WA Group Ustadz

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Saya pernah diundang jadi anggota suatu group WA. Yang ngajak salah seorang ustadz kondang. Anggotanya keren, banyak ustadz ngetop di dalamnya.

Awalnya saya kira akan positif, semacam ajang silaturrahmi antar para ustadz. Bahkan saya berharap bisa bikin diskusi ilmiyah, hitung-hitung nambah ilmu.

Sayang seribu sayang, anggotanya makin hari makin banyak, tapi kualitas obrolannya justru semakin menurun. Dan mulai muncul postingan-postingan berbau hoak politik.

Pas momen pemilu, groupnya pecah dua sesuai konstalasi politik yang berkembang. Ada 01 dan 02. Mulai lah group ini jadi tidak sehat. Isinya saban hari cuma gesek-gesekan politik.

Saya pun mulai ambil ancang-ancang. Group ini sudah tidak sehat. Ibarat lagi di jalan tol, kok tiba-tiba di depan ada kerusuhan dan kemacetan, saya pun langsung kasih sein kiri dan keluar dari tol. Saya adalah orang pertama yang keluar dari group.

Dan akhirnya saya dapat info bahwa group itu bubar jalan. Tidak berlanjut karena lebih banyak madharat dari pada manfaat.

Bahkan sekelas group ustadz pun bisa bubar juga. Sebab isi obrolannya pun bisa lebih jorok dari jamban dan septik tank. Sudah bubar bubar bubar.

Silaturrahminya dengan ketemu beneran aja. Kopdar lebih berkesan dari pada ngobrol di WA. Kopdar lebih manusiawi, kita masih pakai etika dan kesantunan. Beda pilihan politik, masih bisa makan semeja sambil bercanda.

Padahal di group WA kita saling maki dengan bahasa kebun binatang ragunan.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Saturday, February 22, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: