Wajah PKS Di Ormas Garbi

Ilustrasi

oleh Wasil Belian

Jangan berharap ada beda antara GARBI dan PKS. Dua organisasi ini sejatinya hanya bersalin wajah saja. Tapi isinya sama, gerakan kelompok tarbiyah jelmaan Ikhwanul Muslimin yang coba merebut dominasi politik Indonesia. Ini wajah HTI yang pro demokrasi.

Meski menyebut diri gerakan arah baru Indonesia, warna mereka tak ada yang baru, tak akan jauh beda dari PKS; eksklusif dan monoton; islam politik dengan pemahaman monolitik.

Seiring dengan mundurnya banyak kader PKS, nama GARBI (Gerakan Arah Baru Indonesia) mulai mencuat dan disebut-sebut sebagai musabab mundurnya banyak kader dan pengurus daerah PKS. GARBI dipimpin oleh Anis Matta dan Fahri Hamzah, dua tokoh yang dulunya ikut membesarkan PKS. Keduanya kemudian tersingkir dari elite PKS ketika Sohibul Iman terpilih sebagai presiden PKS.

Perseteruan internal antara elite pimpinan PKS tak jauh beda dengan konflik internal di parpol sebelumnya. Sebagian elite yang merasa tak puas dan tersingkir, kemudian berinisiatif mendirikan GARBI, yang dianggap lembaga alternatif untuk menampung kader-kader yang se-visi. Awalnya mereka menyebut bahwa lembaga bentukan ini hanya ormas, organisasi masyarakat biasa.

Namun, alasan mendirikan ormas saja ini ibarat isapan jempol. Semua orang pasti paham bahwa arah GARBI adalah menjadi parpol di 2024 nanti. GARBI ini mengaku sebagai ormas terbuka yang mengakomodir semua pihak yang ingin melihat Indonesia lebih baik. Itu visi mereka, namun sejatinya pola gerakan dan coraknya sama saja dengan PKS.

Basis massa yang disasar GARBI jelas adalah kader yang dulu bergabung di PKS. Jadinya nanti ormas ini akan menggerogoti PKS yang memang sudah keropos ini. Hanya saja belum ada terdengar instruksi dari petinggi GARBI untuk menggembosi suara PKS, kita tak tahu bagaimana ujung pangkal konflik internal mereka.

Selain kader PKS yang mereka targetkan, juga mereka coba menghimpun massa di sekitar komunitas terdidik yang terpapar sekolah-sekolah yang dikelola oleh kelompok tarbiyah semisal Islam Terpadu (SDIT, SMPIT dan semacamnya). Tentu saja ini menambah amunisi massa mereka selain kelompok-kelompok pengajian atau tarbiyah yang mereka bina sejak awal, dan menjadi basis massa kelompok ini.

Kalau melihat jumlah pemilih PKS di pemilu 2014 yang berjumlah 8.4juta suara (6.79% suara nasional), maka ditengarai jumlah inilah yang sedang diperebutkan PKS dan GARBI nanti. Itupun kalau PKS masih bisa berlaga di 2024. Kalau mereka kandas di 2019, bukan tidak mungkin elite PKS akan mendirikan juga parpol baru.

Konflik internal yang menghasilkan parpol baru ini bukan hal baru di jagad politik Indonesia. PDIP, Golkar, PAN, PKB, PPP dan semua partai mapan pernah mengalami perseteruan internal yang berakhir dengan pecahnya partai menjadi beberapa parpol sempalan. Jadi PKS bukanlah yang pertama mengalami hal ini. GARBI, cepat atau lambat akan muncul sebagai kekuatan parpol baru yang meramaikan kontestasi politik Indonesia.

Dahulu, mungkin hingga sekarang, ada prinsip tertentu yang selalu ditekankan terhadap kader PKS yakni Qiyadah, ketaatan kepada pemimpin. Hal prinsip ini kemudian menjamin militansi para kader untuk setia setiap saat membela partai dan pemimpinnya. Bagaimanapun kesalahan yang mereka lakukan, hatta tertangkap tangan melakukan korupsi pun, kader akan membela sepenuh hati. Tentu saja pembenaran terhadap perilaku pemimpinnya selalu ada.

Karen Qiyadah pula, kalau pemimpinnya melakukan kesalahan, ada saja alasan mereka. Bahkan tak jarang tuduhan berbalik ke mereka yang menangkap sang pimpinan. Konspirasi-lah, fitnah-lah, atau dijebak dan sebagainya, pokoknya pemimpin mereka selalu benar. Tak mungkin melakukan kesalahan.

Dengan munculnya GARBI, yang kadang secara terang-terangan menggerogoti kewibawaan pimpinan PKS, unsur Qiyadah seperti tercerabut dari prinsip dasar mereka. Bukan tak mungkin GARBI pun di masa depan akan mengalami pengkhianatan atau penggerogotan serupa. Kalau ada elite yang tak puas, kemudian memisahkan diri dengan ormas baru.

Apakah kemudian ada beda antara PKS dan GARBI. Sepertinya penonton akan kecewa. Tak ada bedanya, serupa corak dan modelnya. Tarbiyah, kader, gorengan issue-issue politik identitas (agama, mazhab) dan semacamnya. Para competitor PKS di kontestasi demokrasi konon menganggap semua kader PKS apapun namanya, sama belaka kelakuannya. Tak bisa dipercaya.

Lihat saja SBY saat menampung mereka dalam koalisi pemerintahan, sering dikecewakan karena bandelnya kader-kader ini. Mereka hanya patuh pada garis partai nya sendiri, tak peduli apa keputusan koalisi yang mereka masuki.

Mereka waham pada keyakinan bahwa hanya kelompok mereka yang benar, sedang kelompok lain berpemahaman salah. Karenanya, jangan mengharapkan loyalitas kepada mereka. Cukup manfaatkan untuk mendulang suara, karena militansi kadernya yang cukup tinggi, tapi jangan biarkan mereka mendominasi Anda atau Anda akan disingkirkannya segera.

Sumber : Status Facebook Wasil Belian

Thursday, November 15, 2018 - 08:45
Kategori Rubrik: