Wabah dan Kemajuan Jaman

ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti

"Di saat krisis ini, perjuangan krusial terjadi di dalam kemanusiaan itu sendiri. Jika epidemi ini menghasilkan perpecahan yang lebih besar dan ketidakpercayaan di antara manusia, itu akan menjadi kemenangan virus terbesar. Ketika manusia berselisih--virus berlipat ganda. Sebaliknya, jika epidemi menghasilkan kerja sama global yang lebih dekat, itu akan menjadi kemenangan tidak hanya terhadap virus corona, tetapi juga terhadap semua patogen/parasit di masa depan."

Demikian kalimat pamungkas dalam suatu artikel yang ditulis saintis terkenal Yuval Noah Harari tentang korona virus. Ia memulai tulusannya dengan menceritakan wabah-wabah besar yang terjadi dunia. Betapa wabah tersebut telah mematikan puluhan juta manusia.

Harari kemudian membuat catatan tentang perbedaan utama wabah di masa lalu dan satu abad terakhir, saat ilmu pengetahuan telah menciptakan ilmu kesehatan modern. Di masa lalu proporsi kematian terhadap yang selamat jauh lebih besar. Di masa modern, wabah membunuh manusi dalam proporsi yang jauh lebih kecil. Harari menyimpulkan keberhasilan penurunan itu hanya dalam satu kata: informasi. Kemajuan ilmu kedokteran membawa informasi yang signifikan dalam penurunan dampak wabah. Tenaga medis, juga masyarakat paham apa yang harus dilakukan.

Tetapi kita harus tetap waspada karena kita dihadapkan pada masalah permasalahan baru: jaringan transportasi global. Bukan hanya manusia yang sangat mobile, tetapi juga semua patogen, termasuk virus Corona. Dengan cepat suatu wabah tak lagi sekadar epidemi melainkan pandemi, menyebar hingga tempat-tempat terjauh di penjuru bumi.

Harari pun mulai mengulas virus Covid19, diawali dengan keyakinannya pada ilmu pengetahuan. Dalam perang melawan virus, tulisnya, manusia perlu mencaga perbatasan dengan cermat. Perbatasan di sini maksudnya bukanlah semata-semata perbatasan seperti kota, propinsi atau negara, melainkan perbatasan antara dunia manusia dan lingkungan virus.

Satu abad terakhir manusia, dengan ilmu pengetahuan telah berusaha membentengi diri dari lingkungan virus. Manusia menemukan sistem kesehatan yang lebih baik melalui vaksin, antibiotik, lingkungan yang lebih higienis, serta infrastruktur kesehatan yang lebih baik. Ibarat benteng, sistem kesehatan modern adalah temboknya, sedang perawat dan dokter menjadi pengawalnya. Sayang, ada banyak bagian benteng yang bisa ditembus. Krisis kepercayaan penyebabnya. Krisis kepercayaan ini ibarat lubang menganga pada tembok benteng.

Harari mengatakan krisis kepercayaan antar manusia kini sungguh parah. Padahal untuk melawan pandemi, dibutuhkan kepercayaan manusia pada tiga hal. Pertama tentu saja pada pakar sains. Ini saatnya kita percaya pada mereka, pada petunjuk mereka, karena sains terbukti lebih mampu membuat manusia menyelesaikan masalah-masalah kesehatan daripada mitos, takhyul ataupun dogma.

Kedua, otoritas publik, dalam hal ini adalah pemerintah. Kepercayaan pada pemerintah ini yang menjauhkan masyarakat dari panik dan kerusuhan. Memungkinkan ketertiban terselenggara, yang menjadi prasyarat utama agar kebijakan-kebijakan penanganan wabah dapat berjalan baik. Terakhir, kerjasama antar wilayah, antar negara.

Demikian pesan Harari, yang saya garis bawahi sebagai pesan untuk bekerja sama. Wujud kemanusian, tanggung jawab kita pada umat manusia. "Perhaps the most important thing people should realize about such epidemics, is that the spread of the epidemic in any country endangers the entire human species," tulis Harari. Kita pun harus memaknai lagi kata kerja sama, tidak lagi dalam artian sempit, sebatas interaksi fisik dimana kita beramai-ramai saling berbaur di tempat umum. Social distancing, sebagai salah satu cara pemutus rantai penyebaran, adalah bentuk kerja sama juga.

Saya teringat betapa saya terharu melihat foto seorang Romo, pastor Katolik, yang membawa tulisan 'Ada di rumah untuk keselamatan banyak orang'. Ini menjadi penghiburan dan bisa jadi counter terhadap ucapan-ucapan sok relijius tapi menjengkelkan dari orang ngeyel, nekat berkumpul ramai-ramai untuk suatu acara yang sebenarnya dapat ditunda, lalu berkata, "Aku tidak takut mati, hidup mati di tangan Tuhan." Mereka lupa, dalam hidup manusia juga punya tanggung jawab sosial.

Kerja sama saya kira juga termasuk merevisi banyak nilai-nilai yang ada, termasul arti iman, ibadah dan bersosial. Saya kira di sinilah peran rohaniawan dan pemuka agama, sebagai orang-orang yang dipercaya masyarakat. Meredam mereka dari tindakan-tindakan konyol. Agar berlaku apa yang dikatakan Cicero:
"Salus populi suprema lex esto, The health (welfare, good, salvation, felicity) of the people should be the supreme law."

#vkd

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

Wednesday, March 25, 2020 - 12:00
Kategori Rubrik: