Wahabisasi VS Islam Nusantara

Ilustrasi

Oleh : Fathur Rozi

KSA menjadikan Wahhabi sebagai madzhab resmi kerajaan untuk keberIslaman di Arab Saudi. KSA jg menggelontorkan dananya untuk proyek Wahhabisasi di seluruh dunia dan menjadikan KSA negara yg berpengaruh bukan hanya dalam keagamaan namun juga geopolitik.

Andaikan saja tujuan KSA membangun koalisi dunia Islam adalah untuk melawan Amerika dan Israel pasti ummat Islam di seluruh dunia dr berbagai madzhab termasuk ummat Islam Indonesia yg bermadzhab Sunni pasti jg mendukung. Namun masalahnya adalah kelompok Wahhabi Indonesia yg didanai KSA justru mendukung gerakan yg diciptakan oleh Amerika cs.

Oleh sebab itu, NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia melalui kepengurusan Kyai Said Aqil Siroj melihat fenomena ini sebagai tantangan utama ummat Islam dunia bukan hanya Indonesia. Kyai Said Aqil Siroj tampak sangat lantang menyuarakan anti Wahhabisasi 5 thn terakhir dgn banyak statemen2 yg secara langsung maupun tak langsung menyerang balik kelompok Wahhabi yg gencar menyebarkan fahamnya dan banyak menyerang amaliah warga Nahdliyin.

Di tengah-tengah penguasaan kelompok Wahhabi dalam berbagai media termasuk media sosial, Kyai Said menjadi target utama Character Assanisation kelompok Wahhabi. Demikian itu (Character Assasination) diperparah oleh ketidak siapan warga Nahdliyin menghadapi perang media sosial sehingga sebagian kecil generasi muda NU yg masih unyu-unyu dgn gerakan geopolitik dan Wahhabi mudah terpengaruh dan justru ikut menyerang Kyai Said.

Terlepas ada pandangan keagamaan yg berbeda dgn kalangan Ulama NU yg lain, namun tdk lah pantas selaku generasi muda NU ikut2an arus menyebar caci maki yg dilancarkan oleh kelompok Wahhabi kpd Kyai Said melalui meme dan narasi yg terstruktur dan sistematis penyebarannya di media sosial. Padahal dalam tradisi keilmuan NU, sdh lumrah terdapat perbedaan pendapat Para Ulama, namun ummat tdk berani mempermasalahkan pendapat Ulama yg dianggap tdk sesuai dgn pendapatnya apalagi ikut-ikutan mencaci dan menghina krn perbedaan itu di luar batas keilmuan kaum awam.

Kembali pada masalah Wahhabisasi—yang berpusat di Arab Saudi—untuk membendungnya, Kyai Said mempopulerkan gerakan “Islam Nusantara” yg menjdi antitesa gerakan Wahhabisasi melalui corak keberIslaman yg sdh ada di Nusantara yg dilestarikan oleh NU. Corak keberIslaman NU berpegang pada kaidah:
المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الأصلح
“Merawat tradisi lama yg baik dan mengambil tradisi baru yg lbh baik”.

Islam Nusantara sebagaimana dijelaskan oleh Kyai Said adalah bukan madzhab dan jg bukan produk hukum melainkan khosois (ciri khas/kearifan lokal) muslim di Nusantara yang dilestarikan oleh Ulama NUsantara. Ulama Nusantara mendakwahkan Islam secara substantif bukan sekedar simbolis, yaitu menyerap Intisari ajaran Islam ke sendi-sendi kehidupan masyarakat Nusantara sehingga Islam mudah diterima dan menjadi rahmat bagi masyarakat Nusantara.

Ulama Nusantara sejak dari pendahulunya adalah para Waliyulloh yang berasal dari negeri yg lbh dulu mengenal Islam, yaitu dari negeri Hijaz, Syam, Persia, India, bahkan dari negeri China sehingga memberi corak pada perkembangan Islam di Nusantara.

Islam kagetan ala Wahhabi adalah produk anyaran yg dikembangkan oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab yg muncul untuk mendukung gerakan politik Ibn Saud menguasai tanah Hijaz dari Syarif Husain Dzurriyah Nabi Muhammad SAW.

Sejak Wahhabi menguasai tanah Hijaz—yg didukung penguasa baru yg disokong Inggris—tampil di tengah-tengah ummat Islam seakan-akan paling Islami. Kemudian kerajaan Arab Saudi yg baru berdiri melakukan pembersihan dgn membunuh para Ulama dan Dzurriyah Rasul yg tdk mau mengikuti faham Wahhabi.

Wahhabisasi terus semakin menyebar di tengah-tengah ummat Islam yaitu dgn menyalah-nyalahkan, mensyirikkan, membid’ahkan, bahkan mengkafirkan umat Islam.

Faham Islam puritan Wahhabi tersebut masuk ke Nusantara justru bukan membangun peradaban tp malah memunculkan perpecahan di tengah2 umat Islam. Kelompok Wahhabi faham betul bagaimana mengambil alih corak keberIslaman di Nusantara, yaitu dgn cara menghabisi tradisi apapun bentuknya dgn corak yg mereka impor dari Arab Saudi dgn doktrin “kembali ke sunnah” agar Wahhabisasi dgn mudah diterima masyarakat Nusantara.

Nah utk mengidentifikasi gerakan Wahhabisasi tsb agar mudah dikenali kaum awam, maka Kyai Said mengistilahkannya dgn gerakan Arabisasi. Kyai Said jg mengidentikkan Kelompok pejuang Wahhabisasi itu dgn kaum cingkrang, jenggot panjang, dan lain semacamnya. Itulah cara Kyai Said menghadapi gerakan Wahhabisasi dgn menggunakan istilah-istilah. Sepintas identifikasi oleh Kyai Said itu mendapat kecaman dari internal Nahdliyin sendiri krn kalangan Nahdliyin jg banyak yg berjenggot meskipun tdk panjang dan jg tdk cingkrang. Ada yg sampai ikut-ikutan mencaci maki Kyai Said. Kaum Wahhabi memanfaatkan dgn baik hal tersebut untuk menyerang Kyai Said dan memprovokasi Nahdliyin utk membenci Kyai Said.

Menanggapi banyaknya kalangan Nahdliyin yg salah faham tsb, Kyai Said hanya tersenyum. Bagi beliau, demikian itu adalah resiko perjuangan. Beliau tdk pernah surut menyuarakan kpd generasi muda NU utk tdk diam dan agar melawan gerakan Wahhabisasi yg makin gencar menyerang. Kyai Said jg terus menerus menyerukan pentingnya menjaga tradisi melalui gerakan Islam Nusantara sebagai gerakan dari internal untuk bertahan dari serangan Wahhabisasi.

Apakah gerakan Wahhabisasi dapat menggerus keberIslaman di Nusantara? Apakah gerakan Islam Nusantara dapat dimatikan oleh provokasi Wahhabi? Faktanya corak keberIslaman di Nusantara yg menitik tekankan pada tasamuh, Tawazun, twassuth dan ta’adul tsb justru makin dilirik oleh tokoh-tokoh Umat Islam dari negeri yg berkonflik sebagai role modal dalam menghadirkan Islam yg Rahmatan lil’alamiin.

Wallahu A’lam

Sumber : Status Facebook Fathr Razi

Thursday, June 21, 2018 - 17:45
Kategori Rubrik: