Vonis yang Tepat Untuk Buni Yani

Ilustrasi

Oleh : Saiful Huda Ems

Buni Yani itu orang yang memantik kerusuhan dan kegaduhan di negeri ini, dosanya sangat besar sekali. Seorang muslim yang baik akan lebih mengutamakan maslakhat daripada mudharat, mencegah kegaduhan dan kerusuhan jauh lebih baik dan harusnya lebih diutamakan daripada melawan kemungkaran yang resikonya bisa berdampak besar bagi banyak orang. Terlebih kasus penistaan agama oleh Ahok sangatlah debatable. Bahkan yang sangat mungkin terjadi Ahok tidaklah bersalah apa-apa dengan ucapannya yang dipersoalkan, mengingat yang dilecehkan Ahok bukanlah Al-Qur'an, bukan pula ulama terlebih Islam. Jikapun ada yang dilecehkannya itu adalah orang-orang yang gemar mempolitisasi agama dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai justifikasi atau pembenaran dari tipu muslihatnya.

Oleh karena Buni Yani lebih memilih menuruti hawa nafsunya yang ingin membuat gaduh suasana kebangsaan dan keagamaan daripada menghindarinya, maka sudah sepantasnya Buni Yani dihukum sesuai dengan dampak persoalan yang ditimbulkan dari perbuatannya. Pikirkan akibat dari apa yang telah diperbuat oleh Buni Yani, kerukunan beragama di negeri ini menjadi hal yang teramat langkah lagi. Para pemeluk agama sekarang menjadi sangat sensitif dan mudah terpancing amarahnya. Banyak orang yang tak lagi menghargai perbedaan, bahkan yang terjadi adalah saling memperolok satu sama lain, dan demonstrasi terus menerus terjadi dimana-mana yang sangat melukai rasa kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa yang besar dan terdiri dari berbagaimacam keaneka ragaman agama, budaya, suku dan adat istiadatnya yang dahulu sangat dikagumi dunia.

Bangsa ini harus belajar dari peristiwa memilukan ini, dan umat Islam khususnya haruslah lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi prilaku umat lainnya yang dirasa tidak sesuai dengan tuntunan agamanya. Masih banyak cara yang bisa dilakukan oleh umat Islam untuk mengingatkan seseorang yang dianggap berbuat salah, sebab umat Islam sendiri juga tidak bisa menutup mata bahwa umat Islampun kadang berbuat salah yang menyinggung perasaan umat beragama yang lainnya. Dan memang demikianlah watak sesungguhnya dari manusia itu sebagai makhluk yang rentan salah dan lupa. "Al-insanu mahallul khata' wa an-nisyan"... Manusia tempatnya salah dan lupa. Semoga kedepan bangsa ini semakin rukun dan damai hingga kita menjadi bangsa yang diridhai dan dirakhmati Tuhan dengan kemakmuran dan kesejahteraan...(SHE).

Bandung, 10 November 2017.

Sumber : Status Facebook Saiful Huda Ems

Saturday, November 11, 2017 - 19:30
Kategori Rubrik: