Wacana Sholat Tanpa Wudhu dan Tayamum bagi Petugas Medis yang Menangani Covid-19

Oleh: Saefudin Achmad

 

Pandemi Corona (Covid-19) makin mengganas. Belum ada tanda-tanda pandemi ini akan segera berlalu. Tenaga medis masih berjibaku berperang melawan virus ini. Hebatnya, mereka tak melupakan kewajiban sebagai Hamba Allah SWT. Mereka tetap menjalankan shalat meskipun dalam kondisi perang. Foto-foto tenaga medis shalat memakai APD (Alat Pelindung Diri) lengkap bertebaran dan membuat trenyuh. Saya kira betapa sulitnya melaksanakan shalat dalam kondisi seperti itu.

Bapak Wakil Presiden Ma'ruf Amin nampaknya gelisah melihat betapa susahnya tenaga medis shalat dengan syarat-syarat yang sempurna. Betapa ribetnya harus membuka APD agar bisa berwudhu, lalu memasang lagi. Belum resiko dan bahaya yang mengancam setiap saat. Melepas APD sama saja memberikan peluang lebih besar untuk tertulari covid-19.

 

Beliau lalu meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam membuat fatwa tentang kebolehan orang menunaikan salat tanpa wudu dan tayamum. Itu didasari adanya kondisi petugas medis yang menggunakan alat pelindung diri (APD) selama berjam-jam saat menangani pasien terkait Corona (COVID-19).

"Ketika para petugas medis itu menggunakan alat pelindung diri sehingga pakaiannya itu boleh dibuka sampai 8 jam kemungkinan dia tidak bisa melakukan. Kalau mau salat dia tidak bisa wudu, tidak bisa tayamum, saya mohon ada fatwa misalnya tentang kebolehan orang yang salat tanpa wudu, tanpa tayamum," kata beliau saat konferensi pers seperti disiarkan dalam laman YouTube BNPB, Senin (23/3/2020).

Sebenarnya usulan beliau sudah direspon oleh NU. Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) merilis hasil kajiannya perihal bersuci dan shalat bagi tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19. LBM PBNU menyatakan bahwa tenaga kesehatan di tengah aktivitas penanganan pasien Covid-19 tetap wajib shalat meski tanpa bersuci, yaitu berwudhu dan bertayamum.

LBM PBNU mendasarkan pandangannya pada hadits Imam Bukhari yang meriwayatkan shalat Rasulullah dalam keadaan berhadats (tidak bersuci), "Dari 'Aisyah RA bahwa dia meminjam sebuah kalung dari Asma', lalu kalung itu rusak. Maka Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mencarinya, kemudian waktu shalat tiba, dan akhirnya mereka shalat tanpa berwudhu.” Dalam keadaan darurat, petugas medis yang menggunakan APD dapat menjalankan shalat meskipun dalam keadaan hadats (tidak suci), karena tidak dapat berwudhu atau tayamum, tidak bisa sujud, badan/pakaian terkena najis, dan lain-lain.

Saya pikir sebuah usulan yang cukup penting dan solutif bagi para tenaga medis yang sedang berperang melawan covid-19. Usulan beliau memang cukup sensitif. Orang-orang yang lebih semangat beribadah dibanding mengjkaji ilmu langsung memaki-maki, menuding beliau anti Islam, dan cacian yang lain.

Padahal, wacana shalat tanpa wudhu dan tayamum bukan hal baru di dalam fiqih. Bagi yang pernah ngaji kitab fiqih cukup serius, saya kira tidak akan emosi dengan usulan beliau, apalagi sampai memaki-maki. Yang memaki-maki biasanya memang tidak serius ngaji kitab fiqih secara mendalam. Mereka suka yang simpel dan praktis. Hanya saja, karena ketidaktahuanya, mereka menjadi orang yang ekslusif, akan menolak apapun yang dianggapnya keliru. Tidak lupa maki-maki akan selalu mengiringi.

Dalam fiqih ada istilah "faqidu ath-thohuroin", yang terjemahan bebasnya adalah orang yang tidak memiliki air dan debu untuk bersuci. Maksudnya air untuk berwudhu, dan debu untuk tayamum.

Dalam kitab 'Al-fiqhu Al-Islam Wa Adillatuhu' karya Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, sebuah kitab fiqih kontemporer yang memuat pandangan 4 madzhab, kondisi orang yang masuk kategori "faqidu ath-thohuroin" di antaranya (sebagaimana yang saya pahami):

- Orang yang terkurung di tempat dimana kedua alat untuk bersuci (air dan debu/tanah) tidak ditemui

- Orang yang berada di tempat yang najis dimana debu/tanah tidak ditemukan

-Orang yang hanya mendapati tanah basah, tapi tak mempunyai api untuk mengeringkannya

-Orang yang berada di kapal tapi tidak dapat mengambil air

-Orang yang tidak mampu menggunakan air dan tidak mampu bertayamum misalnya karena sakit dan sebagainya, 

Lalu bagaimana hukum melaksanakan shalat bagi orang yang masuk kategori "faqidu ath-thohuroin"?

Menurut jumhur ulama, orang yang "faqidu ath-thohuroin" wajib mengerjakan shalat dan wajib mengulangi shalatnya. Pendapat ini menurut madzhab Hanafi dan Syafi'i. Sedangkan menurut madzhab Hambali, orang tersebut tidak wajib mengulangi shalat. Pun demikian dengan madzhab Maliki yang berpendapat bahwa shalatnya telah gugur.

Apakah kondisi yang dialami tenaga medis yang berperang melawan covid-19 bisa dikategorikan "faqidu ath-thohuroin" ? Saya kira para ulama di MUI, NU, dan Muhammadiyah harus lebih serius untuk memikirkan persoalan ini. Mereka bisa menunjukkan bahwa fatwa agama bisa berkontribusi positif terhadap perang melawan covid-19. Tidak sekedar di-bahsul masai'il-kan, tapi perlu dijadikan produk hukum dan fatwa resmi agar tenaga medis lebih mudah dalam menjalankan shalat.

Hal ini menjadi fatwa yang sangat penting bagi tenaga medis sekaligus menjadi bukti bahwa fiqih terus berkembang, fleksibel, menyesuaikan perkembangan zaman, serta menjadi solusi bagi problem sosial yang muncul. Kalimat "Al-Islamu Shalihun Likulli Zaman wal Makan" semakin terbukti.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Wednesday, April 1, 2020 - 21:00
Kategori Rubrik: