Waktunya Edukasi, Bukan Ambil Untung dari Clickbait

 

Oleh: Niken Satyawati

 
Jumlah pasien Covid-19 terus meningkat dan sudah memakan satu korban meninggal dunia di Indonesia. Yang menggembirakan, pemerintah kini sudah mulai terlihat sangat serius menangani. Ratusan rumah sakit dinyatakan siap menerima pasien Covid-19. Pemerintah juga menyediakan dan membangun pusat informasi lserta menunjuk seorang juru bicara. Adapun pengobatan pasien sepenuhnya ditanggung pemerintah pusat.
 
Namun di tengah keprihatinan global akibat virus Corona, yang cukup menjengkelkan adalah pemberitaan media yang lebay yang memicu ketakutan dan kepanikan masyarakat. Media televisi tampil dengan masker yang aneh buat cari perhatian. Sementara media online makin menjadi-jadi clickbait-nya. Sebelum ini fenomena clickbait sebenarnya sudah terjadi tanpa ada pihak yang punya otoritas untuk mengingatkan dan mengontrol. Namun di tengah terjadinya wabah Covid-19 yang membuat dunia prihatin, tindakan meraup keuntungan dengan judul-judul clickbait bisa dikatakan biadab.
 
 
Sekarang ini adalah saatnya kita semua berkolaborasi dengan peran sesuai kapasitas masing-masing untuk mengatasi Covid-19 yang sudah dinyatakan sebagai pandemi global oleh WHO. Media sesungguhnya memiliki tugas mulia untuk mengedukasi dan mencerahkan masyarakat. Beri mereka informasi yang benar agar mengerti dan tidak panik dan mengambil tindakan-tindakan yang tidak perlu. Saya melihat itu sudah dilakukan sejumlah media. Namun di satu sisi judul-judul clickbait tentang Corona juga sangat mengganggu.
 
Seperti media yang membuat judul “Masturbasi Bisa Menangkal Corona”. Isinya adalah terjemahan sebuah konten berbahasa asing, namun sebenarnya sama sekali tidak membahas corona. Ada lagi berita-berita spekulatif yang menyangkut sosok-sosok besar seperti “Paus dan Asistennya Sakit, Terkena Corona?” Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Yang barusan adalah candaan Wapres, dimaknai serius oleh wartawan. Duh!
 
Judul-judul yang menjebak dipasang agar pembaca mengklik berita walau isinya seringkali tidak sesuai dengan judulnya. Dulu, judul clickbait hanya dilakukan media abal-abal. Namun sekarang sungguh sayang, dilakukan juga oleh media-media mainstream yang pernah saya cap sebagai media kredibel. Sayang sekali.
 
Fenomena clickbait yang menghinggapi media-media baik yang abal-abal maupun bukan ini, menjadi tantangan baru kawan-kawan Dewan Pers. Di tengah fenomena yang membuat jengah ini ada baiknya Dewan Pers membuat rumusan pedoman baru tentang etika media, khususnya media online. Adapun masyarakat dan netizen, jangan lelah untuk terus bersuara mengkritik model-model pemberitaan media. Di belakang media itu juga manusia. Mereka punya mata dan telinga. Semoga keresahan seperti yang saya sampaikan ini didengarkan oleh mereka.
 
 
(Sumber: Facebook Niken Satyawati)
Thursday, March 12, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: