Wahai Warga Sumbar dan Riau, Lupakah Kalian Atas Jokowi Lenyapkan Asap?

Ilustrasi

Oleh : Afrinaldi

Dua provinsi paling lama saya menetap adalah Sumbar dan Riau. Jadi saya paham bagaimana tentang masyarakat 2 provinsi ini. Riau adalah tempat kelahiran saya dan Sumbar adalah tempat asal usul orang tua saya.

Saya masih ingat, 3 tahun yang lalu, musim kemarau adalah musim musim menakutkan bagi saya. Saya tinggal di Sumbar, walaupun di Sumbar tidak ada hutan terbakar, tapi asap kiriman dari Riau, provinsi terdekat sudah menyusahkan. Jarak pandang terbatas, nafas sesak, mata perih, itu gambaran musim kemarau dan biasanya waktunya lebih kurang 2-3 bulan per tahun. Bayangkan saja, itu penderitaan yang diperoleh provinsi tetangga yang hutannya tidak terbakar, bagaimana yang dirasakan masyarakat yang tinggal di sumbernya kebakaran hutan itu sendiri, Riau. Sejak 2016 kebakatan hutan itu sudah tidak terjadi. Saya di Sumbar lagi sudah sejak 2008. 8 tahun sejak pulang kampung disuguhi asap tiap tahun.

Sekarang, orang yang menghentikan asap itu mereka maki maki. Bagaimana, orang orang dari daerah Sumbar dan Riau yang memaki maki itu seperti itu? Apakah ingatan mereka sebegitu pendek, baru 3 tahun lepas dari asap, lupa bagaimana susahnya hidup dengan asap 3 tahun sebelumnya dan belasan tahun sebelumnya. Saya masih ingat, dalam status Facebooknya, temen SD saya yang sudah jadi dosen PTN di Pekanbaru mengeluhkan tentang asap. Waktu itu baru setahun Pak Jokowi menjabat, tapi seolah olah kebakaran hutan itu penyebabnya Pak Jokowi. Wajar saya kira, karena begitu putus asanya beliau karena berbelas tahun asap tanpa ada solusi. Sekarang dan setelah 3 tahun mereka terbebas dari asap, lupa akan penderitaannya selama ini. Saya tidak melihat status FB nya berterimakasih atas tidak adanya asap di daerah mereka. Dan saya pikir dia tidak sendiri, mungkin merata di dosen PTN dan PTS yang ada disana.

Jadi wajar saya kira mahasiswa UIR yang demo ke Pemerintah itu. Pemikiran anak tidak lepas dari pemikiran orangtua. Pemikiran murid tidak lepas dari pemikiran guru. Pemikiran mahasiswa tidak lepas dari pemikiran dosennya. Pegaruh mereka cukup besar.

Pengaruh apa? Pengaruh bahwa kita harus berterimakasih kepada siapa yang telah melepaskan kita dari kesusahan, dan itu tidak mereka lakukan.

Sebagai catatan. Korupsi paling banyak di kalangan PNS terjadi di Pekanbaru. Jadi mahasiswa UIR yang demo, apakah pekerjaan mayoritas orangtua orangtua kalian adalah PNS di Pekanbaru?

Yang paling fenomenal, Gubernur Riau hattrick menjadi pesakitan KPK. Mungkin jenis pimpinan ini yang mereka suka. Pemimpin yang kerja benar, walau tidak sempurna mereka benci.

Sumber : Status Facebook Afrinaldi

Friday, September 14, 2018 - 23:15
Kategori Rubrik: