Waliyullah Itu Bernama KH Abdurrahman Wahid

ilustrasi
Oleh : Mahmod Syaltout
 
Membaca berita ini https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-3931503/ratusan-juta-hasil-kotak-amal-makam-gus-dur-disedekahkan-kembali, aku pun teringat bahwa dulu sekali, pernah bertanya pada Almarhum Mbah Kyai Tajul Anwar, “Mbah, mengapa makam para wali, para sunan, para bujuk, itu tidak dihancurkan saja? Biar orang tidak lakukan kemusyrikan? Kehadiran makam-makam itu tidak ada manfaatnya. Toh, beliau-beliau itu sudah wafat dengan tenang, khusnul khotimah, sudah tak butuh penghormatan sedemikian rupa?”
 
Mbah Kyai Tajul seingetku menjawab demikian:
 
Ya betul, para Waliyullah itu tidak butuh kita. Tapi lihatlah dengan sudut yang lain. Jama’ah datang ke makam itu dengan banyak hajat, keinginan dan maksud. Memang kamu datang ke makam, nyembah makam? Nyembah Sunan? Nyembah Bujuk? Minta sesuatu pada orang-orang sholeh itu? Gak khan? 
 
Makam para Waliyullah ini sering kali, memberikan pelajaran banyak hal, selain karomah-karomah yang menyertainya. 
 
Pertama, tahukah kamu, berapa banyak orang yang sudah putus harapan, tak punya teman bicara, dan tak punya cukup uang untuk datang ke psikolog atau ke pengacara, untuk sampaikan uneg-unegnya, untuk sampaikan keluhannya, permintaan keadilannya, dan seterusnya datang ke makam para waliyullah ini? Mereka datang, sambat, yang aslinya ya ngomong dengan dirinya sendiri, terapi ngomong, self healing, dan tentu saja gratis. Coba bayangkan jika mereka datang ke psikolog atau pengacara terkenal yang biasa kasih resep dan solusi ces pleng? Coba dihitung biaya fee-nya berdasarkan waktu paling tidak sama selama baca Yasin, Waqi’ah dan Ar-Rahman? Kamu sudah teliti, berapa banyak orang yang setres karena gak kuat nanggung beban hidup, gak punya tempat sambat, kemudian depresi berat, sakit kemudian mati, atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri?
 
Oh ya, Mbah paham, kamu pasti mau bilang, bahwa para peziarah itu bisa saja langsung terapi ngomong, self healing, dengan berdoa langsung kepada Allah. Ya khan? 
 
Tapi, tahukah kamu, bahwa tidak semua orang bisa berdoa dan ngobrol asyik-masyuk dengan Gusti Allah kapan pun dan di mana pun, meskipun Gusti Allah Maha Mendengar dan bisa mendengar kapan pun dan di mana pun? Tentang ngomong, tentang ngobrol, sambat, memang semua orang bisa ngomong, ngobrol, sambat dengan Presiden, Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Lurah, Kepala Desa, Kepala Sekolah saat di kakus, di kamar tidur? Kalau punya hubungan dekat, ya bisa di mana saja. Kalau tidak? Butuh tempat dan waktu khusus khan? Bahkan saat tidak kenal sama sekali, dan tampak susah sekali menghubungi beliau-beliau itu, kita butuh perantara, penghubung khan? 
 
Nah, para Waliyullah ini dipercaya oleh para peziarah sebagai perantara, penghubung atau wasilah dengan Gusti Allah, dan makam-makam para Waliyullah ini, dipercaya juga sebagai tempat yang cocok, yang cukup bisa menghadirkan keintiman antara Gusti Allah dan para peziarah ini. Sedangkan saat para peziarah yang lain hadir, membaca Qur’an, sholawat dan tahlil, atau justru saat hening, menciptakan suasana batin, waktu yang juga dianggap tepat bagi para peziarah untuk bicara, ngobrol langsung dengan Gusti Allah.
Kedua, tahukah kamu bahwa makam-makam para Waliyullah ini memberikan banyak pelajaran bagi kita yang mau berpikir, mengaji dan mengkaji? Makam, seperti kuburan pada umumnya, harusnya bisa memberikan pelajaran pada kita semua, pengingat pada kita semua, bahwa kita semua akan mati. Sesholeh apa pun kita, se’alim apa pun kita, sebaik apa pun kita, pasti mati, pasti menghadap Gusti Allah. Oh ya tentu, para Waliyullah ini sudah siap dan tentu saja senang hati saat menghadap Sang Pecinta, yang menurut riwayat beliau-beliau ini wafat dan dimakamkan dalam keadaan penuh senyum, senyum kerinduan abadi terhadap Yang Maha Abadi. Kamu pernah bayangkan kalau keadaan sebaliknya? Kalau orang-orang yang mursal, jahat, bangsat, ndhak genah, jauh dari tuntunan Gusti Allah dan kemudian mati, kira-kira apa mereka akan mati penuh senyum? Kalau seperti itu, kamu pingin mati dalam keadaan baik-baik, khusnul khotimah seperti para Waliyullah yang makam-makamnya diziarahi ribuan dan jutaan peziarah, atau kuburan para begal begundal orang jahat yang sering kali gak jelas kuburannya, yang bahkan keluarganya kadang malu menuliskan namanya atau menziarahinya?
 
Ketiga, tahukah kamu bahwa para Waliyullah ini sesungguhnya tidak mati, tapi hidup di sisi Allah? Ya, Mbah paham, kamu pasti mau bilang kalau Mbah baru saja menyampaikan bahwa beliau-beliau ini sealim apa pun, sesholeh apa pun, mati. Ya khan? Mati itu sejatinya bagi orang sholeh, adalah saat membuat mereka tidak bisa lagi beramal sholeh. Amal ibadah terputus, saat kita mati, kecuali tiga hal: doa anak sholeh, ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah. Ya, Mbah paham kamu pasti mau bilang bahwa para peziarah itu bukan semuanya anak-keturunan para Waliyullah itu khan? Ya, betul. Bisa jadi, memang amal ibadah yang mengalir ke para Waliyullah dari para peziarah itu, bukan dari kanal yang itu, tapi dari dua kanal lainnya, ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah. Ya, karena bisa jadi karena ilmu sekaligus perjuangan para Waliyullah, para Sunan, para Bujuk, para Kyai, para guru-guru yang telah mengajarkan kita ilmu dan dengan perantara beliau-beliau itu kita bisa mengenal iman, Islam dan ihsan serta amal sholeh. Misalnya tanpa kehadiran para Walisongo dengan keilmuan dan kegigihan beliau-beliau itu, apa mungkin kita bisa jadi muslim, bisa dzikir, bisa tahlil, bisa ngaji, bisa khataman Qur’an? Ya tentu, bisa saja, kita langsung dapat hidayah dari Gusti Allah tanpa perantara beliau-beliau, tapi kemungkinan itu seberapa besar? Wallahu ‘alam. Kemudian, karena amal jariyah para Waliyullah itu untuk masjid, termasuk area makam ini, dan lain-lain? Selanjutnya, coba lihat dan perhatikan! Bagaimana  para waliyullah ini masih bisa beramal sholeh, atau setidak-tidaknya membuat orang lain bisa beramal sholeh di makam-makam para Waliyullah ini, mulai dzikir, baca tahlil, khataman Qur’an dan shodaqah? Terus sekarang, kita pikirkan, kita yang masih hidup ini, sudah berapa orang yang sudah bisa kita buat bisa ngaji, bisa khataman qur’an, bisa shodaqah, bisa beramal sholeh dan seterusnya? Ya, Mbah paham, bagaimana kita bisa membuat orang lain bisa beramal sholeh, kalau kita gak sholeh-sholeh amat? Ya, khan? 
 
Dan...
 
Pipiku memerah, seperti tertampar, dan juga mendadak basah karena air mataku yang mengalir tak terasa, karena keangkuhanku, kesoktahuanku, betul-betul dihempaskan oleh Almarhum Mbah Kyai Tajul, dan kemudian merasa malu bahwa aku sama sekali tidak ada apa-apanya, bahwa ilmu dan amal sholehku tidak ada sekuku-hitam beliau, maupun para Kyai, para Bujuk, para Sunan dan para Waliyullah, apa lagi para Nabi maupun Rasulullah...
 
Kembali ke Gus Dur dan makam beliau, berdasarkan berita ini, aku kok menjadi semakin haqqul yaqin, beliau termasuk salah satu para Waliyullah, yang masih hidup di sisi-Nya, yang tetap memberikan manfaat bagi semesta dengan amal-amal sholeh yang selalu mengalir dan selalu dikenang dengan segala ilmu, kebaikan dan perjuangannya. 
 
Bagaimana menurutmu, Sahabat?
 
Sumber : Status Facebook Mahmod Syaltout
Saturday, June 8, 2019 - 15:45
Kategori Rubrik: