Wacana Baru Pengajian Virtual

ilustrasi

Oleh : Setyo Hajar Dewantoro

Rasanya baru kemarin, Gus Ulil Abshar Abdalla membuka pengajian Ihya` perdana melalui streaming di Facebook pribadinya. Waktu sudah berjalan tiga tahun. Sejak itu pula, alhamdulillah, saya tak pernah ketinggalan mengikuti. Jika kebetulan tak bisa ngaji secara live, saya pasti meng-qadlai melalui YouTube yang langsung di-upload Mbak Admin beberapa jam setelah kajian. Masih teringat respon sinis seorang kawan di awal-awal dulu, "Ngaji Ihya` kok sama tokoh liberal?!"

Ada hal yang amat berkesan selama saya menjadi penyimak setia pengajian Ihya` selama ini. Dan kesan itu semakin memuncak di Ramadhan tahun ini, ketika pengajian Ihya` dibarengi dengan karya al-Ghazali yang lain, al-Munqidz min ad-Dlalāl.

Sebagai santri pesantren yang terbiasa mengaji dengan metode utawi iki iku, mengikuti pengajian Gus Ulil jelas menambah wawasan baru, khususnya mengenai bagaimana cara santri berinteraksi dengan kitab kuning. Gus Ulil menjadi prototipe ideal bagaimana seharusnya santri membaca turats.

Apa peran Gus Ulil dalam membentuk cara pandang santri, minimal saya pribadi, terhadap turats? Saya rumuskan dalam 3 K.

Pertama, kontekstual.

Ini kesan yang sulit dipungkiri dari setiap pengajian Gus Ulil, baik Ihya` maupun Munqidz. Jika anda termasuk santri yang sudah pernah membaca kitab al-Munqidz sebelumnya, kesan kontekstual ini amat sangat terasa. Lihatlah bagaimana ketika Gus Ulil mengajak kita menyaksikan pertarungan ilmiah antara Imam Al-Ghazali dengan para filosof Yunani. Lantas setelah itu, kita digiring menonton pertarungan serupa yang terjadi hari ini, yang berlangsung antara para agamawan dengan saintis yang memiliki kecenderungan atheisme.

Jika dahulu isu-isu teologis yang dibantah al-Ghazali berkisar seputar kebangkitan jasad setelah kematian, pengetahuan Allah terhadap hal partikular, dan kekalnya alam semesta, hari ini pertarungan yang sama terjadi lagi, hanya saja dengan tema yang berbeda.

Gus Ulil mengajak kita mengontekstualkan spirit al-Ghazali untuk merespon isu-isu yang diajukan saintis modern hari ini yang tentunya jauh lebih kompleks. Bagaimana misalnya umat Islam membangun argumen yang logis untuk membantah sebagian unsur dalam teori Evolusi yang tak selaras dengan cara pandang akidah Islam. Atau bagaimana sikap seorang muslim merespon cara pandang sains modern yang cenderung melakukan degradasi terhadap kedudukan manusia (dehumanisasi). Dan masih banyak lagi.

Kedua, kritis.

Sebagai pengagum al-Ghazali, Gus Ulil tak lantas memperlakukan teks-teks al-Ghazali layaknya kitab suci yang haram dikritik. Di banyak tempat, Gus Ulil tak segan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemikiran Hujjatul Islam.

Lihatlah misalnya, ketika dalam al-Munqidz, al-Ghazali melancarkan kritik terhadap para filosof Yunani, dalam hal ketidakmampuan mereka menghadirkan argumen burhani (demonstratif) saat membahas isu-isu ketuhanan. Al-Ghazali menyebut para filosof terjatuh dalam kegagalan bernalar (aghālith).

Gus Ulil mengajukan keberatan: mensyaratkan argumen burhani dalam seluruh isu ketuhanan adalah hal yang nyaris tak bisa dilakukan oleh siapapun, termasuk teolog muslim sendiri. Buktinya, antar sekte umat Islam sendiri kerap terjatuh pada perdebatan sengit.

Masih banyak lagi contoh yang lain. Dalam oret-oretan selama pengajian Ramadhan, saya mencatat sekitar tujuh belas poin Gus Ulil memberi "catatan kaki" atas pemikiran al-Ghazali dengan ungkapan, "Dalam hal ini saya pribadi kurang setuju, meskipun pendapat beliau harus kita hormati."

Ketiga, kaya literatur.

Menyimak pengajian Ihya` dan al-Munqidz, kita serasa dijejali materi perkuliahan berbagai disiplin ilmu: teologi, filsafat, fisika modern, kimia, biologi, geometri hingga astronomi. Saya berulangkali menggeleng-gelengkan kepala, ketika Gus Ulil dengan fasih mengurai teori Barat, sekaligus dengan judul buku dan nama penulisnya. Kalau referensi Arab, tentu tak perlu dibahas lagi.

Santri "kolot" seperti saya mendadak berkenalan dengan nama-nama filosof modern sekelas Habermas, Derrida, dan Focault. Saya juga diajak berkenalan dengan pemikiran saintis modern seperti: Stephen Hawking, Sam Harris, Danniel Dennet, dan Richard Dawkins.

Khusus nama yang terakhir, bukunya The God Delusion langsung saya unduh. Gus Ulil berkali-kali menyebut buku ini dalam pengajiannya. Karena keterbatasan membaca literatur Inggris, saya menelusuri terjemahannya yang berbahasa Arab berjudul Wahmu-l Ilah yang diterjemahkan oleh Bassam al-Baghdadi. Dari kata pengantar penerjemah, saya tahu bahwa ternyata buku ini terlarang di seluruh Jazirah Arab, karena dianggap mempromosikan atheisme.

_____________________________

Tiga poin di atas saya rasa cukup mewakili corak dari setiap pengajian Gus Ulil. Tiga poin itu saya anggap modal utama seorang santri dalam berinteraksi dengan turats yang mereka geluti. Ini sekaligus menjawab kegelisahan mengapa kajian-kajian online kitab kuning jarang diminati para netizen. Selain karena stagnan dengan metode tradisional, yang terjadi hanyalah pembacaan teks yang bersifat pengulangan. Kering kontekstualisasi, minim daya kritis, dan miskin literatur tambahan.

Dengan rumus 3K di atas, Gus Ulil sejatinya hendak memberi warna baru dalam dunia pengajian virtual yang mau tidak mau akan dimasuki dunia pesantren. Melalui cara pembacaan tadi, kitab Ihya' dan Al-Munqid tak lagi menjadi kitab turats yang usang, yang hanya merespon peristiwa zamannya.

Meminjam istilah pemikir kontemporer Maroko Abid al-Jabiri, turats tak hanya relevan buat dirinya (mu'ashiran linafsihi), tapi juga relevan buat pembacanya (mu'ashiran lana).

Singkatnya, Gus Ulil mempraktekkan cara cerdas membaca turats, hingga ia tidak menjadi monumen peradaban yang asing dan membosankan untuk kita konsumsi di zaman ini. Matur nuwun, Gus.

#KuisNgajiIhya
#KesanSantriOnline

Sumber : Status Facebook Fahmi Santri Ahgaff

Thursday, May 28, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: