Wakil Rakyat Bukan Gembala

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Sudah ngeliat video dari “Opini Blora”, tentang wakil rakyat yang menolak diperiksa kesehatannya oleh Tim Medis DKK Blora? 

Jelas terlihat di video durasi 2 menit itu, di Terminal Kandangan wilayah Bojonegoro, Jawa Timur, para anggota DPRD Blora tak menunjukkan sikap bersahabat. Justeru tampak arogan. Dalam video itu, seorang anggota DPRD Blora dengan suara tinggi membentak, "Kamu pejabat enggak? SOP-nya mana? Surat tugasnya mana? Kita DPR, bukan anak gembala. Pakai aturan. Pakai undang-undang." 

 

Tim Medis DKK Blora tentu sedang menjalankan tugas profesi untuk membantu pemerintah mengantisipasi penyebaran virus corona. Mereka menjalankan tugas formal negara. Tapi mungkin karena otaknya lagi swak, capek pulang dari kunker 4 hari di Lombok NTB, yang pertama kali membentak, kemudian bertanya, "Oh iya, saya tanya, jikalau masyarakat dari luar kota masuk ke Blora diperiksa, berarti setiap malam kamu memberhentikan bus luar kota ya? Terus Bupati sekeluarga ke Yogyakarta kamu periksa enggak? Terus Wakil Bupati sekeluarga ke Jakarta kamu periksa enggak?"

Ehm, jikalau! Wakil Ketua DPRD Blora, Jawa Tengah, Siswanto, ketika dikonfirmasi media, balik bertanya, “Justru saya yang bertanya, informasi dari mana kalau DPRD menolak dites dan diperiksa kesehatannya?”

Katanya, anggota dewan tidak menolak. Mereka minta di ruang tertutup. Dan sudah dilakukan, suasananya rileks, ketawa-ketawa. Kenyataanya? Lagi-lagi para terhormat yang tidak terhormat itu memang tak layak dihormati. Mereka ngibul lagi. Karena ketika tim kesehatan menunggu di RSUD Cepu, seperti janjinya, mereka tak kunjung nongol (kompasdotcom, 21/3).

Mengejutkan? Tidak sih. Itu karakter umum manusia Indonesia, ketika mendapatkan kekuasaan. Ngakunya saja kaum terdidik atau bahkan beragama. Perilaku mereka secara umum sangat tak terhormat. Jabatan publik dipakainya untuk menunjukkan kegoblogan belaka. Tentu bukan hanya anggota DPRD Blora. Arogansi ini hampir merata pada semua pejabat publik negeri ini. Pada yang kita sebut tokoh pun.

Dan rakyat, sebagai pemberi mandat orang-orang arogan itu? Nanti juga lama-lama, entah kapan, akan tahu. Selama ini mereka dikibuli terus-menerus. Saya tidak tahu bagaimana tanggapan para gembala, yang dalam pernyataan anggota DPRD tadi tampaknya tak lebih berharga dari para anggota dewan. Partai politik, menghadapi hal kek gini, biasanya diem. Pura-pura nggak punya kuping. Padal emang kagak punya. Kalau pun punya, mungkin kopok’en.

Sayangnya para gembala tak punya asosiasi profesi. Mungkin Yesus, yang katanya juga seorang gembala, tak mau ribut-ribut. Kalau kau ditampar pipi kirimu, kasih pipi kananmu. Terus saya mencoba menambahi, sudah itu baru kau bunuh penamparmu itu! Meski pun mungkin itu baru terjadi Pemilu berikutnya, sekiranya rakyat tak lagi mau ditipu amplopan Rp50.000, yang sudah dicomot korlap Rp 20.000. Jikalau!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Sunday, March 22, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: