dinistakan dengan kata-kata yang tidak layak sama sekali.  

Sekarang saya merasa tersakiti dengan kezaliman yang dilakukan oleh saudara-saudara saya sendiri kepada orang ini. Di ILC dia dikatakan harus dimutilasi atas nama hukum Islam yang suci. Dan di dunia maya pun dia masih saja diperbincangkan sebagai orang kafir yang harus dijauhi dan tak boleh dipilih dalam pemilihan Gubernur DKI nanti.

Mestinya para ulama-ulama kita yang mulia dan para politisi yang petantang-petenteng mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI bertarung secara fair saja dan tak usah memanfaatkan kesalahan Ahok di kampung Pulau Seribu tempo hari.

Dia sudah meminta maaf dengan baik hati. Kalau orang sudah meminta maaf, terima saja maafnya tanpa rasa berat hati. Bukankah ini akhlak yang diajarkan oleh Nabi?

Lihat dengan hati nurani anda sendiri. Nabi dicaci-maki, dilukai, diusir bahkan diperangi dalam kurun waktu puluhan tahun saja bisa memaafkan orang-orang yang saban hari mau membunuh dan menghalangi penyebaran ajarannya tanpa berat hati sama sekali. Idzhabû fa antum Thulaqâ (Silakan pergi, kalian bebas). Demikian sabda Nabi ketika ia tegak berdiri di dekat Ka'bah yang suci.

Nabi melupakan dosa dan kelakuan orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Ummayyah bin Khalaf, Abdullah ibn 'Ubay ibn Salul, dan manusia-manusia sejenisnya yang tak hanya menistakan kitab suci, tapi juga meludahi, melukai bahkan menghalangi penyebaran dakwahnya di negeri yang kini menjadi singgasan orang-orang Wahabi. 

Semua orang Islam tahu ini. Tapi tidak tahu entah kenapa, saya heran sekali, giliran Ahok yang hanya (dituduh) melecehkan kitab suci sehari, sudah meminta maaf dengan baik hati, masih saja dilucuti dan dizalimi tanpa ampun sama sekali.

Mereka selalu berdalil dengan ayat-ayat suci. Padahal mereka juga tahu bahwa ayat suci yang kita imani itu multi-interpretasi dan tak bisa dipaksa-paksakan sesuka hati.  

Atas nama kemanusiaan, saya—yang bukan siapa-siapa ini—ingin membela hak-hak konstitusional Ahok yang berhak untuk maju dan dipilih dalam pemilihan Gubernur DKI nanti.

Saya ingin melihat nama Basuki Tjahaja Purnama tetap bercahaya dan bertarung secara fair dengan calon-calon lainnya tanpa harus mengungkit-ngungkit polemik surat al-Maidah yang tak dia lecehkan sama sekali. 

 

Saya juga ingin agar umat Muslim yang sudah percaya dengan kinerja Ahok selama ini, tidak takut masuk neraka hanya karena fatwa orang MUI. Biarkan saja MUI mengeluarkan fatwanya sendiri. Tapi menyangkut hasilnya, boleh anda ikuti, dan tak apa-apa anda ingkari, jika memang anda punya argumentasi.

Karena Indonesia adalah negara demokrasi, bukan negeri teokrasi. Indonesia bukan hanya milik MUI, tapi Indonesia adalah milik semua orang yang hidup di negeri kita ini. Semua warga negara memilik hak penuh untuk ikut pemilihan dan dipilih oleh orang-orang yang memercayai, baik itu Muslim maupun Kristiani. 

Saya ingin berpesan kepada warga DKI. Jika hati nurani anda berkata bahwa masih ada calon yang lebih baik dari Ahok, baik pemimpin itu Muslim maupun non-Muslim, pilihlah pemimpin itu dan jangan hiraukan Ahok sama sekali.

Tapi jika anda berkeyakinan bahwa calon-calon tandingan Ahok itu kurang baik dan kurang bisa dipercaya meskipun mereka beragama dengan agama Islam yang suci, saya tak menganjurkan anda untuk memilih itu dan menolak yang ini, tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa kalaupun anda memilih Ahok—menurut tafsiran para Ulama kami—insya Allah Ahok halal dipilih dengan sertifikasi Islami dan pemilihan anda tak akan berkonsekuensi pada kekufuran ataupun ancaman neraka di hari nanti.

Soal masuk neraka atau tidak, sejujurnya itu hak prerogatif yang MahaSuci, bukan hak bapak Jokowi, juga bukan hak orang-orang MUI. Soal keharaman memilih non-Muslim, wahai warga DKI yang kami hormati, itu hanya perselisihan interpretasi di lingkungan ulama-ulama kami. Dan sejauh menyangkut interpretasi, pasti ada ulama yang mengatakan pendapat yang itu, dan pasti ada ulama yang mengamini pendapat yang ini.

Silakan anda pilih interpretasi yang sesuai dengan hati nurani. Tak usah hiraukan orang-orang yang bilang bahwa Basuki tak boleh dipilih dalam kontes pemilihan nanti dengan mengatas-namakan kitab suci.

Harus diingat, warga DKI, baik Basuki maupun orang MUI, semuanya adalah ciptaan Allah yang harus dimuliakan dan tak boleh disakiti apalagi dizalimi.

Jika Ahok menzalimi orang MUI, kita hakimi dia dengan cara-cara yang diajarkan oleh Agama Islam yang suci. Tapi sekali Ahok yang non-Muslim dizalimi oleh orang-orang MUI, kita tak perlu takut dan kikuk membela Ahok karena dia adalah hamba Allah yang harus kita lindungi dan kita hormati berdasarkan konstitusi dan kitab suci.

Inilah pelajaran terpenting yang saya dapatkan dari ulama-ulama negeri para Nabi selama empat tahun merajut mimpi di sini. Merekalah ulama-ulama sungguhan yang telah mengajarkan saya akan pentingnya bertoleransi dan bersikap adil kepada orang-orang yang terzalimi, meskipun keyakinan kita dan keyakinan mereka berbeda sama sekali.  

Inilah ajaran Gus Dur dan ulama-ulama sejenisnya yang dulu saya pandang nyeleneh sambil mengerenyitkan dahi. Bahwa semua manusia di muka bumi ini, kafir maupun Muslim, harus dimuliakan dan tak boleh dizalimi. Sekali ada yang menzalimi, kita lawan dengan cara-cara yang Islami, meskipun dia tak beragama dengan Agama Islam yang kita cintai. 

Saya baru sadar dan tahu sekarang ini, kenapa dulu Gus Dur lantang sekali menyuarkan hak-hak asasi dan butir-butir konstitusi di hadapan publik tanpa peduli sedikitpun dengan orang-orang yang mencaci.

Saya baru sadar dan tahu sekarang ini, kenapa dulu Gus Dur lantang sekali membela orang-orang seperti Inul yang hobi menari, dan Ulil Abshar Abdalla yang—dalam pandangan sebagian orang—telah menodai ajaran Islam yang suci.

Mulai sekarang, warga DKI, pilihlah calon pemimpin anda nanti dengan menggunakan hati nurani. Jika anda percaya bahwa orang-orang yang berbusana Islami itu lebih baik dan lebih bisa dipercaya ketimbang Basuki, jangan pilih Basuki, tapi pilihlah orang-orang seperti tadi.

Tapi jika anda percaya bahwa Basuki lebih baik dan lebih bisa dipercaya ketimbang orang-orang yang berpakaian Islami, meskipun dia seorang Kristiani, pilihlah Basuki dan jangan hiraukan fatwa-fatwa orang MUI sama sekali.

Tak perlulah anda membela fatwa MUI setengah mati karena fatwa mereka bukan kitab suci yang harus diamini dan tak boleh dikritisi. Tak perlulah anda mengibarkan bendera fatwa MUI sampai angkat tangan dan kaki karena fatwa mereka bukan rukun iman yang harus ditelan dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Tak perlulah anda mewajib-wajibkan umat Islam yang lain untuk mengimani dan mengamini fatwa MUI karena kewajiban mengimani fatwa mereka tak persis sama dengan mengimani kewajiban salat yang kita lakukan setiap hari.

Sejauh fatwa tersebut memperteguh keutuhan NKRI, kita dukung dan tak boleh kita nistakan sama sekali. Tapi kalau fatwa MUI itu mengancam keutuhan NKRI, kita kritisi dan kita tak perlu takut masuk neraka hanya karena melanggar fatwa MUI yang beraroma diskriminasi.

Kalau yang memberojolkan fatwa itu adalah orang-orang setingkat Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, KH. Said 'Aqil Siradj, Habib Luthfi, dan ulama-ulama sejenisnya yang memiliki tingkat keilmuan tinggi dan tak suka menebar ajaran yang penuh diskriminasi, mungkin kita perlu berpikir dua kali untuk mengkritisi fatwa ulama-ulama semacam ini.

Tapi kalau fatwa itu keluar dari orang-orang yang suka memperbesar persoalan sepele dan berani mengutip hukum bunuh dan mutilasi dengan mengatas-namakan ajaran Islam yang suci, alah, sudah, seputih apapun jubah mereka, selebat apapun bulu dagu mereka, tak ada gunanya kita menghiraukan fatwa-fatwa orang semacam ini.

Orangnya tetap harus kita hormati. Tapi fatwanya tak perlu ragu untuk kita lucuti dan kritisi sejauh fatwa tersebut mengandung unsur-unsur intoleransi dan diskriminasi.

Jika anda berjumpa dengan mereka, ciumlah tangan mereka sebagaimana anda mencium tangan ayah anda sendiri. Tapi kalau anda membaca fatwa mereka dan hati anda menjerit tersakiti, tolaklah fatwa tersebut tanpa harus meludahi kehormatan orang yang mengeluarkan fatwa itu sendiri.

Sungguh, negeri ini terlalu mahal untuk dikotori oleh orang-orang yang ingin ongkang-angkang kaki di istana DKI dengan memanfaatkan polemik seputar ayat suci yang tak pantas untuk dibawa-bawa ke ajang kontestasi.     

Sekali lagi, warga DKI, pilihlah orang-orang yang berpakaian Islami jika mereka lebih baik dan lebih bisa dipercaya dari Basuki. Tapi jika anda meyakini bahwa Basuki lebih baik ketimbang mereka-mereka yang berpakaian Islami, wahai orang DKI,  jangan ragu untuk pilih Basuki, karena yang berhak menghakimi pilihan anda adalah nurani anda sendiri, bukan fatwa MUI yang sarat akan diskriminasi!

Saya Azhari, dan saya memilih orang-orang berpakaian Islami jika mereka lebih baik ketimbang Basuki. Saya Azhari, dan saya memilih Basuki jika Basuki lebih baik dari orang-orang yang berpakain Islami.

Catatan:

"Tulisan ini saya hadiahkan untuk ruh almarhum Gus Dur yang secara tidak langsung telah mengajarkan saya akan pentingnya bersikap lantang menentang seluruh kebijakan dan fatwa yang beraroma diskriminasi dan intoleransi di negeri kita ini. Semoga Gus Dur tenang di alamnya yang sekarang ini. Dan semoga kelak kita bisa berjumpa dengannya bersama Nabi yang sama-sama kita cintai."  

Kairo, Zahra-Nasr City, 14 Oktober 2016   **

Sumber : Qureta.com

Saturday, October 15, 2016 - 14:30
Kategori Rubrik: