Voorijder Bu Risma

ilustrasi
Oleh : Harun Iskandar
(Jangan Sungkan Kalau Mau Teng-Go)
Sabtu malam terjadi longsor di desa Hanjuang, Cimanggung, Sumedang. Jumlah korban sementara sekitar 27 orang. Termasuk Danramil Cimanggung Kapten Setyo Pribadi, dan 2 orang pejabat daerah lainnya. Longsor terjadi 2 kali, sore dan malam. Di longsor yang ke-dua ini, ketiga pejabat itu ikut jadi korban.
Ndak lama sesudah itu, tepatnya Minggu malam, Mensos yang baru Tri Risma Harini, sudah ada disana . . .
Datang di tengah hujan deras, pakai jas hujan, dibonceng sepeda montor polisi. Bu Risma ini sudah berusia 59 taun, juga punya riwayat penyakit asma. Namun tak halangi kecekatan dan kecepatan beliau dalam bertindak. Apalagi cuma hujan, deras atau cuma rintik2.
Cepat, trengginas, tapi ndak grusa-grusu dan 'biyayakan', itu memang 'gaya-kerja' mantan Walikota Surabaya 2 kali ini. Semua terencana dan terukur.
Kok bisa begitu cepat bertindak ? Yang karena beliau punya 'refleks' yang bagus. Hasil dari perenungan, pendalaman, dan pengalaman hidup dan kerja bertahun-tahun. Dilambari jiwa mengabdi, juga hati yang bersih.
Mottonya cuma satu, 'Budhal !'. Berangkat . . .
Semua reflek, mengalir saja. Seperti jika ada hujan, ya mesti payungan. Kalau payung rusak diterpa hujan berangin, ya 'ngiyup', berteduh. Itu hujan air. Kalau hujan kerikil dan batu, cepat lari ambil truk untuk ngangkut. Hujan duit segera siapkan tas krèsèk atau karung . . .
Pejabat lain, andai kalah cepat, keduluan, mesti maklum dengan beliau. Wong Super Woman. Harusnya malah berterima kasih.
Jadi, kalau misal Kepala BNPB dan Bupati Sumedang, yang sama2 bernama depan Doni, kalah cepat datang ke lokasi, ya biasa2 saja. Toh mereka juga masih kalah cepat dibanding pak Setyo, Komandan Koramil, yang akhirnya ikut jadi korban tertimpa longsoran.
Tak perlu marah2 dan malu juga. Langkah cepat Bu Risma justru picu kesadaran bahwa ternyata ada kebijakan yang kurang tepat. Bukan diartikan sebagai, Bu Risma suka dan punya hobby buka borok dan kebodohan lain orang. Kecuali memang merasa punya borok dan memang bodoh.
Seperti Bupati Sumedang yang malah bersikap cepat, segera susun langkah2 strategis tanggap darurat. Di sinkron dan di sinergi-kan dengan Pusat.
Juga putuskan akan lebih teliti beri ijin untuk perumahan yang ada di lokasi di ketinggian. Untuk mencegah dan hindari bencana yang serupa. Tanah longsor . . .
Jadi, kalau ada pejabat satu daerah, beserta perangkatnya 'nyap-nyap' akibat langkah Bu Risma, diduga mesti memang punya borok, dan penyakit. Jangan2 juga memang bodoh. Jangan2 . . .
Santai saja, Pak . . .
Seperti yang Bu Risma katakan pada pegawai ASN Departemen Sosial. Santai saja. Ndak perlu rikuh kalau beliau datang lebih pagi dan pulang lebih larut.
Bukan sebab apa2. Cuma kebiasaan. Refleks. ''Asal sampeyan ndak datang terlambat, itu sudah cukup" tambah Bu Risma. Setelah jam kerja usai, langsung pulang, juga oke. Istilahnya boleh 'Teng-Go'.
Jika bel tanda usai waktu kerja berbunyi, 'Teng !', semua sudah boleh 'Go'. Pulang . . .
Untuk Voorijder mungkin juga akan ada aturan baru. Bu Risma sering tertinggal di belakang. Karena ketika Voorijder enak2 melenggang di depan cari jalan, tiba2 Bu Risma belok atau berhenti. Karena ada yang menarik atau butuh perhatian.
'Nanti voorijder di belakang saya saja'. Kata beliau. Santai saja . . .
Bu Risma bukan pula type pamong yang bertindak sekedar respon. Seperti Batman yang baru bergerak jika di tembok menara muncul gambar sorot lambang Batman, kelelawar. Tanda ada warga yang minta bantuan.
Ndak. Respon mesti, tapi juga antisipasi, susun program dan lakukan. Seperti tindakannya sambangi KPK. Beliau butuh dukungan pengawasan.
Oleh KPK, Beliau diminta segera benahi data kependudukan. Agar bansos lebih tepat sasaran. Dan sebenarnya, memang seluruh Departemen mesti punya itu program. Khusus untuk Bu Risma, di Surabaya telah beliau kerjakan dan buktikan.
Pencitraan ? Tentu saja. Ini politik. Emak-emak dibawah sadar selalu butuh itu.
Tapi jangan lupa juga. Bagi Menteri Sosial yang satu ini, Tri Rismaharini, semua serba reflek. Termasuk 'pencitraan'. Seakan ndak direncanakan.
Nurut beliau, Citra muncul karena ada Karya. Bau wangi selalu muncul dari botol yang berisi minyak wangi, bukan air comberan . . .
Bangsa Kucing, kalau besar dan gagah, kuasai hutan, mesti disebut Macan. Kalau kecil, suka bikin tikus takut masuk rumah, namanya ya Kucing. Orang paham, ndak mungkin nyebut kebalik-balik. Kucing disebut Macan. Macan pun keliru dipanggil sebagai kucing . . .
Jadi . . .
Pray for Sumedang. Semoga tetap mampu tegak, tabah, dan semangat.
Pray for Bu Risma. Tetap semangat, tetap trengginas, dan tetap sehat.
Budhal ! Berangkaaaaat . . . !
Sumber : Status Facebook Harun Iskandar
Wednesday, January 13, 2021 - 08:30
Kategori Rubrik: