Wapres Sang Kyai

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Sejak beberapa bulan yang lalu, ketika tangan saya mulai aktif menulis tentang banyak hal dan bermacam-macam cerita yang beragam. Tentang perjalanan melihat dunia, kisah hidup dan cinta, agama dan juga tentang riuh rendahnya dunia politik Indonesia, serta cerita malam Jum’at yang seram. Saya banyak menulis tentang ayahanda Jokowi, karena saat ini saya belum menemukan sesuatu untuk menuliskan bentuk kritikan sehingga yang bisa saya tulis hanyalah segala pujian dari hati yang paling dalam. Tapi terus terang, jarang sekali saya menulis tentang sang pasangan, seolah-olah saya tidak pernah melihat beliau karena mata saya agak sedikit terpejam.

Bukan karena dendam dan bukan ingin mencari-cari sesuatu untuk menjadi alasan kenapa saya tidak pernah membahas tentang beliau bahkan juga jarang sekali menuliskan namanya. Masih terbayang saat beliau memberikan kesaksian dalam persidangan si Kokoh yang menjadi idola, yang banyak menguras air mata. Hati ini masih tidak bisa menerima, ingin sedikit memberontak waktu ayahanda Jokowi mengambilnya untuk menjadi teman pendamping dalam melangkah. Saya kemudian mengikhlaskan diri menuruti kehendak sang Imam karena tahu kalau ini adalah yang terbaik bagi seluruh bangsa.

Hati ini masih tidak bergeming walaupun beliau sudah meminta maaf atas peristiwa yang lalu secara terbuka. Segala pemberitaan tentang usaha yang beliau lakukan dalam mengumpulkan suara hanya lewat di beranda tanpa pernah saya buka. Saya juga masih tidak melihat sosok beliau saat berdiri mendampingi ayahanda dalam sesi debat pertama. Ketika ada konspirasi teori saat si Kokoh keluar dari penjara, yang katanya nanti akan menggantikan beliau di tengah jalan, dalam hati saya malah ingin percaya.

Tapi saat melihat video rekaman debat semalam waktu beliau berdiri sendiri bicara dengan pelan dan pasti menerangkan tentang rencana pemerintah. Baru saya menyadari kalau beliau tidak ada kekurangannya dan malah tampak sangat gagah. Melawan anak bau kencur yang baru lahir kemaren sore yang bicara tidak jelas dan asal mangap saja. Mau tidak mau saya angkat topi dan memberikan salam hormat kepada sang Kyai, ya mustafa.

Sang Kyai yang lahir di Tangerang, Banten kaya dengan pengalaman berorganisasi serta hiruk pikuk dunia politik. Lulusan dari Universitas Ibnu Khaldun, malang melintang di dunia perpartaian menemani sang bapak bangsa, Gus Dur yang dikenal sangat eksentrik. Diangkat menjadi Rais Aam NU yaitu perkumpulan berbasis agama dengan pengikut terbanyak di Indonesia. Sekarang beliau masih menjabat ketua MUI, ya pak Kyai tolong tendang bokong si pak tua bersorban yang sering mengaku-ngaku menjadi ulama.

Sedikit merinding saat mendengar beliau berkata tentang beasiswa dunia pendidikan yang akan dilanjutkan sampai ke bangku kuliah. ‘Anak-anakku semua, jangan kalian takut bermimpi, jangan kalian takut untuk bercita-cita. Orang tua tidak perlu terlalu khawatir akan masa depan anak-anaknya. Kalian jangan takut dan jangan sedih, karena sekarang negara telah hadir dan akan selalu hadir untuk membantu mewujudkannya’.

Salam hormat untuk anda, KH Ma’aruf Amin.

Tabik.

Sumber : Website BUsterKadrisson.com

Monday, March 18, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: