Wacana Maskapai Asing Masuk Indonesia

ilustrasi
Oleh : Budi Santoso Purwokartiko
 
Usulan Jokowi memperbolehkan maskapai asing masuk dalam.persaingan angkutan udara cukup melegakan. Diharapkan harga tiket bisa turun dan.masyarakat bisa kembali terbang dengan lebih mudah.
Mengapa usulan sesederhana itu harus datang dari seorang presiden? Mengapa menhub tidak melakukannya? 
 
Di situlah kita bisa melihat bahwa Jokowi tidak punya kepentingan apa-apa selain membantu masyarakat. Bayangkan kalau Jokowi punya saham di kelompok Garuda atau Lion,  pasti akan susah mengusulkan maskapai asing masuk. Kepentingannya bisa terganggu. Jadi jelas beda Jokowi dengan pejabat lain.
Orang-orang yang penuh kepentingan pribadi atau kelompok biasanya sepakterjangnya susah dipahami orang awam, alias ruwet. Orang yang jujur berpikir simpel.
 
Apakah perusahaan penerbangan nasional akan terancam? Pasti. Tapi ini ancaman yang bisa dikelola. Sejauh kelompok Garuda dan Lion bisa menjaga proses bisnisnya efisien, mestinya tidak perlu takut. Karena harga yang ditawarkan sudah wajar. Tapi kalau sampai takut bersaing berarti ada apa-apa, berarti harga tiket memang  masih bisa diturunkan. Setidaknya masih ada komponen biaya yang masih bisa ditekan.
 
Maskapai asing pasti juga akan susah payah  menurunkan harga tiket jika kelompok Garuda dan Lion sudah beroperasi secara efisien.
Jadi Jokowi ingin menguji apakah BUMN atau industri domestik sudah benar mengelola perusahaannya. Sebagai contoh apakah Garuda harus mempekerjakan banyak crew di konter check in dan gate mereka. Apakah Garuda membayar terlalu mahal para pramugarinya. Apakah dulu Garuda beli pesawat dengan harga yang terlalu mahal?.Apakah ada ongkos-ongkos siluman yang harus dibayarkan Lion kepada para pejabat dishub sehingga membuat ongkos bisnisnya mahal, dst.
Pertengagan bulan ini saya nyari tiket Singapura-Surabaya mendadak. Harga paling murah dari Jetstar. Lion hampir 2x lipat harga Jetstar. Singapore Air hampir 4x, Garuda hampir 6x. Hanya beda di makan dan hiburan, jelas saya pilih Jetstar.
Apakah pasar penerbangan cukup menarik bagi maskapai asing? Pasti menarik. Negara kepulauan dengan 250 juta penduduk pasti sangat potensial bagi industri penerbangan.
 
Kondisi ini beda dengan  pendidikan tinggi. Ketika pemerintah mengundang kampus asing masuk, banyak PTN maupun PTS teriak karena mutu PTN dan PTS kita rata2 dibawah PT asing. Jelas PTS, terutama, pasti dapat saingan berat. Apalagi PT asing yang boleh masuk disyaratkan rankingnya harus lebih baik dari ITB, UI atau UGM.
 
Dalam industri penerbangan pada dasarnya mutu layanan maskapai domestik tidak kalah. Kekhawatiran yang ada adalah ada kesepakatan harga dari para pemain domestik sehingga harga tiket menjadi mahal.
 
Harapan kita ketika ada penerbangan asing masuk, janganlah mereka justru ikut bergabung untuk bersekongkol meneguhkan harga tiket yang mahal. Kalau itu terjadi gagalah misi Jokowi membantu konsumen. Itu yang harus dicegah. Mereka diundang untuk memperbaiki kompetisi.
Jadi harus lebih banyak maskapai  yang dilibatkan agar benar-benar ada kompetisi.
 
Pemerintah tidak perlu membuat batas atas dan batas bawah harga tiket. Pemerintah cukup membuat aturan mengenai kualitas layanan baik dari sisi keselamatan dan kenyamanan.  Maskapai bebas menentukan harga tiket asal aspek keselamatan dan kenyamanan memenuhi standar. Jadi semakin.murah semakin bagus asal kualitas layanan dipenuhi.
 
Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko
Sunday, June 2, 2019 - 14:15
Kategori Rubrik: