Wacana Tidak Penting Untuk Umat 212

Ilustrasi

Oleh : Wasil Belian

Kelompok 212 sukses melaksanakan reuni tahun ke-2 di Monas kemarin. Karena memang tujuan para pencetusnya adalah gempita massa, sekali ini diklaim dihadiri 8 juta jiwa.

Klaim bombastis yang bahkan mengalahkan jumlah jemaah haji yang wukuf di Arafah ini memang tujuannya hanya untuk menggertak kubu politik tertentu. Jadi hal seperti ini bisa diduga.

Karenanya, aksi pengerahan massa ini – yang patut diacungi jempol cukup tertib dan damai, akhirnya memang punya orientasi jelas, menjadi kekuatan politik sebagai peringatan untuk pemilihan presiden 2019.

Calon Presiden dari kubu oposisi, Prabowo Subianto, hadir dan menyampaikan pidato. Juga dua tokoh kontroversial yang sebentar lagi menghadapi palu hakim karena kasus ujaran kebencian; Ahmad Dhani dan Bahar Smith.

Beberapa pimpinan yang pernah mengetarkan mimbar 212 di tahun 2016, seperti di tulisan saya sebelumnya “Robohnya Panggung Pengawal Fatwa” malah tak hadir; KH Maruf Amin, Habib Riziek Shihab, Bachtiar Natsir, Zaitun Rasmin, Aa Gym, Arifin Ilham dan sebagainya tak Nampak ujung sorbannya.

Beberapa nama beken seperti Zumi Zola, AbuTour, Jonru, dan lain-lain juga mangkir karena kasus hukum. Hanya terlihat Buni Yani, Amien Rais, Fahri Hamzah, TengkuZul, FadliZon dll yang mendampingi capres andalan nomor dua mereka, Letjen Prabowo Subianto.

Juga tak ada desis dukungan dari kubu barak militer seperti yang konon dihembuskan mantan Panglima TNI Jendral Gatot. Kini sang jendral meniti masa pensiunnya dalam kesendirian. Gagal juga maju sebagai capres atau cawapres.

Apa isi pidato dan gemuruh massa di ajang reuni 212? Tidak ada yang istimewa. Sama saja dengan khotbah jumat di setiap pekan. Yang menjadi pembeda hanya bertalu-talunya teriakan “Ganti Presiden” atau “Prabowo Presidenku”.

Padahal ada banyak sebenarnya wacana-wacana yang layak disampaikan di ajang reuni itu. Ini sekira mereka memang mau memberdayakan potensi suara umat, baik politik ataupun ekonomi.

Itu kalau mereka konon katanya adalah representasi suara hati umat Islam yang mayoritas namun masih terpinggirkan secara ekonomi dan politik. Seperti yang selalu mereka keluhkan.

WACANA PADAT KARYA. Proyek Infrastruktur yang padat modal, bukan padat karya. Kalau umat 212 jeli, tentu bisa mengkritisi maraknya proyek infrastruktur jalan, bandara, pelabuhan, bendungan dan sebagainya yang dibesut Jokowi namun abai mempekerjakan masyarakat secara penuh.

Memang disadari, untuk mempercepat penyelesaian proyek diperlukan modal yang besar. Apalagi kalau targetnya adalah penyelesaian sebelum Pemilu 2019. Namun proyek-proyek megah seperti ini lalai memberdayakan masyarakat banyak yang tentu perlu pekerjaan dengan imbalan yang besar.

Apakah issue penyerapan tenaga kerja itu disampaikan dalam reuni 212 kemarin? Sepertinya tak ada gaungnya.

WACANA KASUS HUKUM NOVEL BASWEDAN. Ini adalah ujian untuk Jokowi sebenarnya. Sudah setahun berlalu namun pelaku kekerasan atas Novel Baswedan seperti raib ditelan berita lain. Padahal, penyidik senior KPK ini adalah ikon pejuang anti korupsi yang paling kentara di mata masyarakat.

Di reuni 212, ada keluarga Novel Baswedan, yakni Gubernur DKI Anies Baswedan yang jelas-jelas naik ke posisi 01 di DKI karena bantuan para pendemo monas. Sayang, di forum besar ini, Anies dan pentolan 212 gagal membawa wacana kasus Novel Baswedan ini meruak ke permukaan.

Kasus Novel Baswedan kalah tenar dari kasus-kasus receh berupa ujaran kebencian oleh Ahmad Dhani dan Bahar Smith. Padahal, kalau digedor-gedor terus akan cukup memojokkan pemerintahan Jokowi.

WACANA INTOLERANSI. Ini wacana yang maju kena mundur kena, seperti makan buah simalakama. Semua tahu reziom Jokowi hanya focus ke proyek infrastruktur. Tapi konon abai pada persoalan konflik horizontal di masyarakat.

Jokowi konon tak begitu memprioritaskan penyelesaian kasus-kasus intoleransi, sehingga anda tak bisa mengharapkan lebih banyak tentang nasib kaum Ahmadiyah, pengungsi muslim Syiah dan sebagainya.

Jokowi dianggap tak mereken kelompok-kelompok minoritas itu karena tak punya efek besar ke Pilpres 2019. Sebaliknya bisa menggerogoti suara di kalangan masyarakat muslim tradisional.

Namun tentu saja kelompok 212 tak bisa diharapkan menggagas wacana intoleransi ini ke muka Jokowi. Karena sebagian besar dari mereka adalah juga pelaku intoleransi itu sendiri. Susah.

WACANA SAWIT RAKSASA dan masalah EKONOMI lainnya. Umat islam, khususnya kelompok 212 ini perlu juga mengangkat kasus-kasus pelebaran hutan sawit yang dikuasai hanya sebagian kelompok orang kaya ini. Pohon sawit jelas bisa membantu penghasilan Negara, namun sayang perkebunan sawit malah mempersempit gerak agrobisnis yang lain.

Teramat sulit mencapai swasembada beras, atau mengurangi impor beras kalau lahan-lahan pertanian dan hutan disulap menjadi lahan sawit yang boros air.

Karenanya umat 212 perlu meng-ultimatum pemerintah agar mengembalikan lahan tersebut menjadi sawah dan lahan yang lebih mampu mememnuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Apakah wacana-wacana itu penting untuk umat? Saya kira iya, karena pengaruhnya sangat meluas. Juga, wacana-wacana ini bisa menjadi bahan dialog yang berkualitas tinggi menghadapi pasangan inkumben yang selalu getol mempertontonkan prestasi proyek infrastrukturnya.

Tapi sayang memang, kualitas oposisi kita hanya kaya oleh persoalan identitas. Issue-issue penistaan agama, anti-Islam, rezim komunis, pro-Aseng, menjadi wacana paling marak yang dikedepankan juru kampanye mereka di podium-podium, juga sosmed.

Jadi mengharapkan wacana-wacana berbobot macam di atas akan seperti merindukan bulan di siang hari yang terik. Di atas Monas pulak.

Anyway, buat teman-teman umat 212 yang sudah selesai ber-reuni, semoga tiba di rumah dengan selamat. Kembali ke keseharian, bergulat dengan hidup. Politik ini receh dan remeh, ngga lebih penting dari bagaimana asap periuk dapur Anda mengebul hari ini dan esok.

Sumber : Status Facebook Wasil Belian

 

Tuesday, December 4, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: