Wafatnya Mbah Maimoen

Oleh: Saefudin Achmad

 

Saya belum pernah bertemu langsung dengan Mbah Maimoen meskipun sebenarnya sangat ingin menjadi santri beliau. Selama ini saya hanya memandang wajah menyejukkan nan kharismatik beliau lewat foto serta video ceramahnya di youtube. 

Namun entah kenapa, mendengar kabar beliau wafat, tak terasa air mata menetes, hati ini merasa kehilangan. Suasana hati seperti ini pernah saya rasakan sebelumnya yaitu ketika Bapak saya meninggal sekitar tujuh bulan yang lalu. Wafatnya Mbah Maimoun juga yang membuatku jadi teringat bapak.

 

Pertama kali mendengar nama KH. Maimoen Zubair saat saya kecil kira-kira masih usia 5-6 tahun. Beliau adalah Kyai Besar yang pertama kali dikenalkan oleh bapak kepadaku, sebelum mengenalkan Kyai-Kyai besar yang lain. Bapak menjelaskan tentang ke'aliman dan kemuliaam beliau kepadalu. Bapak sangat mengidolakan dan ingin mengikuti 'tindak lampah' beliau.

Saat Mbah Maimoen berjuang di PPP (Partai Persatuan Bangsa), bapak pun turut serta aktif di PPP, semata-mata hanya ingin mengikuti tindak lampah beliau. Bapak tidak pernah tertarik dan apalagi menjadi caleg PPP. Bapak hanya ingin berjuang membantu PPP, semata-mata ingin mengabdi dan mengikuti kemana Mbah Maimoen berjuang.

Sampai kemudian lahir PKB, dimana ada sebagian rang-orang NU yang sebelumnya memilih PPP berpindah ke PKB, bapak tetap keukeuh di PPP. Alasannya simpel, Mbah Maimoen tetap di PPP. Kalau Mbah Maimoen pindah haluan ke PKB, bapak pun ikut ke PKB.

Sikap politik Mbah Maimoen juga diikuti oleh bapak. Ketika Pilpres 2014 Mbah Maimoen mendukung Prabowo, Bapak ikut mendukung Prabowo. Ketika Pilpres 2019 Mbah Maimoen mendukung Jokowi, bapak pun mengatakan mendukung Jokowi (meskipun tidak sempat mencoblos tgl 17 April 2017 karena keburu dipanggil sama yang Maha Kuasa).

Bapak punya prinsip, mengikuti 'tindak lampah' ulama besar seperti Mbah Maimoen pasti akan selamat dan tidak tersesat. Begitu pola pikir sederhana bapak. 

Bapak lebih dulu dipanggil sama yang Maha Kuasa. Jika beliau masih hidup, saya yakin saat beliau akan sangat bersedih mendengar sosok yang dicintainya wafat. Beliau mungkin akan mengajak ibu dan anak-anaknya untuk menggelar tahlilan 7 hari berturut-turut untuk mendoakan Mbah Maimoen.

Saya tidak tahu persis apakah selama hidup bapak pernah bertemu langsung dengan Mbah Maimoen atau tidak. Yang pasti, bapak amat mengidolakan beliau dan menjadikannya panutan dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Saya berharap bapak di saat ini bahagia. Saya berharap bapak bisa bertemu Mbah Maimoen di alam sama. Saya pernah dengar mendengar kisah Nabi yang membuat saya yakin bapak bisa bertemu Mbah Maimoen:

Nabi ditanya, "Wahai Nabi, jika ada orang yang mencintai suatu kaum (yang berbuat kebaikan), namun bagaimana jika ia tak menyerupai mereka (dalam segi amal)?”. 

Nabi menjawab dengan santun, “Orang akan dikumpulkan bersama yang ia cintai, dan kamu juga akan dikumpulkan bersama yang kamu cintai.”

Semoga kecintaan bapak kepada Mbah Maimoen yang amat besar membuatnya bisa berkumpul dengannnya di alam sana. Saya membayangkan bapak sedang berbahagia di sama karena bertemu dengan sosok yang amat dicintai saat di dunia.

Sekarang saya baru benar-benar mengerti mengapa bapak begitu mengidolakan Mbah Maimoen Zubair.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Wednesday, August 7, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: