Wagub Rasa Sop Sodara

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Masih ingat Zakir Naik mampir di kantor wapres JK saat dimana kampanye panas pilkada Jkt, dan semua tau saat itu JK adalah pendukung Anies yg tentu juga tidak dukungan kosong, karena Anies tidak ada modal untuk main di kancah sekelas Gubernur Jkt, begitu juga Sudirman Said saat mencoba masuk di Jateng, sayang dia tak sesukses Anies di Jkt. Karena orang Jateng lebih anteng.

Ingatan lain yg jangan lekang adalah saat Anies dinyatakan menang, dia mendatangi Balai Kota dgn menaiki helikopter milik Erwin Aksa dan mendarat diatas Hotel Aryaduta milik James Riady musuhnya Ahok, karena Kemang Village Apartemen adalah miliknya yg akan di gusur Ahok. Kemang Village mendapat izin zaman Fauzi Bowo, dan menempati daerah resapan yg ditengarai menjadi sumber penyebab banjir di wilayah Kemang.

 

 

Kenapa Erwin Aksa muncul menjadi calon wagub DKI, ini bukan tiba-tiba, lihat kebelakang JK ada dimana saat pilgub Jkt sedang berlangsung. Kenapa harus Erwin Aksa, mari kita lihat alurnya.

Pertama, menjadi Gubernur Jkt adalah wilayah basah baik uang maupun politik. Provinsi dgn APBD 70an triliun ini menggiurkan siapa saja yg biasa bermain dikubangan poya-poya uang negara, lihat saja uang reses DPRD yg saat ada Ahok hanya 8m, skrg menjadi 108m. Dan hebatnya pembangunan tak ada tapi APBD bisa depisit 16 triliun.

Kedua, target menghabisi Ahok begitu sudah diubun-ubun kepala khususnya bagi yg terganggu bisnisnya, apakah JK terganggu, kita tidak tau, tapi bisa saja yg terganggu koleganya atau teman bisnis keluarganya sehingga dia begitu nafsu dan terang-terangan menghabisi Ahok, padahal posisinya saat itu adalah wapres yg semestinya mendahulukan kepentingan negara, dan Jakarta adalah ibu kota, tapi bukan JK kalau tidak ada aroma usaha disetiap langkahnya.

Ketiga, ini adalah entry point masuknya Erwin Aksa ke kancah politik sebagai pengusaha muda agar tidak tersingkir dengan munculnya Erick Tohir. Bedanya Erwin dibesarkan dengan kemudahan jabatan JK, sementara Erick adalah pengusaha kelas dunia, dari mulai Klub Bola, Basket, sampai Batubara dia punya
Kita lihat nanti anak-anak muda ini jadi apa setelah kemudahan makin dijauhkan. Yang ulet pasti terbiasa, yg cuma nguntit bisa kencing dicelana.

Terus, bagaimana nasib Jakarta. Yang pasti munculnya Erwin mungkin bisa lebih baik daripada Taufik sang mantan pesakitan yang mulutnya gelepotan, dan Erwin bisa meredakan rebutan jabatan antara PKS dan Gerindra yg tak pernah ada malunya. Lha kok bisa Erwin tiba-tiba ada. Ya bisalah, yg gak bisa itu kalau kepentingan sudah hilang dari urusan kehidupan. Politik itu selalu menggelitik, telur cecak bisa jadi telur itik. Kita sulit membaca apakah itu jalan akal sehat, atau akal-akalan belaka.

Mari kita lihat permainan selanjutnya, tapi yg pasti banjir tidak segera reda, apalagi banjir kepentingan, semuanya selalu bermuara di Jkt. Hanya saja Anies tidak bisa asal tebar pesona karena dia dikawal anak bandar, jangan coba-coba ngebor sendiri 1,8 juta sumur resapan yg bisa menyerap 18 triliun anggaran, bisa celaka dia.

Aha..Jkt memang menggoda, penuh mainan nan mengasyikkan, bahkan agama diperjualbelikan, sayang dijual dengan harga murah karena ustadznya karbitan dari pondok ramadhan. Ke Jakarta aku kan kembali, kalau nanti sudah tak banjir lagi. Semoga JK tak nakal lagi, dan bisa menasihati Anies, jangan cuma mengaku pribumi dan memaksa air masuk keperut bumi, karena banjir bukan semata kaki, melainkan sudah seleher orang dewasa.

Selamat pak JK, selamat Erwin Aksa, semoga kalian bisa kerja, jangan sampai Ahok keluar kerjaan kalian gak kelar-kelar.

Oh..Jakarta...

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Friday, December 14, 2018 - 17:15
Kategori Rubrik: