Wajah Plongah Plongoh Si Penghasut Rakyat

Oleh : Rudi S Kamri

"Masyarakat yang telah memberikan pilihan pada Prabowo-Sandi tidak perlu lagi mengakui Pemerintah hasil Pilpres 2019 dan tidak perlu bayar pajak pada negara".

Kurang lebih seperti itulah ujaran dari FX ARIF POYUONO Wakil Ketua Umum bidang Buruh dan Ketenagakerjaan Partai Gerindra kepada media massa pada Rabu, 15 Mei 2019 yang lalu. Ujaran yang bernada hasutan keras ini diucapkan laki-laki kelahiran Jakarta 4 Februari 1971 menyikapi kekalahan yang memalukan dari juragannya Prabowo pada Pilpres 2019. 

 

Entah apa kutukan yang menimpa Partai Gerindra sehingga bisa mempunyai Wakil Ketua Umum seperti pelawak ketoprak jadul yang plongah-plongoh ini. Ujarannya yang acap kali bernada kontroversial dari Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya Jakarta ini menandakan ada masalah serius dalam koneksitas antara otak dan mulutnya. Dengan kata lain, apa yang keluar dari mulutnya tidak melalui proses analisa pemikiran sebagaimana manusia pada umumnya. Asal bunyi.

Melihat riwayat hidup seorang Arif Poyuono, terus terang saya bingung bagaimana orang dengan kualitas pemikiran dan penampilan seperti dia, bisa pernah lolos menjadi seorang Flight Attendant (Pramugara) PT Merpati Nusantara Airlines. Apakah hal ini salah satu yang menyebabkan perusahaan itu akhirnya bangkrut dan gulung tikar ? Saya tidak tahu.

Yang jelas hasutan petinggi partai kepada rakyat untuk tidak mengakui Pemerintah yang sah dan konstitusional adalah tindakan pidana yang sangat serius. Bagi saya secara tidak langsung hal ini adalah upaya tindakan makar. Apalagi ujarannya dilakukan secara terbuka. Dan hasutan dia kepada rakyat untuk tidak perlu membayar pajak seyogyanya juga harus segera ditindaklanjuti oleh aparat hukum. 

Jangan dibiarkan atas nama kebebasan berpendapat siapapun bisa mengeluarkan ujaran dan hasutan yang berpotensi besar menimbulkan perlawanan rakyat terhadap Pemerintah. Kewibawaan pemerintah dan aparat hukum negara saat ini dipertaruhkan. Sebagai rakyat biasa, saya sangat berharap aparat hukum khususnya POLRI segera menangkap dan memeriksa Arif Poyuono. Apalagi tindak pidana makar dan menghasut rakyat bukan delik aduan, bukan ?

Kalau dibiarkan, suami dari Fransiska Putri Ayu yang baru menikah tanggal 10 Februari 2019 lalu ini, akan terus merajalela mengeluarkan hasutan yang merongrong kewibawaan Pemerintah. Kalau seorang perempuan yang membuat dan memviralkan video "penggal kepala Jokowi" dapat segera ditangkap dan ditahan, mengapa seorang Arif Poyuono yang jelas-jelas menghasut rakyat dan menggalang perlawanan kepada negara tidak ditindak ?

Sindiran sarkastik bahwa hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas saat ini sedang diuji kebenarannya kalau orang yang berwajah keruh dan plongah-plongoh petinggi partai ini tidak segera ditangkap dan diadili. 

Rakyat sudah muak dengan segala hiruk pikuk keributan yang disebabkan oleh elite politik. Dan saya haqul yaqin mayoritas rakyat Indonesia akan mendukung aparat kepolisian kalau orang seperti Arif Poyuono ini segera ditindak dan pluung dimasukkan ke dalam sel. 

Ayoo Pak Polisi, mari kita bersihkan negeri ini dari parasit dan benalu yang mengganggu. Dan Arif Poyuono adalah salah satunya......

Salam SATU Indonesia,
17052019

 
 
Friday, May 17, 2019 - 07:15
Kategori Rubrik: