Wabah Corona, Isu Elite?

Oleh: Mumu Aloha

 

Ada sementara suara yang mengatakan bahwa wabah Corona yang tengah heboh ini hanyalah isu elit. Buktinya, di jalan-jalan di berbagai kota masih terlihat banyak keramaian. Seolah imbauan untuk "diam di rumah" dan sebisa mungkin menghindari kerumunan tidak menyentuh kalangan bawah. 

Sebenarnya tidak juga. Seorang teman cerita, ia mendapat kabar dari emaknya yang tinggal di desa lereng gunung merbabu di daerah kopeng, bahwa kebaktian di gereja di desanya ditiadakan. Obrolan saya dengan kakak saya sendiri juga memberikan gambaran serupa: kebaktian rutin hari minggu di gereja kecil dekat rumah di kampung kami di pinggiran utara kota solo untuk sementara diganti dengan "live streaming" -- jemaat menyimak dari rumah masing-masing. 

 

Tentu dua cerita itu hanya gambaran kecil saja. Tapi kalau saya konfrontasi dengan situasi di sejumlah grup WA alumni akan tampak kontras dan ironinya, yang mungkin cukup bisa menjelaskan situasinya dalam lingkup yang lebih besar. 

Di grup-grup tersebut, yang mestinya berisi orang-orang terpelajar, berpendidikan, intelek, kelas menengah kota, dan tercerahkan, hal-hal berkaitan dengan virus yang tengah mewabah dan menjadi isu global saat ini tersebut hanyalah menjadi bahan guyonan dalam bentuk meme-meme yang garing dan sama sekali tidak lucu. 

Mungkin selera humor saya buruk. Mungkin saya terlalu khawatir sehingga sulit untuk bercanda. Mungkin secara psikologis saya mulai merasa tertekan karena sudah seminggu ini hanya mengurung diri di rumah dalam suasana perasaan yang makin hari kian bertambah kalut dan waswas. Yang jelas ini menambah kebingungan, dalam komunitas dan masyarakat macam apa sebenarnya kita sekarang berada?

 

(Sumber: Facebook Mumu Aloha)

Sunday, March 22, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: